Tampilkan postingan dengan label ruang impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ruang impian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2020

Upacara Dengan Pak Menteri di Perayaan Hari Guru Nasional

Tidak pernah menyangka bahwa pernah suatu saat saya berkesempatan mengikuti upacara Hari Guru Nasional dengan Pak Menteri di Gedung Kementrian Pendidikan. Nun jauh di ibukota sana. Semacam sebuah kesempatan dengan probabilitas sebesar nol koma nol nol sekian. Menurut perhitungan saya.


Tiga tahun yang lalu, pada bulan November tahun 2017 saya mendapat kesempatan langka tersebut. Wes ya pastinya dredege pool. Walaupun saya aslinya waktu itu cuma jadi salah satu peserta yang nyempil di deretan kursi undangan dengan terbengong-bengong. Gaya sih boleh. Pakai jas setelan hitam. Tapi yakin banget saya waktu itu pasti keliatan ndeso katrok banget. Hehe.

Gara Gara Literasi

Jadi begini ceritanya, tahun 2017 itu ada event lomba namanya Inovasi Pendidikan Karakter jenjang Sekolah Menengah Atas. Nah, saya itu aslinya cuma dipaksa ikut. Wong sehari-hari saya itu habis mengajar paling ya momong anak-anak di rumah dengan sesekali arisan, pengajian atau tilikan. 

Cuma mungkin karena saya terlihat yang suka membaca dan suka nguyak uyak murid di kelas untuk suka baca, maka Ibu Kepala sekolah saya waktu itu, Bu Endang Sunarsih, terus menyuruh saya menulis tentang program literasi di sekolah. Ternyata untuk diikutkan lomba.

Saya pikir bolehlah. Pokoknya untuk segala upaya yang membuat anak jadi suka membaca itu saya bangeeet. Terus dibantu Bu Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru lain, muncullah program Laskar Aksara di sekolah kami. Program yang mungkin dipandang agak beda, karena di program itu ada kegiatan yang namanya ‘Tukarkan Sampah Jadi Buku’. Jadi tiap kelas mengelola dan memilah sampah, terutama sampah plastik dan kertas. Kemudian di setor ke Bank sampah sekolahan trus jika saldonya sudah mencukupi, bisa ditukar dengan buku bacaan untuk pojok baca kelas. 


Tapi program Bank Sampah itu sudah mandeg sekarang. Selain karena pandemi, susah sekali mendapat tenaga relawan di sekolah yang berkomitmen terus mau mengurus dan memilah sampah. Ya wajarlah. Diupayakan serapi apapun memilahnya, itu tetap sampah namanya. Mungkin ini juga faktor yang membuat beberapa Bank Sampah tidak lagi berjalan lancar.

Untuk program literasinya sih tetap kami jalankan. Untuk membuat anak suka membaca itu bagaikan ‘a never ending journey’. Harus terus diupayakan terus menerus. Tidak ada berhentinya.

Rejeki Tak Terduga di Ibu Kota

Rasane koyo ketiban pulung. Keberuntungan besar. tak disangka – sangka, program ‘Sampah ditukar Buku’  itu terus masuk seratus besar nasional. Dan Alhamdulillah terus tembus sebagai finalis untuk presentasi di Jakarta. Lha disinilah mulai kendredegannya. Saya tahunya dulu cuma disuruh menuliskan. Bukan mempresentasikan. Apalagi presentasinya di event nasional.

Weeew rasanya mau saya wakilkan ke orang lain saja. Tapi kok yo eman – eman tiket pesawat’e gratis ke Jakarta. Haha.. numpak montor mabur gaiss.. ya pasti saya jadi nekat brangkaat. Wong yo waktu itu saya belum pernah sekalipun pergi jauh naik pesawat. Katrok banget kan.

Saking groginya mau numpak montor mabur itulah saya jadi lupa bawa jilidan laporan kegiatan saya. Yang saya siapkan cuma softcopynya saja. Hadeeh.parah. Jadinya pagi banget pas mau presentasi saya minta tolong ke resepsionis Hotel Diradja Jaksel untuk mengeprintkan laporan saya. Masnya resepsionis sudah memperingatkan, nanti habis banyak lho buk, ngeprint di sini agak mahal. Tapi ya sudahlah, saya bayar itu print print-an. Daripada nanti malu pas ditanya para jurinya.

Masalah berikutnya adalah memfotokopi dan menjilidkannya. Untung hari itu Jum’at, ada jeda sholat Jum’atan. Saya pas makan siang kebetulan ketemu Ibu Apon dari NTT yang juga lupa belum memfotokopi dan njilid laporannya. Nah trus kita akhirnya nekat nyebrang jalan raya depan hotel yang rameenya ngadubilah. Maklum jalanan Jakarta gaiiss. 

Daan ternyata fotokopian dekat hotel pada tutup! Ya iyalah kan pada sholat Jum’at. Memang katrok dan ndredeg itu kadang memakan habis akal sehat.hehe. Untung wantu itu ada orang di pinggir jalan mbantu nyetop bajaj, nyuruh ke fotokopian yang agak jauh dikit yang buka saat Jum’atan. Sebab yang nunggu memang mbak – mbak :)

Ya begitulah, tidak hanya tiket pesawat, saya akhirnya dapat bonus naik bajaj pula. Di kota saya tidak ada bajaj. Bisa buat cerita nih sensasi oglak uglik saat jalan. Presentasi Alhamdulillah berjalan cukup lancar. Tidak sampai semaput karena ndredeg.

Akhirnya acara tiga hari itu selesai. Mulai tanggal 24  sampai 26 November 2017. Rupanya ada satu kejutan. Seluruh finalis lomba karakter bangsa waktu itu diundang semua ke upacara hari guru. Katanya dulu-dulu yang bisa dapat undangan itu bagi yang juara – juara saja. Ini semua yang masuk finalis boleh ikutan. 

Alasannya sesuai tema hari guru waktu itu : ‘ Membangun Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Guru.’ Apalagi finalis ini juga sudah mewakili guru-guru se Indonesia, karena berasal dari berbagai pulau dan kota dari wilayah Timur sampai Barat. Memang hari guru itu pasnya tanggal 25 November tapi upacara perayaan nasional besarnya biasanya beberapa hari sesudahnya.

Berita itu tidak disampaikan sejak awal. Malam menjelang itu baru diberitahu, Besok seluruh finalis harus bangun dan bersiap pagi banget. Sarapan siap mulai jam 5. Segera masuk bis setelah selesai sarapan.” Ini Jakarta, meskipun jarak hotel dengan gedung Kemendikbud itu tidak sejauh sekolahan saya ke rumah simbah di ndeso. Tapiii..kata panitia, kalau kesiangan dikit saja Jakarta itu macet ya Bapak Ibuu. Nanti bisa gagal ikut upacara dengan Pak Menteri Pendidikan, Bapak Muhajir waktu itu.

Upacara dengan Pak Menteri

Weh, ini bukan upacara yang seperti biasanya di halaman sekolah itu. Ini upacara dengan Pak Menteri. Orang yang biasanya hanya kita lihat di tipi-tipi. Sepesial!

Nyampai di gedung Kemendikbud yang di antara kawasan gedung perkantoran bertingkat membuat saya terpesona. Ndomblong. Yungalah kantor tik guedii men. Ini kantor penting banget lho, ngurusi kepinteran anak-anak seIndonesia. Ck ck ck jadi berasa sangat merinding saya. Maka yang pertama kami lakukan adalah: poto – poto. Hehe..mumpung pak Menteri belum rawuh.

Paduan suara di bagian sisi kanan depan lapangan berlatih gladi bersih beberapa lagu nasional sambil cek sound. Bersemangat menyanyikan:
‘Pagiku cerahku. Matahari bersinar.
 Kugendong tas merahku di pundak. 
Selamat pagi semua. 
Kunantikan dirimu.
Di depan kelasmu. Menantikan kami. 
Guruku tersayaaang..guru tercintaaa..’
Lagu itu makin terasa grande dengan iringan ensambel musik dari siswa – siswa terpilih. 


Saya memang sangat jatuh cinta dengan lagu karya Melly Goeslaw ini.Bukan karena saya guru, trus ada kata sayang sayangnya di lagu itu. Bukan hanya itu. Lagu itu bagi saya spesial karena perasaan ceria dan senang itulah yang saya inginkan muncul di setiap anak saat mereka melangkahkan kaki di pintu gerbang sekolahan. Sekolah itu menyenangkan.  Belajar sama bu guru itu membahagiakan. Bonusnya ilmu, untuk kemajuan mereka sendiri agar menjadi bintang – bintang bagi papa mamanya di masa depan.

Eh, sudah dulu soal lagunya ya. Pak Menteri sudah mau pidato. Siaaaap grak! Pembina upacara memasuki lapangan upacara. Hormaaat grak!

Percayalah saya hormatnya setakzim mungkin, berasa Pak Menteri ada di depan saya. Walaupun saya sebenarnya sadar, Pak Menteri yang terhormat itu bahkan tidak akan menyadari kehadiran saya. Guru ndeso yang katrok, kebejan nyempil diantara tamu undangan. Tapi ini upacara yang sering ada di tipi – tipi nasional. Siapa tahu saya keshoting. Hihi
 
Selanjutnya upacara berjalan seperti layaknya jalan upacara biasanya.Tapi tetap saja, meskipun saya tidak diumumkan jadi juara. Upacara ini akan terus saya kenang sebagai salah satu upacara teristimewa. Satu yang kemudian saya sangat percaya , Allah itu kalau mau memberi rejeki ada saja jalannya. Bahkan bisa tak terduga. Hitungan Dia kadang berbeda dengan hitung-hitungan cara nalar kita yang sangat terbatas.

Dulu saya yang guru biasa saja, kadang pernah komat kamit di depan tipi, sekali-kali pengen juga ya upacara bareng orang penting di kota besar gitu. Lha kok hari itu bisa kelakon. Terwujud. Itu jauh dari hitung-hitungan saya. Maka hati –hati dengan ucapanmu. Siapa tahu itu yang akan diwujudkan oleh yang Maha Mengabulkan Keinginan.

Akhir cerita, Selamat hari guru semuanyaa. 
 
Setiap kita sebenarnya adalah guru, jadi guru yang terutama dan pertama untuk anak –anak kita. Doa yang terbaik untuk guru – guru kita. Dan Mari kita impikan bahwa setiap anak Indonesia bisa berkesempatan belajar dengan riang bahagia. Seperti di lagunya Melly yang ditampilkan di upacara bersama Pak Menteri waktu itu.





Sabtu, 11 Januari 2020

Menghabiskan Hari di SALOKA Theme Park dan Kampung Rawa Tuntang

Dream Vacation.
Wisata Jateng di Area Tuntang.

Wah, tahu-tahu liburan sekolah sudah mau habis. Hari liburan terakhir telah kami rencanakan untuk di habiskan di Saloka dan Kampung Rawa. Save the best for the last. Yang terseru pokoknya untuk mengakhiri liburan.

Bagi anak-anak kami, wahana taman bermain seperti Saloka ini mungkin di anggap yang paling menyenangkan. Maklum, kami tinggal di kota pinggiran yang tidak ada taman bermain sebesar ini. 

Taman bermain Saloka ini letaknya di kota Tuntang. Semarang. tapi pinggiran sih. Dekat dengan kota Salatiga. 
Cuma di pinggir bis jalur arah Semarang - Solo. Dekat dengan danau Rawa Pening yang legendaris itu. Dekat pula dengan objek wisata kekinian seperti Eling Bening, Lembah Sumilir, Kampung Kopi Banaran dan Cimory. 

Bianglala Jumbo

“Waaahh... bianglala ne gede banget. Bedo karo sing nang pasar malem kae!” seru anak-anak dengan katroknya. Menunjuk-nunjuk bianglala besar yang menjadi ikon taman bemain yang katanya terbesar di Jawa Tengah ini. Langsung terlihat megah begitu masuk pintu gerbang cek tiket Saloka. Pengecekan tiket sudah modern, tinggal di tuut, tidak lagi di sobek-sobeek. Lagi-lagi anak – anak rodo ndomblong.
Tiketnya di tuut dulu yaa deek, baru boleh masuk
Ehehe maafkan ya le,nduk tidak bisa sering-sering ajak jalan-jalan ke taman bermain yang besar. Acara ke Saloka ini pun merupakan kegiatan family gathering 2019 dari tempat kerja bapaknya anak-anak. Alhamdulillah gratisan.

Tiketnya terusan sebesar Rp.150.00 per orang. Sebenarnya tidak terlalu mahal juga sih, mengingat nanti di dalamnya kita bisa mengeksplore semua wahana sepuasnya. Tanpa dipungut biaya lagi. Makanya family gathering ini kemudian dipusatkan seharian di Saloka ini saja. Biar semua puas bermain.
Tuh wawa..lihat pemandangannya. si kakak sambil momong boneka kesayangannya.
Bianglala dari kejauhan
Waktu itu kami datang pas jam sepuluhan, pas baru buka. Jadi tidak antri banget di tiap wahana. Beruntung , langsung bisa cepet ngantri di bianglala iconic ini. Pemandangan dari atas manteep, lembah, pegunungan, dan tentu saja rawa yang legendaris itu. Puterannya tidak terlalu cepat jadi bisa nyaman menikmati pemandangan. Walapun agak ngeri-ngeri sedap, karena saya itu termasuk orang yang takut ketinggian.

Hunting Dino di Lumbung Ilmu Galileo

Spot berikutnya yang kita eksplore adalah area Galileo. Welah, gek apa asyiknya ke gedung ilmu pengetahuan di tengah taman bermain? 

Saya awalnya berpikir paling juga garing disitu. Eh , ternyata anak-anak suka. Aaarrrhhh... Arrrgghhh...kepala dino meliuk liuk menyambut di atas pintu masuk. Kaget ! tapi seneng. 

Ada fosil dino tiruan di tanah penggalian, ada juga tulang dino yang disusun cukup tinggi. Walaupun bukan tulang dino asli, bungsu kami sudah cukup terkesima. Dari kecil dia paling suka dibacakan buku segala tentang dinosaurus. Bukan buku cerita , tapi ensliklopedi dino. Suka banget si thole membaca ukuran tubuh dino, apa makanannya, atau cara hidupnya.
Abyan & his Dino Dream
Ehmm seperti ini yaa fosil Dino itu

Padahal , aslinya dia itu penakut dengan suara keras. Maka setiap kali si dino ber arrgh arrghh, si thole akan menciut nyalinya, ngumpet di balik baju bapaknya. Mengintip sedikit-dikit, tapi tak juga mau beranjak pergi. Takut tapi pengen tahu.

Selain dinosaurus, ada juga diorama tentang jaman es, lengkap dengan mammothnya. Serasa di film Ice Age. Si kakak betah mengamati fun facts yang dituliskan menarik di dinding-dinding. Ada juga yang dituliskan di kotak-kotak kubus sambil bisa diputar-putarkan.
Begini nih cara kerja katrol
Ada juga percobaan sederhana teori dinamika dengan katrol. Langsung bisa di praktekkan, naik turun menggunakan katrol. Mengamati meteor warna-warni dan berbagai planet dengan teropong. Bermain bayangan di ruangan kecil berisi banyak kaca besar. Bisa juga asik menginjak-injak tuts piano besar di lantai. Yang akan berbunyi kalau di injak. Do..re..mi..fa..sol..la .. si doo

Benar seperti quotes besar di lorong masuk wahana galileo ini.. belajar ilmu pengetahuan itu paling asik dengan merasakan pengalaman langsung. 
"The only source of knowledge is Experience" - Albert Einstein.

Mengamati berbagai burung di Ecowisata Angon-Angon

Selain puluhan wahana permainan menarik, di Saloka juga ada area berkenalan dengan hewan. Tidak seluas kebun binatang sih, tapi cukup menarik untuk di eksplore dengan si kecil. Beberapa hewan seperti kuda, sapi, ikan, dan berbagai burung menarik perhatian si kecil kami.

Untuk area burung, adalah berupa dome besar dengan sungai kecil buatan untuk angsa. Letaknya tidak jauh dari bianglala raksasa tadi. Tidak sipungut bayaran jika keluarga anda ingin berfoto dengan burung. Cukup antri teratur dan minta tolong pada seorang pawang yang sangat ramah dan helpful.
Jangan lupakan pohon yang bisa bicara di dekat wahana binatang tersebut. Tentu saja bukan pohon asli ya. Di depan pohon itu ada semacam mikropon untuk menyuarakan kata-kata anda, nanti akan ada balasan suara dari pohon tersebut. Ki wesi waringin, begitu pohon itu dinamai.

Untuk ke depannya, Saloka juga akan mengembangkan area flora untuk mengamati berbagai tanaman. Sekarang sudah ada, tapi masih kurang banyak koleksi tanamannya. Menikmati tanaman sambil bisa meminjam skuter listrik. Namanya area Agrowisata Ijo Royo-Royo.

Gonjang Ganjing Favorit Kami

Sebelumnya, kami sudah mencoba perahu jamur, tapi anak-anak jadi agak bosan. Alur airnya terlalu tenang. Saya dan bapaknya anak-anak suka saja sebenarnya. Tenang mengikuti arus sungai, sambil melihat-lihat tanaman hijau dan taman bunga di pinggiran jalur.

Saya melihat beberapa oma dan opa bisa menikmati perjalanan perahu jamur ini, menemani cucu-cucu mereka. Bisa sambil ngobrol-ngobrol juga. 

https://www.youtube.com/watch goa rong

Tarik nafas dalam-dalam. Rilex.
Tak usah ambil langkah buru-buru. Explore the nature!



Rabu, 21 Agustus 2019

Menulis Cerpen Tema Hijrah : BUKAN TAMU BIASA

Ini cerita tentang tamu istimewa yang bukan sekedar tamu biasa.


BUKAN TAMU BIASA

“Pak , cepet ada tamu.” Pagi itu bersemangat kami, berempat dengan anak-anak menyambut tamu. Bersegera memberesi beberapa mainan yang tercecer di ruang tamu. Menata bantal kursi yang agak menceng. Merapikan bunga plastik hiasan diatas meja. Senyum-senyum, kami semua refleks berjajar di sekitar pintu. Kalau dipikir pikir posisi kami saat itu mungkin kurang lebih seperti para petugas among tamu di hajatan manten.

“Monggo pak, silakan masuk.” Ternyata, tamu itu adalah seorang bapak-bapak petugas TV kabel menanyakan mengenai pemasangan sambungan baru. 

Lebay! Memang... tapi njenengan tak tahu sih betapa kami menantikan momen ini. Kedatangan seorang tamu di rumah kami sendiri. Yang mencari KAMI, bukan orang tua kami atau mertua kami. Bagi kami itu impian. Bagi kami itu sepenting pengucapan Proklamasi kemerdekaan di tanggal tujuhbelas Agutus.

Asal tahu saja - tidak sedikit waktu yang kami habiskan untuk memimpikan tamu yang mendatangi rumah milik kami sendiri seperti itu.

Resah. Terkadang hopeless. Akui saja perasaan itu bisa saja sering muncul saat kita terlalu lama mendekam di Pondok Mertua Indah. Tidak , bukannya saya mengeluh. Tapi saya rasa memang kodrat manusia, kalau sudah menikah inginnya segera mandiri. Punya rumah sendiri. Terpisah dari orang tua atau mertua. Terus kalau memang belum bisa bagaimana?  Lha ya itu, resah gelisah melanda.

Tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu bisa dikatakan keluarga kecil kami nomaden. Berpindah pindah antara rumah mertua dan rumah orang tua saya yang hanya berjarak setengan jam perjalanan. Kartu KK masih beralamat di orang tua saya, tetapi sehari-hari lebih banyak tinggal di desa mertua.

Bukannya kami tidak berusaha, tapi maaf perumahan yang instan bukan impian kami. Keluarga kami memimpikan rumah dengan halaman luas dan empang ikan di kebun belakang rumah. O, ya.. kalau bisa lokasinya juga cukup sepuluhan langkah masjid.

“ Pantesan tidak segera dapat rumah sendiri, aneh – aneh kemauannya.” Beberapa suara mengingatkan. “Beli tanah, apalagi yang agak luas, mbangun rumah sendiri itu biayanya mahal, - banget!” 

Terpengaruh? Jujur , iya! Kadang maunya realistis dengan kondisi keuangan kami yang tidak berlebih. Tidak miskin sih, pendapatan kami masih cukuplah untuk sekedar nyicil sepeda motor, makan cukup enak sehari tiga kali, dengan sesekali jalan – jalan ke tempat wisata.

Tapi yang membuat keder, harga tanah memang makin melejit, apalagi harga semen, pasir dan besi waktu itu sedang meroket tinggi. Menabung sulit, berhutang banyak – takut tak mampu mengangsur. Hopeless..rasanya mau putus harapan saja.

“Kenapa harus berhenti bermimpi, lha wong Gusti Alloh saja membolehkan kita meminta surganya. Apalagi kalau CUMA meminta rumah dengan halaman luas, ada empang di kebun belakang dan dekat dengan masjid.” Jleb! Inbox seorang teman, dulu sekelas saat SMA,  membuat saya terbangun.

Terlalu galau, resah, dan merasa tak berdaya telah membuat kami lupa meminta. Menafikan bahwa ada Allah yang siap memberi. Sembari menata keuangan, kami merasa lebih bersungguh-sungguh meminta. ‘Lahaula walaquata illa billah’ memangnya apa daya manusia – dan benarlah tidak ada daya upaya selain dari Allah. 

Impian dimulai

Kemudian impian itu mulai menjadi perjuangan. Setelahnya, setiap ada berlebih pendapatan, kami upayakan mencicil beli satu dua pohon hidup yang dijual tetangga atau saudara. Setelah menunggu beberapa bulan ada sedikit tabungan, tertebanglah pohon itu.

Jangan dibayangkan langsung jadi inep pintu, kusen atau usuk reng untuk atap. Kami harus menunggu setahun dua tahun kedepan untuk menyewa tukang kayu dan mengolahnya.

“Tak apa, buk. Kayunya bisa direndam dulu. Kata orang tua jaman dulu. Kayu tebangan yang direndam nanti akan jadi bahan bangunan yang lebih kuat,” bapaknya anak-anak mencoba menghapus aura negatif dari mulutku yang masih sering mecucu, cemberut, tak sabar menunggu rumah baru. 
Impian berproses

Sungguh, saya kadang berharap dongeng itu nyata ada. Tiba-tiba menemukan lampu ajaib di balik kolong tempat tidur tua milik ibuk mertua, yang saat saya terbangun tidur nanti, paman Jin sudah selesai membangunkan sebuah rumah baru yang megah lengkap dengan isinya. Plus mobil, yaa paling tidak avansyah atau agiah lah, tertata di garasi. Tanpa mikir hutang!

Ah, sudahlah. Mana ada yang seperti itu di dunia nyata. Lagipula saya tidak yakin apa bisa untuk TIDAK lari terbirit-birit ketakutan bila memang benar ada Jin super ganteng wuzzz.. keluar dari sebuah lampu. Tepat di depan mata kepala saya. Sedangkan melihat bayangan pohon kelapa di kegelapan saja saya langsung menjerit, mengira itu gendruwo sedang mengintip.

Realitisnya adalah kami harus merelakan THR tahun depannya untuk membeli sekedar beberapa truk batu hitam. Memberi DP pembuatan bata dan genteng saat beberapa bulan kemudian  mendapat uang berlebih dari arisan RT.

Lamaaa dan ada perjalanan berliku seperti itulah untuk kami kemudian bisa berhasil mendapatkan rumah baru. Yang ajaibnya, tiba-tiba saja kami mendapat penawaran yang cukup memudahkan kami untuk mendapatkan tanah yang leluasa dengan lokasi yang cukup strategis. Dan hanya berjarak tiga rumah dari masjid!

Sungguh, saya kemudian dibuat percaya akan kekuatan impian, doa permintaan tulus , mencicil berusaha sebisa kita, - dan biarlah Allah yang mengurus sisanya!

Pindah jangan sekedar fisik

Begitulah.Sekarang panjenengan semua bisa mengerti kan mengapa kedatangan tamu pagi itu bisa membuat kami jadi setengah alay dan begitu excited. Pindah ke rumah baru adalah impian kami bertahun-tahun. Dan setelah beberapa hari menempati rumah baru, kedatangan tamu adalah seperti pengakuan legitimasi akan keberadaan kami di rumah istimewa milik kami sendiri ini.

Menjelang matahari memanjat ke puncak, datanglah tamu berikutnya. Kali ini ibuk-ibuk tua penjaja bantal dan guling.

“Ini bantal dan gulingnya dari kapuk randu asli lho bu.  Bu Jayus dari desa sebelah itu, sudah sering beli dari saya. Kasurnya yang lama juga belum lama ini saya rombak biar tidak kempes lebih mentul-mentul, ” katanya nyerocos, sesaat setelah menurunkan dagangannya di dalam rumah.

Begitu menyebut referensi nama seorang saudara, saya segera nyambung kalau beliau ini pasti dari desa sekitaran kami saja. Sekitar seperempat jam perjalanan sepeda motor dari rumah saya yang baru.

Wau, nitih nopo buk?” tanya saya basa-basi, sambil mengkode si genduk mengambilkan sekedar air putih buat si ibuk.

Sambil menyeruput air, beliau kemudian menjelaskan kalau tadi bareng ponakannya naik sepeda motor sampai gang depan. Katanya mengantar pesanan seseorang di sekitaran sini. Karena mendengar bahwa kami baru saja menempati rumah baru di dekat arah yang dia tuju maka dia memutuskan mampir.

“Rumah baru tentu saja memerlukan banyak bantal dan guling yang baru. Apasekalian kasur juga ?”

Dan benar saja ujung – ujungnya si ibu mengeluarkan jurus terakhirnya, “Dilarisi njih bu guru , ini masih ada beberapa bantal dan guling sisa pesanan ibu tadi. Dibeli semua saja, ini dua bantal, dua guling, pas sepasang-sepasang buat si genduk dan thole yang ngganteng ini”

Baru saja saya mau beralasan tak membeli, kami sudah mempunyai bantal dan guling dikasih orang tua kami, lagipula si bapak sedang keluar. Sang tamu ini memotong tangkas, “Saya kasih murah saja. Daripada jauh-jauh saya bawa pulang balik. Nanti saya mau naik minibis, repot kalau masih bawa sisa dagangan.”

Manalah tega tak membayarnya. Anak-anak pun sudah begitu gembira memeluk bantal dan guling mereka masing-masing, bawaan tamu kita hari ini. Si tamu pun pulang dengan sumringah, menjanjikan akan mampir lagi untuk membenahi barangkali kasur saya ada yang rusak, jika kelak pas berdagang di sekitar sini. Sambil menjalin silaturahmi katanya -  membuatku tak jadi berucap,”Sini pakai kasur busa semua buk.”

Begitu bapaknya anak-anak pulang, saya ingin segera menceritakan tentang tamu penjual bantal guling tadi. Tapi si bapak malah sudah perintah duluan, “Buk, cepakne teh panas segelas. Ini tadi saya di perempatan depan jalan raya sana ketemu simbah tua bawa dipan dari bambu. Kasihan ndak ada yang beli. Itu mbahe rumahe sebenanrnya tetangga desa kita yang dulu, jauh-jauh jalan sampai sekitar sini. Tadi sudah takancer anceri rumah sini.”

Dan itulah tamu kita selanjutnya. Aiihh.. apa tidak ada tamu yang muda, ganteng – ganteng gitu, yang macam oppa di drama korea gitu, membawa oleh-oleh spesial datang sebagai tamu rumahku? Baiklah, mungkin besok ya.

Yess, tidak perlu menunggu besok. Malamnya, kami mendapat tamu membawakan pisang, oleh – oleh spesial panenan hasil kebun mereka. Sebentar, jangan dikira ini oppa Korea yaa... tamu kali ini malah lebih tua dari yang sebelumnya. Sepasang mbah kakung dan mbah uti pulang dari magripan di mesjid. Mengenalkan diri sebagai tetangga baru. Rumahnya dekat. Hanya berjarak dua rumah, di ujung jalan. Malu juga sebenarnya, harusnya kami yang sowan lebih dulu. Maafkan kami, mbah.

Tapi diantara para tetamu itu, yang paling unik adalah kedatangan tamu kami di kemudian hari. Tidak hanya sekali, tamu spesial kita kali ini kemudian mendatangi rumah kami berkali-kali. Kadang sebulan dua kali kadang sebulan sekali. Adalah dia, seorang lelaki tua, mungkin sekitar tujuhpuluh tahunan. Si Embah ini berperawakan jangkung, berkulit hitam dan berbaju lumayan rapi meski agak lusuh. Dengan rokok yang tak berhenti mengepul barang sedetikpun!

Kali pertama datang saya sudah langsung mendelik begitu suami mempersilahkan masuk dan ngobrol di dalam rumah. Asap rokoknya itu lebih ngeri dari cerobong pabrik yang baru dibangun di ujung kota. Bergulung – gulung tak henti dari tembakau rokok yang jelas murahan memenuhi rumah. Tetap dibuatkan teh. Tapi tidak sepenuh hati membuatnya, bening, manget-manget, tak begitu manis. Tidak ginastel sama sekali.

Tapi kalau jujur, sepertinya tamu ini kemudian jadi lebih tidak saya inginkan bukan hanya karena asap rokoknya. Itu karena pada hampir di setiap kunjungannya dia ada maunya.

Pada akhirnya setelah lebih dari sejam ngomong ngalor ngidul, si embah ini sekalu di ujung-ujungnya minta pinjam uang. Dia selalu menceritakan kesulitannya perdagangannya dan perlu uang untuk pulang. Perlu pemasukan agar tidak terlalu merugi. Tak terlalu banyak sih mintanya, tidak sampai berjuta-juta, paling sekitar limaratusan ribu kebawah.

Fiktif? Entahlah. Yang jelas setelah dikonfirmasi dengan seorang anaknya yang tinggal di desa tak jauh dari kami, si embah itu sebenarnya sudah tidak diperbolehkan berdagang oleh anak-anaknya.

Memang si embah kadang keluyuran begitu, tanpa pamit, berlagak berdagang keliling. Dagangannya apa , saya tidak begitu yakin. Karena setelah mendengarkan ceritanya berkali-kali, sepertinya itu cerita jaman kehidupannya dulu. Setting dan alur ceritanya membuat kami yakin kalau beliau ini sepertinya terperangkap di memori bertahun lalu. Dan ceritanya sebenarnya itu-itu saja.

Kedatangannya yang kedua, saya sudah males keluar. Bapaknya anak-anak sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih uang kalau bilang pinjam. Paling juga tidak dikembalikan kayak dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si bapak tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung.

Kedatangannya yang berikutnya, saya sudah males keluar. Si kangmas sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih. Paling juga tidak dikembalikan seperti dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si kangmas tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung. Beberapa kali mengintip dari balik tirai jendela, si embah masih duduk di emperan rumah.

 Kami meruntuki pelan“Aisshh.. mbok ya cepet pergi ini si tamu tua tak diundang. Apa tidak bisa tamu itu yang ganteng-ganteng saja macam oppa di drama Korea, dengan membawa bunga dan oleh-oleh. Ini tamu kok dapatnya yang tua-tua macam gini.”

Anehnya beberapa tamu perdana yang datang ke rumah kami setelah si embah itu, memang rata-rata berusia lanjut. Saya ingat ada ibuk-ibuk tua penjual bantal dan guling, ada  Pak Min tua tetangga belakang rumah menjelaskan soal kambing peliharaannya yang mungkin akan membuat kadang bau jadi tidak sedap, dan yang terakhir si penjual balai bambu sepuh yang belum juga laku dagangannya. Mana tega tak membelinya.

Si embah antik itu tetap datang lagi. Kedatangan berikutnya saya sudah berniat menemuinya. Saya berniat untuk keras terhadap tamu satu ini. Si kangmas juga sudah mulai jengah dan memilih ngumpet di teras belakang saja sambil mengecat sebuah lemari tua.

Begitu si embah mulai cerita, saya menyerobotnya dengan menceritakan keuangan kami yang cukup sulit karena biaya sekolah anak-anak sekarang makin mahal. Berharap dia tidak lagi minta uang. Berkali kemudian si embah menanyakan bapaknya anak-anak. Dan duuhh..saya mulai berbohong.

Anehnya si embah kemudian berulang minta izin ke kamar mandi di belakang rumah. Haduuh semakin seru. Bersusah payah melarangnya dan mengulur waktu. Mengkode si kangmas dengan lihai agar bisa pindah bersembunyi ke dalam kamar tanpa si embah melihat. Rusuh. Deg – deg an. Seperti sedang main film detektif.

Segera setelah kode ‘clear’ – aman, saya persilakan si bukan tamu biasa ini menuju ke kamar mandi belakang. Harusnya saya puas ya ketika akhirnya kemudian si embah pulang - tanpa bisa bertemu suami, tanpa uang sepeserpun dberikan. Tetapi mengapa perasaan saya malah menjadi ada rasa tidak nyaman. Seperti ada yang salah.
Tamu istimewa berlalu pergi


Beberapa hari kemudian ada saudara  saya bertamu. “Eh, mbak,aku kemarin ada pengajian di sekolahan. Ustadnya seru,” katanya menceritakan pengalamannya di tempat dia mengajar.

“ Kata ustadnya, kalau ada tamu minta hutang itu ya seharusnya dikasih. Ya sebisanya lah. Karena tamu yang meminta pinjaman itu kan berarti hatinya sudah memilih rumah kita untuk dituju. Padahal yang berkuasa membolak-balikkan hati kan Gusti Allah. Ya termasuk hatinya si yang datang ke rumah kita itu. kedatangan dan kepergian seseorang itu bukannya tanpa ijin dariNya. Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak,*2” ceriwisnya sambil bercanda. Dia tidak sedang pinjam uang ke saya kok.

“ Awas lho, jangan-jangan tamu kita itu diikuti malaikat,” imbuhnya setengah berdalil.

Saya tidak tahu apakah dalil yang disampaikan saudara saya hari itu shahih atau tidak. Yang jelas cerita dia tiba-tiba mengena di hati saya. Membuat saya flash back perlakuan saya akan si embah, tamu antik yang berkali-kali datang. Ini mengherankan karena saat itu kami sedang tidakm enceritakan masalah tamu dirumah saya.

Yang jelas saya jadi ngeri membayangkan. Jangan – jangan saat si embah tertolak masuk waktu itu, malaikat pun jadi enggan masuk rumah kami. Jangan – jangan saat si embah berlalu pulang dengan wajah kecewa itu, malaikat pun  ikut pergi tak jadi membawa berkah ke rumah kami. Astaghfirullohaladzim....

Dari kamar sayup-sayup terdengar si genduk sulung kami sedang mengulang hafalan mengajinya dari kamar. ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma*3... aihh semakin malu tertampar hati ini.

Bahkan Rosullulloh yang agung tanpa cela pun sampai ditegur langsung oleh Allah saat sekedar bermuka masam pada tamunya yang buta. Padahal Rosul punya alasan yang penting saat itu. Dan saya ini apa! Sampai berani-beraninya membohongi dan mengirim pulang tamu seolah mengusirnya.

Saya coba berkaca. Hijrah – pindah rumah harusnya bukan hanya pada lahirnya. Saat Sang Pengabul Doa sudah begitu bermurah hati mengabulkan impian dan memampukan untuk memiliki sebuah  rumah, harusnya hijrahkan hati ini juga. Hijrahkan menuju syukur sepenuh hati.

Hijrahkan hati menuju rasa cukup dan ridha dengan pemberian-Nya. Termasuk bersyukur atas tamu yang diberikan untuk mendatangi rumah kita. Kita tidak bisa memilih tamu yang datang rumah kita, tapi kita bisa memilih untuk melayaninya dengan sebaik-baiknya semampu kita. Tanpa nggrundel,” Entuk tamu kok tuwek!”*4

Lain kali si embah datang, kami , terutama saya, mencoba melayani lebih baik. membuatkannya teh ginastel *5 lengkap dengan camilan. Soal asap mengepul, setelah kedua anak kami cium tangan beliau, kami bilang terus terang dengan nada sopan, bahwa anak-anak kami mudah batuk kalau kena asap rokok. Si embah pun berkenan bercerita panjang di teras saja. Dia bilang sambil mengawasi anak kami yang sedang bermain. Seolah cucunya.

Saya kemudian mencoba menikmati ceritanya.Anggap saja sedang naik mesin waktu yang mundur ke tahun tujuh puluhan.

Dan kalau beliau tampak sudah mau pulang, dengan seikhlas mungkin kami selipi beberapa lembar puluhan ribu semampu kami, bahkan sebelum beliau minta. Sambil membungkuskan sekedar pisang godhog atau singkong goreng kesukaannya untuk bekal di jalan.

Saya mulai meyakini, bahwa, kita tidak bisa memilih siapa tamu kita. Tapi, kita selalu bisa memilih untuk melayani mereka sebaik baiknta yang kita mampu.

Sungguh yang kemudian datang adalah perasaan yang begitu nyaman. Serasa hati berhijrah ke sebuah rumah indah diantara padang luas penuh bunga dandellion putih yang anggun tertiup angin. Lapang dan tenang.



Keterangan :
*1 manget-manget : hangat (bahasa Jawa)
*2 Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak : Makanya kalau aku pinjam uang kesini itu jangan ditolak (bahasa Jawa)
*3  ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma : Qur’an Surah ‘Abasa (Ia Bermuka Masam), surah ke- 80, 42 ayat. 
*4  ” Entuk tamu kok tuwek! : Dapat tamu kok tua umurnya. (Bahasa Jawa)
*5   ginastel : Singkatan dari kata; legi, panas, dan kenthel, untuk mendeskripsikan sajian teh yang lezat menurut versi orang Jawa Tengah. Tehnya harus manis, panas dan kental.



      Salam,












blogger tamplate

 thema gratis blogger terbaru blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template b...