Tampilkan postingan dengan label ruang menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ruang menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2021

Contoh Artikel Pendidikan Karakter di Masa PJJ

 MENGUATKAN KEMBALI PPK DI MASA SEKOLAH DARING


Apa yang menjadikan seorang Sudirman menjadi sosok yang banyak dikagumi banyak orang dari masa ke masa?

Bukan karena jabatannya semata, bukan pula karena kehebatan fisiknya. Beliau adalah seorang jendral sederhana dengan fisik ringkih. Paru-parunya bahkan tak sepenuhnya sempurna. Tetapi kekuatan karakternya mampu menutupi segala kekurangan fisiknya. Jenderal Sudirman tangguh memimpin menggerakkan perjuangan melawan penjajah meski harus ditandu keluar masuk hutan. Sinar matanya selalu menyala tak gentar, memberi tauladan dan menyemangati prajurit pasukan gerilyanya.

Apa yang membuat seorang tokoh enterpreneur dunia bernama Soichiro Honda tidak menyerah ketika berulang dia mengalami kegagalan? Apa yang menjadikan Colonel Sanders sukses dengan bisnis waralabanya meski sebelumnya dia harus terus mencoba menawarkan resepnya setelah ditolak 1009 kali?

Semua dapat melihat bahwa pada diri kedua tokoh sukses tersebut melekat mental yang kuat, pribadi yang tangguh pantang menyerah meski kegagalan mendera berulang. Bukan hanya karena keilmuan atau kekuatan finansial semata. Karakter hebat mereka menghantarkan mereka menjadi pengusaha hebat yang kini mampu membuka berjuta lapangan kerja, memberi manfaat bagi orang lain.

Apalah pula yang menggerakkan seorang petani tua dari desa Ndali, Wonogiri, bernama Mbah Sadiman menanami bukit gersang di wilayah desanya seorang diri? Sejak tahun 1996, Mbah Sadiman berupaya menanami bukit Gendol dengan harapan desanya tidak lagi terkena krisis air seperti musim-musim kemarau sebelumnya. Dengan karakternya yang kuat, penuh keikhlasan secara mandiri beliau menanam satu demi satu pohon di bukit yang sebelumnya rusak karena pembalakan liar dan beberapa kali kebakaran yang terjadi sekitar tahun 1960an sampai 1980an. Dan kini, setelah puluhan tahun menanam, bukit tersebut kembali menghijau dan desanya terhindar dari krisis air. 

Ya, nilai seseorang adalah pribadinya. Ilmu pengetahuan, pangkat, atau kekayaan memang berguna tetapi karakter yang kuat pun tak kalah pentingnya. Sudah hampir satu tahun sejak pandemi Covid masuk Indonesia, siswa diharuskan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pembentukan karakter siswa yang kuat tidak bisa lagi dilakukan secara langsung oleh guru di kelas – kelas. Lalu bagaimanakah gambaran ketangguhan karakter siswa kita selama PJJ ini?
  
Pada tahun 2020,  berita di media massa diwarnai dengan fakta bahwa banyak siswa mengalami kejenuhan dan kesulitan saat mengikuti PJJ. Beberapa di antaranya malah merespons keadaan itu dengan hal negatif seperti melakukan tawuran, tergoda miras atau bermain gim tanpa kenal waktu. Bahkan yang miris adalah munculnya berita dua kasus bunuh diri di kalangan pelajar pada bulan Oktober tahun 2020 lalu. Diberitakan seorang siswi di Kabupaten Gowa mengakhiri hidupnya dengan minum racun dengan alasan diduga karena merasa tak sanggup mengikuti PJJ. Yang terakhir diberitakan adalah seorang siswa SMP di kota Tarakan yang gantung diri di kamarnya dikarenakan merasa begitu terbebani, tidak kuat lagi menjalani PJJ.

Sebuah survei yang diselenggarakan oleh UNICEF pada bulan Mei dan Juni 2020 lalu menunjukkan bahwa ada sekitar 66 persen siswa di Indonesia menyatakan tidak nyaman saat harus belajar di rumah selama pandemi ini. Sebelumnya pada bulan April 2020, Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis sebuah survey yang berisi bahwa 73 persen siswa di berbagai propinsi merasa berat mengerjakan tugas PJJ di rumah. Permasalahan – permasalahan yang terungkap oleh beberapa survei tersebut makin menyulitkan siswa dalam PJJ jika karakter mereka tidak kuat.

Dari pengalaman saya sendiri, beberapa keluhan telah saya terima sebagai wali kelas di sebuah SMA negeri. Mayoritas keluhan adalah tentang kurangnya karakter kejujuran saat mengerjakan tugas atau tes. Beberapa menunjukkan karakter kurang  mandiri, ditandai dengan minimnya etos kerja siswa untuk membaca materi atau mengerjakan tugas – tugas selama PJJ. Selain itu,  karakter disiplin juga terasa menurun. Orang tua mengeluhkan makin sulit mengendalikan anaknya bahkan untuk sekedar membangunkan mereka di pagi hari. Ritme PJJ yang tidak seperti sekolah pada biasanya menimbulkan celah untuk hal tersebut. 

Hal inilah yang kemudian menjadi semangat untuk menguatkan kembali pendidikan karakter di negeri kita selama PJJ, bukan sebagai mata pelajaran baru atau kurikulum baru, melainkan terintergrasi dengan seluruh kegiatan belajar mengajar di sekolah; menjadi poros pendidikan. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dicanangkan pemerintah melaui Perpres Nomor 87 tahun 2017. Pembelajaran harus didesain tidak hanya untuk ‘transfer of knowledge’ tapi juga ‘transfer of value’, bukan sekedar membuat menyampaikan ilmu pengetahuan tapi juga menyampaikan nilai – nilai karakter baik pada siswa.

Bapak Nadiem Makarim dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 tahun 2020, menyampaikan beberapa kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan di masa darurat penyebaran Covid-2019. Salah satunya adalah tentang penguatan karakter siswa selama PJJ. Guru didorong untuk mendesain pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar dengan konsep kebermaknaan tanpa terbebani capaian kurikulum semata.

Sejak awal pun, bapak pendidikan negara kita, Ki Hajar Dewantara telah meletakkan fondasi yang kuat bahwa pendidikan di Indonesia harus secara selaras mengoptimalkan bertumbuhnya budi pekerti, fikiran dan tubuh anak tanpa terpisah pisahkan. Pendidikan karakter sebagai upaya menumbuhkan budi pekerti anak harus menjadi ruh tak terpisahkan saat sekolah berupaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didiknya. Apalagi saat siswa dihadapkan keadaan yang berat di masa pandemi seperti ini, karakter yang kuat akan membantu mereka melaluinya.

Selama sekolah daring, konsep pendidikan karakter tersebut dapat diimplementasikan di sekolah dalam tiga bentuk sebagai berikut:

1. Pendidikan karakter berbasis kelas
Dalam bentuk ini, pendidikan karakter diterapkan melalui proses PJJ setiap mata pelajaran terintegrasi dalam RPP guru mapel tersebut. Guru memodifikasi penugasan dan materi yang melibatkan penguatan karakter siswa.

2. Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah
Dalam bentuk ini, pendidikan karakter dapat berupa pembiasaan nilai-nilai utama dalam kegiatan keseharian sekolah dan pemembentukan ekosistem sekolah yang mendukung pembiasaan tersebut. Selama PJJ sekolah tidak boleh berhenti membuat program – program yang dapat menguatkan karakter siswa.

3. Pendidikan karakter berbasis masyarakat
Dalam PJJ, pendidikan karakter diimplementasikan dengan melibatkan orang tua, komite sekolah, dunia usaha di sekitar sekolahatau pemerintah dan pemda setempat. 

Pada akhirnya, melalui penguatan pendidikan karakter diharapkan pendidikan di Indonesia tidak hanya mampu mencetak generasi yang cerdas dan terampil, namun juga membentuk individu yang memiliki karakter hebat. Sehingga kelak muncul Generasi Emas 2045 yang cerdas, terampil dan berkarakter mulia. Mereka adalah generasi yang berkepribadian berani seperti Jenderal Sudirman, bermental kuat – pantang menyerah semacam Soichiro Honda, dan berjiwa ikhlas, mandiri semacam Mbah Sadiman. 

Saat semakin banyak pemuda Indonesia memiliki kepribadian kuat, penyakit – penyakit sosial semacam korupsi, tawuran atau penyalahgunaan narkoba akan semakin berkurang. Indonesia akan dikenal sebagai bangsa berkepribadian hebat sebab pada dasarnya kepribadian bangsa tercermin melalui kepribadiaan dan karakter individu – individu warga masyarakatnya.

Salam Belajar,


Selasa, 08 Desember 2020

Cerita Anak : Siapa yang Sedikit Kejujurannya, Sedikit Temannya

 Assalamu'alaikum Sahabat Belajar

Ada cerita Islami lagi nih. Ceritanya itu terinspirasi dari Mahfudhat yang berbunyi : Man qolla shidquhu, qolla shodiquhu. Apa yaa artinya mahfudhat itu?

Ayo kita cari tahu dalam cerita karya Aisyah berikut ini.


Suatu pagi di depan kelas 4 SD Perwira Bangsa. Sean dan Riki berjalan bersisihan menuju kelas. Sean  adalah anak laki-laki yang berambut ikal, mukanya seperti anak berwajah usil. Sedangan Riki itu anak laki-laki berambut lurus dan berkacamata yang mempunyai kebiasaan suka lupa PR nya. Dia teman sekelas Sean. Pagi itu mereka mengenakan seragam sekolah celana panjang merah dan baju putih berlengan pendek.

“Eh, Sean, kamu sudah mengerjakan PR belum?” Riki bertanya apakah Sean sudah mengerjakan PR. 

“Ehh..anu.. tentu saja sudah. Ini di tasku,” Sean menjawab dengan menepuk nepuk tasnya. 

Eh, Riki malah memasang wajah lesu. Riki belum bersemangat masuk kelas, dia malah duduk bertopang dagu di kursi taman di depan kelas. 

“Mengapa sedih, Riki?” tanya Sean.

“Aku belum mengerjakan PR. Aku lupa mengerjakannya tadi malam,” jawab Riki.

Sean menyodorkan buku tulis berisi PR ke Riki. Untuk memikat hati Riki agar terus menjadi temannya, Sean menawarkan Riki untuk meniru PRnya,  “Ini , kamu tiru saja PR ku.”

Riki ragu-ragu menerimanya, “Hmmm.. sebenarnya sih ini tidak baik tapi...”

Riki duduk di kursi taman sementara Sean berdiri disampingnya. Riki sebenarnya kurang yakin apakah PR Sean benar – benar dikerjakan dengan baik. 

Sean pun mulai berbohong. Dia bilang bahwa pekerjaan rumahnya pasti bagus,” Jelaslah PR ku pasti oke! Aku dibantu oleh kakakku. Dia guru.” 

Sambil menulis di meja taman, Riki mengamati bahwa soal nomor lima itu sulit.  Dia menunjuk ke soal menghitung volume kerucut yang rumit itu. Dia ingin tahu bagaimana Sean mengerjakannya, “Soal nomor lima susah. Bagaimana sih cara mengerjakannya?”

“Ehmm.. anu.. itu ..” Wajah Sean jadi bingung. Itu karena dia hanya berbohong saja bahwa dia bisa mengerjakan dengan dibantu kakaknya yang guru. Kenyataannya Sean asal-asalan saja mengerjakan PR itu.

(Teeet..teeeet..teeeet)

“Sudah bel masuk tuh. Yuk, ke kelas!” ajak Sean.

Sean terlihat lega. Bel masuk sudah berbunyi. Dia tidak perlu lagi menjelaskan PR nya. Riki segera menutup bukunya. Mereka segera masuk ke kelas.

Di dalam kelas, Bu guru menanyakan PR matematika. Murid-murid menjawab, “Sudaaah”. Termasuk Riki dan Sean yang duduk di bangku paling depan.

Diantara tumpukan buku PR diatas meja, bu guru memanggil Sean dan Riki. Bu guru menunjukkan buku PR yang nilainya E. PR mereka salah semua jawabannya. “Riki, Sean, PR kalian kok hampir semua salah jawabannya.” 

Riki sangat terkejut. Dia berbisik ke arah Sean., “Lho kok begini, Sean?  Tadi kamu bilang sudah mengerjakan dengan baik.”

Bu Guru dengan sabar menasehati Riki dan Sean agar lain kali jika ada PR, mereka harus mengerjakan dengan baik. Riki dan Sean menunduk malu dan menjawab, “Baik Bu.”

“Baiklah,anak – anak semua sekarang perhatikan penjelasan Bu Guru. Untuk Riki dan Sean, nanti kalian akan mendapatkan tugas mengerjakan soal tambahan agar lebih faham.”

Bu guru kemudian berdiri di papan tulis. Bu guru akan menjelaskan pembahasan mengenai soal di PR tersebut. Riki berwajah makin masam. Dia merasa dibohongi oleh Sean.

Sesaat menjelang pulang sekolah, Bu guru berdiri di samping meja Sean. Dia minta tolong kepada Sean, “Sean, bolehkah Bu guru minta tolong?”

“Baik, Bu,” jawab Sean.

“Tolong titip uang jahitan ke kakakmu ya. Bu guru suka hasil jahitan kakakmu itu,” kata Bu Guru sambil menyerahkan sejumlah uang. Dan kemudian berjalan menuju kantor guru.

Sean mengangguk lesu. Dia tidak tahu bahwa Riki masih belum pulang dan mendengar percakapannya dengan Bu Guru. Riki makin marah. Merasa kembali dibohongi Sean. Tadi pagi Sean bilang kakaknya adalah guru yang pandai. Sekarang ketahuan, kakaknya ternyata bukan guru. 

Riki berkata kesal, “Huuuh, Sean. Tadi kamu bilang kakakmu itu guru.”

Sean bingung dan malu, ketahuan berbohong, “ Emm .. anu.. kakakku memang sebenarnya adalah penjahit.”

Riki melengos pergi dan berkata dengan ketus, “Huuuh.. aku tidak mau jadi temanmu lagi!”

Sean makin terduduk lesu di kursinya padahal teman sekelasnya sudah keluar ruangan semua. Sean tidak menyadari kedatangan Bu Guru yang kembali masuk ke kelas karena hendak mengambil kacamatanya yang tertinggal.

Bu guru menghampirinya. Sambil memegang lembut bahu Sean, Bu Guru bertanya apa yang terjadi, “Mengapa kamu tampak bersedih, Sean?”

Sean kemudian menjelaskan masalahnya kepada Bu Guru.  Sean merasa menyesal telah membuat Riki tidak mau lagi jadi temannya. 

“Ooo, jadi kamu membohongi Riki, ya?” tanya Bu Guru.

“Yaa, begitulah, Bu. Saya menyesal.” Sean menjawab dengan pelan.

Bu Guru lalu menjelaskan, “Sean, besok lagi tidak boleh ya kamu menyuruh teman untuk mencontek jawabanmu. Memberi contekan jawaban ulangan atau PR ke teman itu sebenarnya tidak membantu. Tapi malah meracuninya.”

Sean terkejut,” haah kok malah dibilang meracuni, Bu.”

“Ya, karena saat kamu memberi contekan, kamu mengajari temanmu untuk tidak mandiri dan tidak percaya dirinya sendiri. Dan ini tidak bagus untuk temanmu itu. Kalau temanmu tidak mandiri dan tidak percaya diri nanti dia tidak bisa jadi orang yang sukses. Kamu mau temanmu jadi orang gagal?”

“Tidak lah, Bu.”

“O ya Bu Guru jadi ingat ada mahfudhat berkata begini : Man qolla shidquhu, qolla shodiquhu.”

“Apa artinya pudot pudot itu, Bu?” Sean bingung apa artinya.

Bu guru tersenyum kecil, “ Bukan pudot, Sean. Mah-fu-dhot. Mahfudhot itu kata – kata mutiara yang biasa dipakai di bangsa Arab sana. Man qolla shidquhu, qolla shodiquhu itu artinya: Barangsiapa yang sedikit kejujurannya, sedikitlah temannya.”

Bu guru dengan lembut dan sabar menjelaskan artinya. Sean mengangguk-angguk mengerti. “Ini nanti saya akan mampir ke rumah Riki untuk meminta maaf, Bu.”

Sean faham bahwa ketidakjujurannya membuat temannya jadi sedikit. Sean akan mampir kerumah Riki untuk minta maaf. Bu guru mengacungkan jempol sambil berseru gembira memuji Sean,” Itu baru anak sholeh!”

***

Nah, Sahabat, bagaimana ceritanya?
Semoga dari cerita itu kita dapat memetik pelajaran di dalamnya. Pokoknya yang jujur! Jangan suka mencontek, jangan suka berbohong. Daan nanti temanmu akan jadi banyaak.
Sampai jumpa lagi di cerita berikutnya.

مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
“Man Qolla Shidquhu Qolla Shodiquhu”
Barangsiapa yang sedikit kejujurannya, sedikitlah temannya

Jumat, 04 Desember 2020

Cerita Anak Islami : Muhammad is My Hero

Hai, hai..Assalamu'alaikum Sahabat Belajar

Kali ini ada cerita anak menarik nih untuk menemani akhir pekanmu. Ceritanya anak sulung saya, Aisyah, suka belajar menulis cerita. Ini dia salah satu karyanya. Mungkin masih banyak kekurangannya yaa... tapi saya bangga sekali putri saya ini sudah mau mencoba menulis dan saya ingin berbagi ceritanya di blog ini. Selamat membaca :)


NABI MUHAMMAD PAHLAWANKU

Karya : Aisyah

Srak… srak… srak…
Terdengar suara gesekan sapu dengan tanah di depan sebuah  rumah. Seorang anak laki-laki  terlihat menyapu halaman rumah tersebut.                                                                                                                                                    
“Zaki,ayo main!”seru segerombol anak seusianya.
“Iya,aku izin dulu, yaaa…” Tak lama ia sudah keluar menghampiri teman-temannya.

~~

“Eh Riza nanti malam ada film Batman lhooo!”kata seorang anak bertubuh gempal.
“Wah, beneran Dodo,disaluran mana?”jawab Riza yang tadi ditanya.
“RCTI,jam 7,”jawab anak tadi,yang bernama Dodo.Tiba-tiba Zaki ikut nimbrung.
“Kalian ngomongin apa sih?”
“Itu lhooo, film Batman kamu nggak tahu,ya?” tanya Dodo.
“Iya nih, Zaki. Zaki jarang nonton TV yaaa,”timpal Riza yang tiba-tiba nimbrung juga.Di rumah memang Zaki jarang nonton TV. Dia biasanya belajar, menghafal Al Quran atau membaca buku cerita tentang nabi-nabi.

~~

 “Idiiiih Zaki, sekali-kali nontonTV-lah biar tahu, jangan baca buku melulu,”kata Dodo sedikit mengejek.
“Oke,aku akan menontonnya,tapi jawab dulu pertanyaanku. Ehm,ya…  Siapa nabi setelah Nabi Isa?”timpal Zaki.
“Eeeer, siapa ya, Za?” jawab Dodo yang malah bertanya ke Riza.
“Hemm,siapa nabi sesudah Nabi Isa.Ehm,aku tidak tahu Zak,” jawab Riza, yang ternyata juga tidak bisa menjawab pertanyaan Zaki.
“Jawabannya ya Nabi Muhammad lah, gitu aja masa nggak tahu, sih,” jawab Zaki sambil tersenyum.
“Oh iya, aku lupa!” sahut Dodo dan Riza bersamaan.

~~

Keesokan harinya. Di sekolah jam ke-3 pelajaran SBK bersama Pak Boko.
“Anak-anak, kali ini kita akan menggambar, temanya pahlawan yang kalian sukai dan idolakan, ya,” perintah Pak Boko.
“Iyaaa, pak!” jawab anak-anak serempak dari seluruh penjuru kelas.Zaki bingung karena pahlawannya Nabi Muhammad. Juga ia tidak tahu bagaimana menggambarnya. Alhasil dia hanya menggambar kaligrafi bertulis Muhammad.

“Hei , kamu hanya menggambar tulisan. Apa boleh, Zak?” tanya Erwin, teman sebangkunya yang tak sengaja melihat gambarnya. “Itu Muhammad. Pahlawanmu Nabi Muhammad. Aneh. Beliaukan sudah meninggal. Lihat aku, menggambar presiden kita. Kau ini, huuuu... “sambung Erwin, sambil mencibir.
Memang, Zaki hanya menggambar kaligrafi bertuliskan Muhammad.

Pulang sekolah. Zaki semakin diolok-olok anak aneh dari teman-temannya.Dia tidak mendengarkan ejekan dari teman-temannya. Kebanyakan tadi mereka menggambar Batman, Hulk, Thor, Spiderman, Superman dan pahlawan lain dalam film super hero yang sering tayang di televisi. Menurutnya, Nabi Muhammad jauh lebih baik daripada pahlawan-pahlawan tadi yang hanya bohongan dan buatan manusia.


Di rumah, sebelum tidur, ibunya yang biasa ia panggil ‘Ummi’ menceritakan perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam di Mekkah. 
”Zaki, kok kelihatan murung hari ini?” tanya Ummi sebelum Zaki tidur.
Dengan singkat Zaki menceritakan kejadian di sekolah tadi.
“O, gitu. kali ini Ummi ingin cerita tentang perjalanan hijrah nabi ke Madinah. Mau tidak?”
Zaki mengangguk dengan senang.

“Nah gini Zak ceritanya, pada suatu hari nabi Muhammad berdakwah di Mekkah. Kaum Quraisy yang sering melakukan perbuatan yang dilarang Allah, menentang dakwah Nabi Muhammad. Para pengikutnya disiksa agar mereka takut dan melanggar perintah Allah.”

   “Wahai Muhammad, jangan berdakwah di sini, kamu dan pengikutmu akan kami aniaya, begitu kata ancaman kaum kafir Quraisy. Melihat situasi yang berbahaya itu, Allah memerintahkan mereka berhijrah ke Madinah. Para pengikut nabi Muhammad terlebih dulu berangkat, dan tinggallah Nabi Muhammad bersama Abu Bakar di Mekkah."

“Pada waktu yang ditentukan Allah, Nabi Muhammad dan Abu Bakar menyusul ke Madinah. Namun para pemuda Quraisy ingin mencelakai Nabi Muhammad, mengejarnya. Di tengah kejaran kaum kafir, mereka bersembunyi di gua di bukit Tsur."

”Jangan takut! Allah pasti melindungi kita,” kata Nabi Muhammad kepada Abu Bakar yang masih khawatir akan keselamatan Nabi Muhammad, para pemuda Quraisy yang mengejar Nabi Muhammad telah sampai ke bukit Tsur, mereka melihat gua yang dipakai bersembunyi oleh Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Sebelum para pemuda Quraisy hendak memasuki gua tersebut, Allah memerintahkan burung merpati untuk bertelur di mulut gua dan laba laba untuk bersarang di sana."

" Melihat kondisi seperti itu para pemuda kafir Quraisy berpikir tidak mungkin Nabi Muhammad dan Abu Bakar ada di dalam gua itu, lalu mereka semua pergi melanjutkan pencarian,mereka semakin penasaran  dimana Nabi Muhammad berada."

 ”Tak seorang pun manusia bisa mencelakai kita kalau Allah tidak berkehendak, maka percaya dan berimanlah kepada Allah, begitu tutur Nabi Muhammad kepada sahabatnya. Akhir cerita, Nabi Muhammad meninggalkan gua itu dengan selamat. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Madinah dan terus menyebarkan ajaran Allah untuk kebaikan," ucap Ummi Zaki mengakhiri ceritanya.

“Nah, selesai ceritanya. Sekarang Zaki tidur, ya Sayang…”

Zaki pun tertidur tapi cerita ummi itu membuat Zaki lebih bersemangat untuk terus bersabar menghadapi teman-temannya yang mengejeknya. 

 “Teman-teman. Tadi aku dengar dari Pak Rafi, ada ulangan agama hari ini,” kata Zaki mengumumkan.

Tak lama Pak Rafi datang dan memulai ulangan.Teman-teman banyak yang mengeluh bahwa soalnya susah-susah.Tapi bagi Zaki itu mudah, karena Ummi kemarin sudah menceritakan kisah yang dijadikan bahan ulangan.

Tiba-tiba Pak Boko masuk membawa gambar yang kemarin mereka buat.Di buku gambar Zaki tertulis nilai hanya 75 dengan keterangan “Bagus tapi tidak sesuai ketentuan.”

Zaki terlihat sedikit lesu karena biasanya nilai SBK tidak pernah 75. “Eh Zaki, kamu lagi ngapain?” tanya seorang anak yang bertubuh tinggi.

“Itu nilai SBK ku....” kata Zaki tapi langsung dipotong oleh anak tadi,” Tidak apa-apa harusnya kalau cuma dapat 75. Lebih baik nilai agamamu bagus. Kata bundaku begitu sih,” katanya.

“Betul juga.O ya Muzia, siapa pahlawan yang kamu gambar?” kata Zaki bertanya.

“Itu.Tadinya aku ingin juga menggambar kaligrafi bertuliskan Muhammad, tapi tidak jadi karena takut tidak boleh.Jadi aku hanya menggambar Gajah Mada. Tapi hanya asal jadi gitu, deh,” jawab Muzia.

Zaki sudah tahu kalau Muzia tidak terlalu suka dengan superhero dalam film. Muzia sama sepertinya, lebih suka tokoh-tokoh Islam seperti Abu Bakar atau Umar Bin Khattab. Jadi Muzia hampir sama dengan Zaki, menyukai tokoh-tokoh Islami.

Keesokan harinya, di sekolah Zaki ada lomba dongeng tema Islami. Di kelas Zaki belum ada yang mendaftar padahal satu kelas harus ada yang ikut.Minimal satu orang. Zaki ingin saja ikut tapi dia malu bilang ke Pak Rafi yang ada di depan kelas, menunggu siapa yang akan mendaftar. 

Akhirnya Zaki memberanikan mengacungkan tangannya. Muzia yang duduk di sampingnya menyenggolnya. Muzia menatap Zaki seakan dia berkata,”Kau yakin? Nanti kau akan semakin diolok-olok.” 

Tapi Zaki mengangguk mantap. Ia yakin. Keputusannya bulat.

Sementara itu, di seberang sana, di bagian belakang kelas, Dodo dan Riza jadi sebal karena mereka tidak bisa ikut. Mereka tidak punya buku cerita Islami dan mereka juga tidak tahu banyak tentang cerita Islami.

Hari lomba pun tiba.Zaki peserta nomor urut 2, sudah maju. Zaky merasa sedikit gemetar. Tapi dia menguatkan hati. 
“A..A..Assalamu’alaikum...  Warahmatullahi wabarakatuh,” Zaki masih takut-takut. 

Dia coba melihat sekeliling agar lebih tenang. Di bagian depan samping kiri dia melihat Muzia memberinya jempol sambil tersenyum. Pak guru dan teman – teman lain menyemangati. Beberapa temannya berteriak, “Ayoo Zaki, pasti bisa!”

Zaki jadi tidak gemetar lagi. Dia tidak ingin mengecewakan teman-teman sekelasnya. Dia ingin bisa menceritakan kisah Rosul yang mulia agar semua orang banyak yang tahu. “Bismillahirrohmanirohiim, aku pasti bisa.” Zaki berteriak kuat dalam hati. 

Diatas panggung Zaki kemudian memulai penampilannya dengan menyanyikan lagu berjudul MY HERO. Itu lagunya Harris J, pemuda muslim penyanyi asal luar negeri. Semua orang terkesima mendengar lagu itu, ternyata suara Zaki sangat merdu.

.....o Muhammad you are my hero
you are my hero
always my hero................”

Setelah menyanyikan sedikit bagian lagu itu, Zaki mulai bercerita tentang kisah Nabi Muhammad dengan penghayatan. Zaki bercerita tentang hijrah Nabi Muhammad ke Taif, Habasyah dan Madinah. Wajahnya agak menangis sedih saat menggambarkan penderitaan Rosul. suaranya kembali riang saat Rosul disambut dengan meriah oleh kaum Anshar di Madinah.

Semua orang terkesima mendengar kisah Zaki tentang betapa hebatnya Nabi Muhammad. Zaki menyampaikannya dengan menarik dan penuh semangat. 

  

Saat turun panggung, dia langsung dikelilingi teman-temannya.Mereka berkata,” Wah, ceritanya bagus sekali. Kamu pasti menang.”

“Tak kusangka cerita nabi Muhammad bisa menarik juga.Aku boleh pinjam bukumu itu ya.” Begitulah, banyak teman-teman yang memuji ceritanya.

Dodo malah berkata,” Huh itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Batman,” Dodo berkata itu seperti mengejek. Teman yang lain banyak yang tidak setuju, mereka berkata, “Hebat!”

Riza yang mendengar Dodo jadi merasa tidak enak, “Tidak perlu berkata seperti itu juga, Do.”

“Huh, kau ikut ikutan tidak suka Batman sekarang.Lebih suka Zaki ya, hohoo!” jawab Dodo dengan kesal dan meninggalkan Riza yang ingin membicarakannya baik-baik.

“Apa bagusnya menceritakan itu. Tidak ada manfaatnya, “ gerutu Dodo sambil menghentak-hentakkan kaki ke kelas. 

Setelah lomba, masih ada pelajaran, yaitu Akidah Akhlaq bersama Pak Rohmat.Dodo masih kesal terhadap Zaki.Apalagi setelah lomba mendongeng tadi dia mendapat juara I. Dodo makin kesal saja.Dia juga menjauhi Riza setelah kejadian tadi.Dodo melamun di kelas.

Tiba-tiba pintu terbuka. Zaki bersama teman-temannya masuk.Zaki membawa pialanya. Dia terlihat senang. Dodo semakin jengkel melihat Zaki dengan pialanya, apalagi dengan Riza yang tampak bercakap-cakap dengan Zaki.

Tok. Tok. Tok. 

Anak-anak segera duduk. Itu adalah suara sepatu Pak Rahmat.yang membuat anak anak bingung adalah ini masih jam   08.30,setengah sembilan,padahal masuknya jam 10.00.

”Assalamualaikum!” suara Pak Rohmat.
“Wa’alaikumusalam!”jawab anak anak                                                         
“Anak-anak sekarang bapak akan bercerita tentang hijrah nabi Muhammad, melengkapi cerita Zaki tadi ya. Tahu tidak siapa yang menyambut Rosul ketika sampai Madinah?” beberapa anak menjawab tidak tahu.

“Saat Rosul datang, semua penduduk Madinah semua keluar menyambut. Semua terkesima dengan kebaikan Rosul sehingga bergemuruh syair Thola’al badru ‘alaynâ dari segala penjuru. Jadi tidak hanya orang Arab dan kita orang Indonesia yang memuji Rosul. Beberapa tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi dari India atau Michael Hart dari Amerika menunjukkan pujiannya akan Nabi Muhammad. Misalnya lagi itu tadi penyanyi dari negara Inggris yang dinyanyikan oleh Zaki di panggung tadi.” Pak Rahmat kemudian bercerita panjang lebar dari hijrah nabi dari Thaif, Habasyah, dan Madinah.

Dodo yang tadi kesal sekarang terkesima. ”Ternyata Batman kalah dari nabi Muhammad.” Gumamnya.
Dodo menyadarinya,nanti pulang sekolah dia akan meminta maaf kepada Riza dan Zaki.

“Eh Zaki,Riza aku minta maaf yaa atas yang kemarin.’’kata Dodo penuh harap.

“Iya kami memaafkanmu, sekarang kamu suka nabi Muhammad, kan,” kata Zaki sambil tersenyum, Dodo menganggukkan kepalanya kuat-kuat.

Lalu, Riza berkata, “hei, Zaki, rencana kita berhasil, kita telah membuat Dodo suka dengan nabi Muhammad!” Riza tertawa diikuti tawa Zaki dan Dodo.

“Ah, kalian ini,” kata Dodo di sela tawanya.

~~

Tamaat.. begitulah ceritanya. Semoga Sahabat dapat memetik hikmah di dalamnya. Doakan semoga gadis kecil saya ini makin semangat belajar menulis ceritanya agar jadi lebih baik. Sampai jumpa di cerita - cerita yang lain.

Kamis, 02 April 2020

WFH nya Emak Guru

Sudah hampir tiga pekan ini, hampir semua hal harus dikerjakan dari rumah. Beribadah, belajar, dan bekerja dari rumah. Work From Home, atau WFH itu... Huufttt.. Tidak mudah ternyataaa.
Saya kalang kabut menyesuaikan diri. Ditambah gempuran berita informasi menyeramkan tentang wabah corona. Kadang jadi suudzhon sama diri sendiri.
Jangan - jangan mulai depresi nih saya.

Soalnya, kadang sayanya jadi mulai kayak agak linglung, mau ngerjain apaa, eh yang dipegang apa :)
Malas juga sering tiba tiba menyerang. Effortless. Tidak semangat.

Untuk menjaga kewarasan, harus mulai nulis nih.

Tahap pertama, oke, saya mengaku, saya tidak sedang baik baik saja. WFH itu berat bagi saya saat ini. Mengajar lewat jempol dan laptop itu bukan saya banget. Guru lain banyak yang oke oke saja. Banyak yang lancar jayaa WFH nya. Tapi sepertinya saya tidak. Eh, belum.

Berikutnya, let me tell you my problem.

Sulit Konsentrasi

Mengajar dari rumah jadi sulit dengan teriakan si kecil di sekitaran rumah. Bungsu saya masih kelas 2 MI. Masih perlu pendampingan mengerjakan tugas dari gurunya.

Kemarin menggambar roti dibagi dua, jadi 1/2, besoknya semangka dipotong tiga bagian 1/3. Nah 1/2 dan 1/3 itu mana yang lebih banyak?! Emak harus ikut mikir pas di sininya.

Jangan lupakan pula, si kecil beberapa kali harus ngirim video praktik baik di rumah sesuai tema. Video pas nyapu, ngaji, berjemur, sampai nari kupu kupu. Iyaa diiringi lagu kupuu kupuu yang lucuu. Saatnya emak kembali beraksi.

Kakaknya sih sudah madrasah tsanawiyah, soal pr dari gurunya dia sudah bisa mandiri. Tapii soal teriak minta makan dan cemilan. Dua duanya sama sajaa.


Baru mau pegang leptop sudah tanya nanti makan siangnya sama apa, boleh tidak roti di lemari tak celup milo sekarang, eh milonya harus pakai air panas ya buk. Termosnyaaa... Huufftt.. Tariik nafaas.. Letakkan kembali leptopnya.

Masa iya mau diam saja saat dapur sudah mulai krompyangan tanda si duo krucil itu beraksi ala chef. Paling tidak kan ya harus mengawasi.

Bapaknya di manaaa?? Sedihnya bapaknya anak anak itu karyawan swasta yang tidak menerapkan WFH. Tidak bisa di andalkan maksimal untuk hal hal tersebut di atas.

Dan saya belum terbiasa dengan seperti itu. Rasanya frustrating!

Tapi ada positipnya juga sih, dapur sekarang lebih meriah. Dan waktu bersama anak jadi full 24 jam. Saluut dengan para bunda full mom, yang masih bisa berbisnis dan berkarya dari rumah.

Parno Tentang si Virus

Mungkin karena terlalu banyak terpapar berita itulah yang membuat saya kadang jadi over paranoid soal wabah ini.

Di tivi, koran, grup wa sampai obrolan singkat dengan tetangga isinya tidak jauh jauh dari corona, covid 19, apd, masker, angka kematian.

Apalagi bapaknya anak anak masih tetap harus kerja di luar rumah. Rasanya tambah was was. Jangan jangaan..

Padahal si bapak, tertib tertib saja, kalau pas pulang kerja ya langsung cuci tangan kaki di depan rumah. Langsung mandi, taruh baju kerja di tempat cucian atau dijemur. Tetap saja kekhawatiran itu ada.

Untuk itulah saya kemudian membatasi konsumsi berita berlebih tentang wabah ini. Ya tetap waspada. Tetap stay at home -tapi tidak over parno.

Murid Mengeluh Banyak Tugas