Senin, 01 Juli 2019

Making Appointment & Reservation by Phone ; Belajar Bahasa Inggris Yuk

Sahabat Rumah Belajar,
Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari Bagaimana cara membuat janji temu melalui telepon dalam Bahasa Inggris
‘HOW TO MAKE APPOINTMENT BY PHONE’ 


Dan inilah yang akan kita pelajari saat ini:

1. Bagaimana cara menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian dengan bahasa Inggris
2. Menyimak dan menirukan percakapan untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian
3. Berlatih bermain peran menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian

Okay are you ready? Lets start it now.

Sahabat Rumah Belajar, Have you ever made a phone call? Off Course, I’m sure you have made phone calls several times. Telephone has become familiar among us. Mobile phones have become part of our live.

Sahabat Rumah Belajar, Have you ever made an appointment? To meet a friend maybe. To see a dentist perhaps.

Pengertian 'Appointment' dan Fungsinya

Apa pentingnya membuat janji? Apalagi dalam bahasa Inggris?

Sahabat Rumah Belajar, era sekarang adalah era global dimana kegiatan bisa berskala mendunia. Kita bisa berhubungan dengan siapa saja dari seluruh penjuru dunia. Dan bahasa Inggris adalah salah satu alat komunikasinya. Misalnya:

Bisa saja terjadi di situasi membuat janji dalam hal urusan bisnis
Membuat janji untuk membahas beasiswa luar negeri dengan pihak universitas
Membuat janji bertemu dengan dokter atau tenaga medis saat kita memerlukan

Telepon merupakan salah satu media yang dapat kita gunakan. Dengan menelpon terlbih dahulu, kita dapat memastikan kapan dan dimana janji temu itu dapat terlaksana.

Kata Appointment dalam bahasa Indonesia bisa diartikan ‘janji’ – make appointment berarti membuat janji. Mengatur janji bertemu seseorang pada waktu dan tempat tertentu. Sinonim kata appoinment adalah : meeting, engagement, atau arrangement

ap•point•ment
/əˈpointmənt/

(noun)
an arrangement to meet someone at a particular time and place.
- For business
- See the doctor or dentist
Example: "The customer made an appointment with my receptionist"
synonyms: meeting, engagement, interview, arrangement;

Agar suatu saat nanti Sahabat Rumah Belajar tidak mengalami kesulitan,
ayo kita sekarang pelajari bagaimana cara menelpon dan menerima telepon dalaam bahasa Inggris untuk membuat perjanjian.

Cara Membuat Janji Melalui Telepon

1. Greet politely  and Introduce yourself

Sapalah lawan bicara kita dengan cara berbicara yang ramah dan sopan.  Kata yang umum digunakan saat menyapa lewat telepon misalnya : 'Hello '
Saat kita menelpon sebuah kantor atau klinik dokter, kita menggunakan bahasa yang lebih formal. Biasanya yang menerima telpon kita adalah sekertaris atau resepsionis. Maka setelah menyapa perkenalkan siapa diri dan mengapa anda menelpon.
Contohnya seperti berikut :

Good morning.
This is Rose calling. I’d like to make an appointment to see Mr. John.

Beberapa resepsionis kantor mungkin akan menanyakan alasan lebih lanjut untuk keperluan anda membuat janji temu. Sahabat Rumah Belajar mungkin akan mendengar pertanyaan seperti berikut :
  • Can you tell me what’s its about?
  • Can you tell me what it’s regarding?
  • Sahabat dapat menjawab dengan alasan yang ringkas dan jelas. Misalnya:
  • Yes, it’s about the new marketing strategy.
  • Yes, it’s about the advertising campaign

Jika Sahabat dijawab langsung oleh orang yang bersangkutan, bukan lewat resepsionis, Sahabat dapat langsung mengungkapnya sebagai berikut:

Hi / Hello/ Good afternoon. It’s Rose. Can we meet to talk about ....

2. Suggest the time and place

Jika yang menjawab telpon anda adalah lewat resepsionis. Sahabat akan mendengar frase seperti :
  • Ok. Let me take a look in his diary.
  • I can fit you in next Friday.
  • I can fit you in tomorrow evening.
  • Oh. His diary in full until next Monday.
  • I can’t fit you in until next Friday.
Dan Sahabat dapat menjawab seperti ini:
Reply:
Agreeing on a date
  • "Yes, Thursday is fine."
  • "Thursday suits me."
  • "Thursday would be perfect."
  • "That suits me well."
  • "That’s fine. What sort of time?"
Suggesting a different date
  • "I'm afraid I can't on the 3rd. What about the 6th?"
  • "I'm sorry, I won't be able to make it on Monday. Could we meet on Tuesday instead?"
  • "Ah, Wednesday is going to be a little difficult. I'd much prefer Friday, if that's alright with you."
  • "I really don't think I can on the 17th. Can we meet up on the 19th?"
Jika Sahabat berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan, Orang tersebut bisa menanyakan :
Sure! When suits you?
Sure! When would you like to meet?

Dan inilah beberapa ungkapan untuk membuat saran. Suggest the time or the place:
Making suggestions
  • What about next Monday? At your office?
  • How about next Monday?
  • How does next Monday sound?
  • Are you available next Monday?
  • Would you be available next Monday?
  • Would Monday morning suit you?
  • Would Monday morning be convinient?
Sahabat Rumah belajar, langkah selanjutnya saat bertelepon untuk membuat janji adalah ‘Check and Confirm’ .

3. Check and confirm

Sebelum mengakhiri telpon, Sahabat sebaiknya mengecek ulang tentang janji yang telah disepakati dan memastikannya. Tujuannya agar kedua belah pihak merasa pasti dan mengingat tanggal dan janji temu yang telah ditetapkan.

Frasa yang sering digunakan adalah :
Ok. So that’s Monday at 4 pm.
Shall we meet in the boardroom?
Shall I come to your office?
Thanks see you then.

Nah, Sahabat Rumah belajar itu tadi beberapa cara dasar untuk membuat janji melalui telepon. Itulah beberapa frasa Bahasa Inggris yang dapat sahabat gunakan. Sekarang, yuk kita berlatih. Let's get some practices!

Latihan Menyimak dan Bermain Peran

Untuk mengingat kembali beberapa cara dan frasa yang sudah kita pelajari. Mari kita dengarkan contoh percakapan berikut. Perhatikan dan catat, frasa apa saja yang digunakan dalam dialog yang diperdengarkan.
Dialog ini diambil dari podcast BBC Learning English.
Setelah itu, tirukan bunyinya dengan membaca keras frasa-frasa yang sahabat tuliskan.

Sahabat dapat pula mengulang - ulang frasa tersebut dengan menggunakan tombol pause and play.

Dialog ini terjadi dalam percakapan telepon antara Peter dan Michelle. Peter ingin membuat janji dengan atasan Michelle , yaitu Mr. Hibberd. Can you notice when and where the meeting will be held? Okay, listen carefully:




Setelah mengamati pemaparan dan video di atas, Sahabat dapat mengetes pemahaman sahabat dengan mengerjakan quiz berikut :
 Untuk berlatih berbicara, cobalah membuat dialog berpasangan bersama rekan anda dengan berbagai situasi yang berbeda. Pilihlah salah satu dari masalah berupa situasi berikut ini:
  • Anda adalah resepsionis di sebuah kantor universitas. Teman anda menjadi seorang penelpon. Teman anda sedang kebingungan mengenai beasiswa yang diterimanya. Teman anda kemudian ingin mengatur janji temu dengan dekan untuk membahas hal itu. 
  • Anda sedang berada di New York untuk sebuah perjalanan bisnis. Teman anda sebagai resepsionis klinik tersebut. Tiba-tiba gigi anda sakit. Anda kemudian menelpon klinik dokter gigi. 
  • Anda adalah seorang tim kreatif biro iklan. Anda mendapat customer dari sebuah perusahaan bidang fashion dari luar negeri. Anda menelpon kantor perusahaan tersebut untuk mengatur janji temu dengan Marketing Manager untuk membahas strategi pemasaran terbaru. Teman anda sekretaris yang menerima telepon anda.

Gunakan beberapa frasa yang telah anda pelajari sesuai kebutuhan. Jika masih merasa kesulitan untuk langsung berdialog, anda dapat menuliskan dialognya dulu. Setelah itu cobalah bermain peran.

Untuk mengecek pengucapan, rekamlah dialog yang anda lakukan bersama teman anda tersebut. Cukup rekam melalui handphone dalam bentuk Mp3. Minta guru atau teman untuk memberi masukan.

Sahabat Rumah Belajar,  semoga penjelasan diatas dapat membantu untuk memahami cara membuat janji melalui telepon dalam Bahasa Inggris. Jangan lupa untuk mengulang ulang di rumah ya.

Don’t forget to practice it. Practice will help you to memorize those expressions well. See you!

(materi ini sesuai dengan sesuai pelajaran Bahasa Inggris Peminatan atau Lintas Minat kelas XI - KD 3.6 / 4.6)

Untuk materi -materi Pelajaran Bahasa Inggris lainnya silakan bisa diklik disini, semoga ada sedikit manfaat:







Rabu, 15 Mei 2019

Apem Kukus Tradisional yang Ngangeni


Tradisi Membuat Apem

Menjelang Ramadhan, apem kukus ini merupakan salah satu hidangan khas yang menjadi bagian dari tradisi Megengan. Di beberapa desa di wilayah kota tempat tinggal saya, Wonogiri, tradisi megengan masih dilaksanakan. Saat ini memang tidak semua warga menyelenggarakannya. Keluarga kami termasuk yang tidak mewajibkan mengadakan acara megengan menjelang Ramadhan. Tetapi memasak dan menikmati apem tetap menjadi salah satu hal yang ngangeni, bikin kangen masakan tradisional buatan rumahan biasa.

Megengan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan. Di Wonogiri, megengan umumnya dilaksanakan sekitar dua pekan  sampai sehari menjelang puasa. Di beberapa tempat ada yang megengannya dilakukan secara berkelompok, di kebanyakan desa diselenggarakan per rumah secara bergantian. Rumah yang menyelenggarakan megengan mengundang tetangga-tetangga terdekatnya. Beberapa  menu makanan dihidangkan dan apem merupakan salah satu menu yang disajikan. Untuk kisah menarik Ramadhan dari blogger lain silakan baca disini

Gadis kecil saya yang pernah melihat acara ini menjadi penasaran dengan pembuatan apem yang disajikan oleh pemilik rumah. Ada dua macam apem yang disajikan yaitu apem goreng wingko dan apem kukus. Bentuknya yang seperti conthong atau kerucut menjadikannya tampak beda dan menarik.
"Eh . dibungkus dhong nongko , lho buk!" serunya ingin tahu. Hap..hap.. tahu - tahu sudah beberapa bungkus dilahap.

Lha ini rahasianyaaa.. dikukus memakai godhong atau daun nangka. Apalagi jika dikukus menggunakan kukusan bambu di tungku api tradisional. Woow..rasanya yang legit manis dipadu aroma khas akan membuat kita terkangen kangen. Aromanya akan lain jika adonan apem ini dibungkus menggunakan daun lain yang lebih umum dipakai, daun pisang misalnya.

Maka meskipun kami tidak merayakan megengan, kami ingin mengenalkan cara pembuatan kue tradisonal kepada gadis kecil kami itu. Kebetulan ada Budhe Tun, saudara dari ibu saya, yang pandai memasak kue tradisional ini. Prosesnya memang sedikit rumit bagi saya yang tak pandai bikin kue, dikukusnya juga tidak memakai tungku api tradisonal, tapi hasilnya tetep syedaap dan bisa mengobati rasa kangen.

Resep Kue Apem Kukus Bungkus Daun Nangka

Hari itu niat banget bahan-bahannya disediakan sejak awal. Ini karena dalam membuat kue apem ini ada proses membuat ragi sendiri dari tape singkong yang memerlukan waktu tidak sebentar.

Ini dia bahan - bahan yang diperlukan untuk membuat apem conthong daun nangka:

500 gram Tepung beras
400 gram gula pasir atau gula jawa
3 bungkus kecil tape singkong (haluskan)
1/2 sdt ragi instan (optional)
1 mangkuk sedang santan kental dari 1 butir kelapa
Garam secukupnya
3 lembar daun pandan

Cara pembuatan yang pertama adalah membuat 'jladren' atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut adonan. Berikut cara lengkap membuatnya:

  1. Tape singkong dibuang seratnya, lalu dilumat-lumat dengan tangan.
  2. Tambahkan tepung beras dan gula pasir atau gula jawa sedikit demi sedikit berselang - seling sambil terus diuleni
  3. Tambahkan santan sedikit demi sedikit untuk mengencerkan adonan
  4. Masukkan ragi instan atau ada yang menyebutnya obat apem sambil diaduk
  5. Bila semua bahan tercampur, tutup wadah adonan/ jladren dengan kain bersih
  6. Diamkan jladren sampai mengembang (lamanya terserah, ada yang cukup satu dua jam, ada yang mendiamkannya sampai 5 jam)
  7. Buat conthongnya dari daun nangka yang disematkan dengan lidi
  8. Setelah mengembang, adonan dimasukkan ke conthong-conthong tersebut
  9. Kukus hingga matang sampai sedikit merekah (sekitar 20-30 menit)

Membuat conthong dari daun nangka
Hati-hati menuang jladren ke tiap conthong

Gadis kecil kami excited sekali saat menuangkan jladren yang sudah jadi ke conthong daun nangka. Sepulang sekolah dia langsung ikut membantu sampai tidak sempat ganti baju dulu. ehehe.. Semangaatnya! Dia agak kesulitan saat membentuk daun nangkanya menjadi bentuk conthong. Daunnya yang masih segar dan agak keras jadi menyulitkan untuk dibentuk. Si bapak sampai akhirnya turun tangan membantunya. Rasanya makin lezat saat menikmati apem conthong dong nongko panas-panas hasil buatan sendiri.

Sejarah Apeman dari Tanah Jawa

Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa istilah apem itu sebenarnya dari bahasa Arab, yaitu afuan/afuwwun yang berarti ampunan. Dalam filosofi Jawa, kue tradisional ini dianggap sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Lalu lidah orang Jawa kemudian menyederhanakannya menjadi apem.

Nah saat tradisi membuat apem dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan atau Idul Fitri, itu mereka maksudkan untuk saling meminta maaf menjelang hari suci tersebut. Dimaksudkan untuk menyambut bulan Ramadhan yang istimewa dan Idul Fitri yang suci dengan diri yang bersih dari dosa, meminta ampunan dari Allah SWT. Tradisi yang diadakan menjelang Romadhon disebut megengan. Yang menjadi pro kontra adalah ketika ada unsur memberi sesajen dalam acara tersebut. Ya pendapat orang bisa beda-beda sih. Semua punya dalil masing -masing. Tapi yang jelas si apem itu tidak ada salahnya dinikmati sebagai kudapan tradisional. Apalagi apem conthong daun nangka ini. Lezaaat dan ngangeni.

Kalau ditilik dari sejarahnya. Si apem ini alkisah bermula dari zaman Sunan Kalijaga, salah seorang bagian dari Wali Sanga yang termasyur itu. Menurut cerita, seorang murid Sunan Kalijaga yang disebut Ki Ageng Gribig atau Sunan Geseng, waktu itu pulang dari ibadah haji. Beliau melihat penduduk desa Jatinom, daerah Klaten, banyak yang kelaparan.

Tergerak membantu warga tersebut, Ki Ageng Gribig membuat kue apem lalu dibagikan kepada penduduk yang kelaparan. Untuk mengenalkan mereka pada Islam, beliau mengajak mereka mengucapkan lafal dzikir Qowiyyu ya Qowiyyu (Allah Allah Maha Kuat). Para penduduk itu pun kemudian menjadi kenyang, terbebas dari rasa laparnya. Ini kemudian memotivasi penduduk setempat untuk terus menghidupkan tradisi upacara Ya Qowiyyu setiap bulan Safar. Gunungan apem besar diarak untuk kemudian dibagi pada masyarakat yang berkumpul di acara tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan bersedekah lebih banyak.

Acara Ya Qowiyuu di Klaten (gambar diambil dari antara.com)

Falsafah Dibalik Kue Apem

Kalau dipelajari lebih mendalam, kita dapat mempelajari falsafah dalam pembuatan kue apem tersebut. Jadi tak hanya enak, kue kukus tradisional ini juga memiliki makna yang mendalam.
Begini falsafahnya kalau dikaji dari bahan-bahan pembuatannya.

Apem itu kan bahan utamanya adalah tepung beras, dalam bahasa Jawa disebut 'glepung'. Kalau diamati, bentuk glepung itu kan seperti debu halus. Maka secara falsafahnya, glepung itu debunya jagad, debu semesta. Seperti sebuah gunung api, ketika erupsi akan menutupi bumi dengan debu, bersamaan dengan lelehnya lahar. Laharlah si santen. Santen, air perasan dari daging buah kelapa yang merupakan perlambang dari susu buah kehidupan, akan nguleni glepung. Glepung yang berasal dari padi itu dianggap sebagai buah dari tanah kehidupan. Sebuah kombinasi harmonis dari kehidupan yang ideal. Apalagi jika santen yang digunakan santen kanil berkualitas bagus, santen yang paling kental, apem yang dihasilkan akan luar biasa.

Bahan-bahan tadi kemudian diaduk dalam satu wadah yang disebut 'jladren'. Kata jladren itu sendiri berasal dari kata jaladri yang berarti samudera; simbol air kehidupan yang luas. Maka jladren bermakna adonan yang berbentuk tiruan rupa samudra. Kalau menurut saya, ini dapat juga dijadikan sebuah pemaknaan agar manusia pembuat dan penikmatnya selain hidup harmonis, merasa sekecil debu, juga menjadi mempunyai ilmu dan kesabaran seluas samudra.

Jladren apem itu kemudian perlu dienengke atau didiamkan beberapa waktu. Tujuannya agar meneb dan mengembang jika didang (dikukus). Jadi manusia itu tidak boleh grusa-grusu, tidak mudah pula sombong, tapi harusnya meneb.. berdiam barang sebentar untuk menjaga ketenangan diri. Meneb nya bisa dengan bersimpuh menenagkan diri saat sholat dan berdzikir dengan khusuk.

Jadi secara garis besar falsafah yang terkandung dalam kue apem ini mencerminkan keharmonisan manusia sebagai bagian dari tata kosmos yang seharusnya dijaga tetap harmonis. Baik antar manusia, alam dan dengan Tuhannya. Tentu saja falsafah kue apem seperti ini mungkin akan anda temui beberapa versi lain, temasuk asal-usul sejarahnya. Yang penting maknanya baik.

Ah, gadis kecil saya sih belum begitu paham akan semua falsafah itu. Apem conthong bungkus daun nangka itu tetap terlihat istimewa. Dan rasanya yang lezat, cara membuatnya yang unik membuat kue kukus tradisional ini semakin ngangeni.

Bagaimana dengan kue tradisional di daerah anda? apakah juga mempunyai sejarah dan falsafah semenarik apem? Yuk mari lestarikan kuliner tradisional yang ada disekitar kita.


  Salam,










Selasa, 07 Mei 2019

Menulis adalah Sedekah ala Jenius Writing

Meski hanya sekedar lewat tulisan, saya ingin berbagi. Kalau kata coach menulis saya di komunitas Jenius Writing, Luthfi Coachwriterartists, Menulis adalah sedekah. Menulis dari hati, jika diniatkan untuk kebaikan bisa saja menjadi ladang sedekah kita. Begitu.


Saat mengikuti kelas offline JW Batch Wonogiri di Padi Resto

Tahun 2018 lalu, seorang teman lama saya mengajak ikutan kelas menulis yang bernama Jenius Writing. Waktu itu kebetulan diadakan kelas offline di Wonogiri. Bismillah saya berangkat. Menarik sekali konsep yang diajarkan oleh Coach Lutfi di sepanjang acara hari itu. Itulah kemudian yang mendorong saya untuk ikutan kelas menulis online nya JW di kemudian hari.

Salah satu konsep yang diajarkan di JW adalah bahwa menulis itu bisa jadi sarana sedekah; jika apa yang kita tulis dapat mengajak orang lain untuk belajar kebaikan, jika dengan kalimat yang kita rangkai, orang lain tergerak untuk melakukan hal baik. Pun jika dengan tulisan kita orang lain merasa terhibur, selama kita niatkan ikhlas untuk kebaikan, itu kan bisa juga seperti sedekah. Jadi berpahala juga.

Oke, back to JW, jurus- jurus di JW itu kebanyakan mengusahakan agar otak kanan kita lebih aktif saat menulis. NGANAN jangan NGIRI!
Itu slogan yang selalu ditekankan coach saat sesi latihan, baik offline maupun online. Kenapa? Karena belajar nulis itu ya nulis aja. Jangan terlalu banyak berpikir. Gunakan sisi spontan, jenial dan kreatif ! Dan itu letaknya di kamar otak kanan. Salah kamar akan membuat kita bisa mudah stuck dan tidak kreatif saat belajar menulis. Mati gaya. Lhooh kok gitu?!

Tak apa , awalnya saya juga protes gak jelas gitu. Apalagi saya ini guru bahasa , biasa menulis secara terstruktur. Malah komplit dengan drafting yang rapi. Tapii, setelah saya terlibat langsung sesi demi sesi latihan, saya menyadari bahwa memang konsep nganan itu sangat penting untuk menuju keteraturan menulis lewat otak kiri. Nganan itu ibarat pemantik nyala apinya, ngiri itu menata alunan jilatan apinya.

Jadi gini, kalau kita mau belajar menulis, trus belum-belum kita ingin sibuk menata besar kecilnya api -lha apa ya bisa- kalau apinya saja belum kita pantik dengan benar. Api belum membesar , kita sudah sibuk aja ngipasi dengan bertubi-tubi. Apa yang terjadi? Naah kan.. apinya malah bisa mati begitu saja.

Ajaibnya, ketika saya asyik menggunakan otak kanan untuk belajar menulis bersama JW, saya mendapati kemampuan menulis saya yang bersifat akademis ikut meningkat pesat. Dengan sendirinya saya dapat terbantu untuk menulis laporan kegiatan, artikel ilmiah,maupun penelitian secara teratur.

Buktinya dengan menulis laporan kegiatan Laskar Aksara saya dapat ke Jakarta gratis, dengan menulis penelitian tentang pembelajaran di kelas, saya ditawari jadi pembicara seminar SEAMEO yang akan diselenggarakan di Bogor. Beberapa artikel saya juga bisa masuk koran tanpa editan yang berarti dari editor. Rejekipun bertambah, jatah sedekah ke yang membutuhkanpun bisa ikut bertambah.

Alhamdulillah, tulisan ilmiah saya diapresiasi dengan baik bahkan oleh lembaga-lembaga bergengsi,padahal sebelumnya saya itu hanya guru biasa banget, jarang tampil. Belum pernah ikutan kompetisi-kompetisi semacam itu. Kata orang, tulisan saya terasa lebih runtut dan mudah dipahami. Saya pun kadang sampai terheran-heran sendiri. Practice makes perfect itu memang nyata adanya.

Logo JW

Ini ya-saya beri contoh kegiatan latihan menulis di JW. Seru dan dilakukan dengan cepat. Balapan dengan peserta lain. Coach akan cerewet dan jutek untuk memastikan kita tidak terlalu banyak mikir. Soal editing, itu bisa nanti-nanti. Kobarkan dulu nyala apinya. Itu yang penting.

Pertama: tulis 16 nama buah. Cepat! Tambahi kata sambung. Lekatkan kata sifat provokatif di belakangnya. GPL; Ga Pkai Lama! . Pilih nomer 4 sebagai judul, jadikan 3 empat paragraf. langsung tulis! Begitu selesai upload di Facebook. S e g e r a!

Begitu salah satu contoh sesi latihan menulis di JW. Adaa aja yang beda di setiap sesi latihan. Membuat kita terpacu menulis, tanpa bosan-bosan. Misalnya ini salah satu contoh hasil menulis saya secara spontan di sesi latihan itu:

DUREN YANG MUDAH JUTEK

Sepet. ‘Mana ada duren sesepet ini?’ protes seorang ibuk-ibuk. Merepet suaranya gemontang di sebuah lapak buah kecil di pinggiran kota. “Duren itu HARUSNYA wangii, manis dan legit!”

Kecut. Si bapak penjual yang rambutnya sudah memutih itu mengkeret tersemprot omelan si ibuk pembeli. “ Gek siapa to buuk yang mengharuskan durian itu Kudu manis-legit – harum pula?” keluhnya lirih. Stengah berharap si ibu tetap membayar duren yang sudah terlanjur dibelah.

Asem. Warna muka si ibuk sudah bagai emotikon senyum kebalik dengan sungu merah diatasnya. Siap ngamuk. Meski mulutnya tak juga berhenti mengunyah.  Mengacak acak pongge duren dengan kesal. Diunjuk – unjukkan dengan muka super masam. Tanpa ampun tepat di muka bapak penjual. “Niih liaat dari ponggenya saja jelass dapat diketahui kalo duren ini sepet!” . tetep sambil ngunyah.

Nyengir. Senyum bingung tak habis pikir si bapak penjual. Welah segala pongge jadi ukuran. Bagaimana tahu coba pongge kan letaknya di dalam. Heran. Orang kalau sedang kesal ukurannya bisa berubah ubah. Jangan – jangan sebentar lagi bilang bahwa sepetnya terlihat dari ukuran duri-durinya yang tidak simetri!

Semakin geram si ibuk. “si bapak ini gimana to? Kok malah nyengir nyengir gak jelas.” Si bapak semakin bingung menjawabnya. Lhah si ibuk ngomel tapi duren tetep disikat. “sepet tapi kan enak to buk?”  mencoba berkilah demi melihat mulut si ibuk yang belepotan.

Jutek tingkat dewa. Si Ibuk tak terima,”Enak gimana to.. sepet gini!.” Si bapak akan mangap menjawab – “sepet kok hab...  “, si ibuk segera memotongnya, “ Kalo jualan yang bener dong!”
Semakin nyengir si bapak penjual. Sudah pikirnya tak mungkin menang melawan yang emosian macam ini. “ini saya jualannya sudah bener lho buk. Wangi wangi kan duren saya. Tapii ya gimana lagi, memange mudah apa menebak isi duren? Saya juga hanya bisa menebak – apa durennya semanis wanginya...apa durennya selegit aromanya. Yang PENTING MILIH RIYIIN buuk...  Yang penting milih dulu.”

“Kalo pas dapat yang ternyata tidak sesuai harapan-ternyata yang agak sepet gitu  - yaa jangan terlalu jutek laahh. Bikin pendek umur!” lanjut pak penjual. Dalam hati saja.

“Pokoknya saya minta ganti !,” si ibuk bersungut-sungut sambil mengelap tangannya sambil lalu.

"Buat ibu, aapa sih yang tidak," si bapak mencoba mencairkan segala kejutekan di antara buliran durennya. "Ini sila ibu bawa pulang."

Si ibu tersenyum di ujung bibir menerima sebongkah durian besar dari si bapak penjual.

Tanpa disadari, di sisi kanan lapak itu, seorang lelaki muda perlente mengamati alur drama duren jutek sepanjang pagi itu. Kagum dia dengan keramahan dan keiklhasan di bapak penjual. Berdagang bukan hanya diniatkan mendapat laba semata. Didekatinya bapak penjual duren itu.

"Begini, pak...saya mau menawarkan kerjasama agar bapak bisa mensuplai buah durian secara berkala di supermarket-supermarket saya. Nanti kontrak kerjasa.." Dihentikannya bicara demi melihat si bapak penjual terlihat gelisah. "Kaget mungkin , dengan penawaran besarku ini. Ini kan cuma lapak duren biasa saja," pikir lelaki muda kaya itu dalam hati.

Ehmm..anu ..itu adzan.. saya kalau boleh mau ke mushola sebelah sana dulu" tangan si bapak menunjuk sebuah surau kecil di seberang jalan.

Tak terima , seorang ajudan pemuda itu menyerobot, " Bapak, ini gimana to.. ini Tuan saya sedang bicara. Anda itu ditawari transaksi penting kok malah pergi!"

"Aduuh,maaf, maaf... jangan jutek jutek gitu to, masnya. Bisa-bisa duren saya jadi sepet semua kalau setiap pembeli yaa datang ngomel-ngomel jutek." si bapak mencoba meminta pengertian.

Si pemuda bekemeja mewah itu tak ragu kemudian merangkul bahu berkaos dekil si bapak penjual duren. "Ah.. ya.. bapak benar. transaksi ini cuma urusan dunia yang bisa menunggu."

pixabay'spicture
Begitulah cerita saya belajar menulis bersama JW. Masih berliku sih jalan saya untuk bisa semakin mahir menulis. Tapi saya tak mau patah semangat. Salah satunya ya belajar menulis di blog ini secara teratur. Belajar nulis apa sajaa, yang penting nulis. Karena belajar menulis itu ya dengan  - nulis.

Ini dia contoh lain tulisan fiksi saya hasil latihan. Silakan baca disini:  menulis-cerpen-tema-hijrah-bukan-tamu-biasa

Terima kasih sudah berkunjung di saung sederhana saya ini. Terimakasih sudah menjadi teman saya untuk berbagi. Lewat blog ini saya ingin belajar menulis. Belajar berbagi. Belajar bersedekah lewat untaian kata.









Minggu, 21 April 2019

Sekolah Harusnya Bebas Bullying; Inspirasi dari Buku ‘Jangan Berhenti Bermimpi’

Menjadi korban bullying itu tidak enak. Menyesakkan dada. Apalagi terjadinya di sekolah idaman favorit.  (Hal.100)

Itu adalah curahan hati seorang anak remaja yang menjadi tokoh utama di buku yang sedang saya baca. Sebuah buku yang ditulis dengan sepenuh hati oleh seorang bunda istimewa dari Bekasi.  Bunda Is saya menyebutnya, nama lengkapnya adalah Madaniyah Isfandriati.  

Bunda mana yang tidak sedih ketika kemudian putra kesayangan itu menyatakan mogok sekolah SMA. Mau jadi apa anak itu nanti? Apakah masih ada kesempatan untuknya bermimpi setinggi bintang? Untuk seluruh kisah yang akan menjawab tanya itulah, buku ini diawali dengan judul : 
JANGAN BERHENTI BERMIMPI.



Bullying Menjadi Titik Balik

Akhir – akhir ini media disekitar kita diramaikan oleh berita mengenai kasus bullying atau perundungan yang dialami dan dilakukan oleh remaja. Tagar saveaudrey terus menjadi trending topic sepekan ini.

Miris. Sekolah yang harusnya menjadi tempat belajar malah menjadi salah satu arena tumbuhnya bullying. Dua belas pelajar putri telah begitu tega menyakiti secara ejekan maupun kekerasan fisik terhadap seorang gadis remaja lain. Kita harusnya bisa belajar dari kasus ini.

Di dalam buku bersampul biru inipun, ada secuil kisah bullying yang kemudian menjadi titik balik. Menjadi momen dimana anak tersebut, dan keluarganya,  harus berhenti sejenak dan memikirkan langkah apa yang kemudian harus ditempuh agar pendidikan si anak tidak berhenti ditengah jalan. Sebuah masa yang berat untuk dilalui.

Bullying memang tidak harus dalam bentuk ditampar, dipukul atau disakiti secara fisik. Bullying bisa juga dalam bentuk memaksa untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran atau perasaan seseorang. Inilah yang dirasakan Andri, si tokoh utama dalam buku ini.

Saat masa orientasi siswa masuk SMA, dia merasa terluka saat dipaksa dengan kasar oleh kakak senior memakan sayur sop yang sudah mereka tuangi air mineral. Bayangkan saja bagaimana enegnya. Itu hanya karena sop yang dibawa Andri ke sekolah hari itu kuahnya tumpah. Terburu buru berangkat saat MOS membuat tutup wadahnya kurang rapat.

Sebuah kesalahan yang tidak disengaja dihukum dengan perlakuan begitu keras tanpa konfirmasi. Yes, that's a kind of bullying.

Ah, apa susahnya sih makan sopnya. Mungkin bagi beberapa anak , itu hal yang bukan masalah besar, tapi bagi anak tertentu cara makan dengan diperlakukan seperti itu bisa sangat melukai harga dirinya. Bukan masalah makannya. Tapi lebih karena kekasaran berlebih atas suatu kesalahan yang bukan disengaja.

Waktu itu bullying bahkan bisa masuk dalam sebuah kegiatan resmi sekolah atas nama MOS; Masa Orientasi Siswa.

Bersyukur MOS sekarang sudah berubah bentuknya. Kekerasan fisik sudah tidak diperbolehkan. Kata-kata teriakan kasar dan perintah yang mengada-ada dan tidak mendidik harus dihapuskan. Sekarang saat MOS, sekolah harus mengadakan kegiatan yang bersifat mendidik. Melatih siswa untuk tertib dan disiplin boleh, tapi tidak dengan cara yang kasar. Memang kegiatan sekolah harusnya bebas bullying.

Bagi Mas Andri, masalah yang dialaminya saat MOS itu ditambah dengan beratnya tuntutan padatnya kegiatan sebuah sekolah favorit. Semakin tak nyaman hatinya. Ditambah kemudian perlakuan seorang guru kembali menyakiti perasaannya. Bagi Andri, it can be another kind of bullying.

Yah, memang di beberapa kasus, guru kadang memang bisa ikut merasa terbebani dari tuntutan sekolah demi mengejar tumpukan prestasi akademik. Hati-hati, inilah celah yang bisa saja menimbulkan bullying dari pihak guru kepada siswa.

Saya sendiri guru, saya juga kadang merasa bisa terbebani saat sekolah menekankan untuk terus berusaha mempertahankan prestasi akademik seluruh murid untuk terus berada di puncak. Jangan sampai kalah dengan sekolah lain. Padahal namanya juga murid, tiap tahun juga berubah. Kemampuan murid – murid tahun ini bisa berbeda dengan murid-murid tahun sebelumnya.

Kalau tidak disabar-sabarkan , yang bisa muncul adalah umpatan verbal yang membodoh-bodohkan si murid yang terlihat lamban mengejar prestasi. Kalau tidak berkepala dingin, yang bisa tampak adalah bullying berupa ejekan terhadap karya murid yang tidak sejalan dengan mau si guru atau sekolah.

Tokoh Andri dalam karya ini kembali terluka saat guru keseniannya berkata yang tidak semestinya atas karya musiknya. Memang karya Andri mungkin tidak sesuai dengan pakem yang dimaui guru atau tidak pas dengan tuntutan kurikulum seni saat itu. Akan tetapi, tetap saja saat guru, sebagai orang dewasa, kemudian memojokkan begitu saja tanpa memberi kesempatan pada si anak untuk menjelaskan, itu bisa saja sebuah bentuk bullying yang lain disekolah.

Bullying di sekolah bisa berkesempatan muncul di berbagai lini sekolah. Dan jika terjadi, itu bisa saja menghancurkan harga diri seorang siswa. Tujuan untuk mendidik anak agar mau belajar pun menjadi sia-sia. Tak tercapai.

Salah satunya adalah kemudian si anak mogok sekolah. Inilah yang kemudian terjadi pada Andri.

Ayah bundanya tergagap saat Andri menyatakan mogok sekolah SMA. Bahkan untuk bangkit dari tidurpun, Andri mesti ‘perang’ dulu dengan diri sendiri. Berangkat sekolah menjadi beban yang sangat berat bagi dirinya. Beruntung ayah bundanya masih bisa bersabar menghadapinya. Beruntung dia kemudian tidak terjerumus ke pergaulan yang buruk. Beruntung kemudian anak ini diarahkan oleh Ayah Edy , seorang pakar parenting terkenal itu.

Andri kemudian beralih ke HS – Home Schooling. Tapi tahun itu, 2009, HS belum menjadi hal yang berterima luas seperti sekarang. HS terlihat sebagai anak yang tidak sekolah. Cibiran berikutnya diterimanya, “Masa bundanya pegawai kantoran lulusan UGM, Bapaknya juga pegawai negeri berpangkat tinggi, S3 pula – anaknya kok ga sekolah.” (hal.104)

Tetapi ayah bundanya sepakat untuk menutup telinganya seolah-olah tak mendengar. Keluarga itu terus belajar bersabar dan mengabaikannya. Apalagi kemudian kedua adik Andri juga mengikuti jejaknya untuk HS. Bundanya pun kemudian sampai resign dari pekerjaan mapannya. Salah satu tujuannya adalah tentu saja untuk lebih membersamai Andri dan adiknya.

Dalam hati Andri bertekad, bahwa 4 – 5 tahun lagi , dia akan bisa membuktikan bahwa dia akan berhasil, walaupun bukan dengan jalur sekolah formal. Kuliah di Jepang adalah cita-citanya. Menjadi seorang ahli peneliti terumbu karang terbaik di dunia. Demi impian untuk menjaga terumbu karang di  lautan Indonesia agar menjadi tempat bernaungnya ikan dan segala ekosistem laut. (hal. 10)

Tapi perjalanan untuk meraih mimpi mendapat beasiswa kuliah di Jepang tidak mudah.  Itulah yang kemudian diceritakan lebih lanjut di buku ini. Akan lebih nges jika anda baca sendiri kisahnya melalui kalimat kalimat sederhana yang tertutur di buku ini.


Review Buku ‘Jangan Berhenti Bermimpi’

Saya sudah membaca buku Bunda is yang pertama, yang berjudul ‘ Rumahku Sekolahku.’ Kebetulan kami tergabung di group kepenulisan yang sama; Jenius Writing , atau yang biasa disingkat JW.
Artikel tentang JW dapat anda baca disini :

Menulis-adalah-sedekah.html

Tahun lalu, seingat saya sekitar setelah Idul Fitri, saya berkesempatan bertemu dengan Bunda Is dan suaminya, Bapak Supra serta salah satu putranya.  Acara itu dilaksanakan di Hotel Aziza Solo, digagas oleh beberapa anggota komunitas JW di Solo. Beruntung saya bisa datang, setelah berhasil membujuk adik saya untuk membantu momongke kedua krucil saya. Soalnya kalau diajak, saya yakin kedua anak saya itu paling ndak betah duduk lama dan rewel.

Acara itu berlangsung dengan hangat, itu karena memang keluarga itu humble banget. Tidak mau dianggap pemateri, Bunda Is dan Bapak Supra bergantian berbicara, dengan konsep sharing.

Bincang-bincang hangat mengenai pengalaman mereka membesarkan ketiga putra mereka melalui HS. Tapi mereka bukannya antipati sekolah formal lho. Hanya saja kebutuhan dan keadaanlah yang membuat mereka memutuskan HS sebagi sarana belajar putra-putra mereka.

Kisah mas Andri ini sebagian sudah diceritakan dan juga dituliskan di buku pertama. Tetapi buku kedua ini tidaklah sama konsepnya dengan buku pertama. Dan ini pendapat saya mengenai buku ini.

Seorang pereview katanya sebaiknya bisa mengupas positif dan negatif nya suatu buku. Baiklah, sebagai pereview yang ingin dikatakan baik, hehe, saya sampaikan dulu hal yang kurang sreg dari buku ini. Maaf ya Bunda Is, saya menemukan beberapa typo di buku ini. Misanya kata biaya terketik menjadi biayah, kata bayar terketik bayahr, atau terketik Alhmdulillah.  Haha .. rewel banget sih ya saya. Maklum ya bund, saya kan guru bahasa, kerjaannya mengamati dan mencari kesalahan tulisan siswa. Tapi typonya tidak sampai fatal mengganggu arti keseluruhan teks kok. Hanya saja akan lebih perfect jika typonya tidak ada sama sekali.

Dibalik keluhan remeh saya itu. Saya cukup terkejut dengan pilihan alur terbalik yang dipilih Bunda Is di buku kedua ini.

Jadi tidak dikisahkan dari mulai awal mula kecilnya mas Andri sampai besar. Ceritanya malah bermula dari kegelisaha Andri dulu dalam memperoleh beasiswa kuliah di Jepang. Lalu bab bab  berikutnya tentang menyelesaikan skripsi, pengalamannya HS, masa SMA dan SMP, SD dan masa kecilnya. Jadi di tengah jalan, kita bisa ber ‘Oooo tadinya begini to’. Dan itu -  Menarik. Jadi tidak membosankan.

Kalau di buku pertama, Bunda Is, menulis dengan menempatkan diri sebagai ibu. Di buku kedua setebal 146 halaman ini, Bunda Is ajaibnya memilih menempatkan diri dari sudut pandang si anak, sebagai tokoh ‘aku’ yang mengacu pada Mas Andri.

Memilih sudut pandang ini menurut saya membuat buku ini menjadi lebih kuat. Kita merasa dituturkan langsung oleh si tokoh utamanya. Dan seperti obrolan di dunia nyata, kisah yang diceritakan langsung oleh pelakunya kadang jadi terasa lebih istimewa.

Jika ingin memiliki buku ini, anda bisa berhungan langsung dengan penulisnya lewat Facebook dengan nama akun Madaniyah Isfandriati. Saya yakin beliau akan menyapa dengan ramah dan hangat. Memang begitulah beliau biasa bertutur kata. Buku Jangan Berhenti Bermimpi ini diterbitkan secara indie lewat penerbit Edwrite Publishing.

Kisah di buku ini adalah berdasar kisah nyata putra sulung Bunda Is yang bernama Andri. Sekarang Mas Andri ini sedang melanjutkan study di Kyusu University Fukuoka Jepang dengan beasiswa. Sesuai dengan passionnya, belajar tentang konservasi terumbu karang.

Meskipun tidak mudah, Andri telah berhasil mencoba bangkit melawan keterpurukan. Mencoba menatap masa depan yang tak sesuram bayangannya dulu. Untuk detail kisahnya, silahkan anda nikmati sendiri buku ini halaman demi halamannya.

Bersama Bunda Is, berkerudung hijau tua di tengah anggota komunitas Gen JW Solo

It Should be No More Bullying at School

Dari buku ini saya terinspirasi untuk lebih berhati – hati dalam bersikap atau bertutur saat di depan kelas.

Siapa tahu sikap atau tutur kata saya itu ada yang berlebihan sehingga terasa menjadi bullying bagi sebagian siswa. Karena siswa-siswa itu pada dasarnya kan anak-anak yang unik , berbeda karakternya. Apalagi, guru dan sekolah sekarang juga semakin didorong untuk melakukan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah. Guru dan sekolah harusnya selalu membuka komunikasi terbaik dua arah dengan orang tua siswa untuk membangun karakter baik siswa.

Pada akhirnya, kita semua sungguh berharap tidak ada lagi siswa yang melakukan bullying atau perundungan. Kisah Audrey maupun kasus bullying lainnya semoga tidak terjadi lagi pada remaja-remaja, apalagi di sekolah.

Semoga sekolah bisa merangkul siswa-siswanya untuk bisa saling menghormati dan sayang teman. Tiap sekolah akan bisa menjadi rumah kedua anak-anak kita yang bebas dari bullying. Sehingga anak –anak kita itu akan bisa mencari cara terbaik untuk menemukan dan mengasah bakatnya. Untuk tidak berhenti bermimpi. Karena masa depan adalah milik mereka yang percaya akan indahnya impian.

" The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams." - Elanor Roosevelt









Senin, 08 April 2019

UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

Tren membanjirnya komentar siswa di laman Instagram @kemdikbud.ri masih terjadi di UNBK 2019 kali ini. Banyak yang terkesan becandaan seperti:
@alipbanana “Saya tau pak tadi itu cuman april mop, jadi kapan soal yang aslinya pak?”  atau
@cindiwahyudi tadi waktu ngerjain, saya Cuma bisa nyanyi lagu hmmmm 2 jam pak."

Beberapa lainnya menumpahkan keluhan dengan lebih serius setengah putus asa :
@danndmk_Menurut pendapat saya, UN itu sangat menambah beban pikiran:"
@mardiyana_mardiyana Bikin soal mah gampang,Bicara mah gampang. Tp kenyataan di lapangan sangat berbeda,Blm yg komputer hang,blm yg lain2nya.

Lalu apakah komentar dan keluhan dari para generasi milenial dan generasi Z itu hanya untuk lucu-lucuan saja? Untuk ditertawakan bersama dan dianggap angin lalu sebagaimana layaknya tren sesaat.


Review UNBK 2019


Seperti kita tahu, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 untuk tingkat SMK dan SMA telah selesai dilaksanakan. Pada 25 - 28 Maret 2019 telah diselenggarakan UN untuk jenjang SMK. Sedangkan UN untuk jenjang SMA/MA  telah terlaksana pada tanggal 1,2, 4 dan 8 April 2019. Dan untuk UNBK SMP/MTs  akan dilaksanakan 22-25 April 2019.

Sebagian besar sekolah di Indonesia telah melaksanakan UN dengan sistem UNBK. Untuk jenjang SMA, sebagai contoh, 97,8 persen berupa UNBK dan hanya 2,2 persen yang paper based. Ada tiga pelajaran utama yang diujikan di UN yaitu ; Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Untuk SMA ditambah satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan yang diambil siswa.

Masih ingat bagaimana dulu waktu sekolah kami menyelenggarakan UNBK untuk pertama kali di tahun 2015. Pontang-panting sekolah menyediakan komputer dalam jumlah banyak untuk siswa kelas XII yang jumlahnya hampir empat ratusan. Laboratorium komputer hanya berjumlah dua buah dengan komputer yang beberapa dalam keadaan rusak. Akhirnya ditambah sebuah lab tambahan, laptop guru semua dipinjam sekolah, beberapa laptop siswa juga dipinjam sekolah. Apalagi pernah waktu itu hujan angin, dengan banyak petir, sehingga servernya rusak. Wah, pengalaman pertama memang mendebarkan.

Sekarang setelah penyelenggaraan UNBK sudah semakin meluas, sekolah kami tidak lagi kesulitan mengadakan UNBK. Komputer sudah tersedia dalam jumlah yang cukup untuk diselenggarakan dalam tiga sesi. Tidak lagi perlu ada acara pinjam meminjam laptop. Proktor dan teknisi pun sudah semakin terlatih dan terampil. Hampir tidak ada kendala yang berarti pada teknis dan sarana prasarananya.

Suasana pelaksanaan UNBK di SMA N 2 Wonogiri pada 4 April 2019

Hanya saja, setelah UNBK untuk jenjang menengah atas yang telah terlaksana, saya amati kok keluhan siswa masih ada juga dalam jumlah yang tidak sedikit. Well,  anggapan saya sih, itu karena para peserta UNBK ini adalah anak-anak siswa SMK, SMA atau SMP yang merupakan bagian dari generasi Z. Dapat dikatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Sebuah generasi yang yang sudah begitu akrab dengan kecanggihan teknologi dan internet. Mereka sudah tidak asing dan bahkan multitasking untuk urusan ini itu sebagai bagian keseharian mereka. Dalam satu waktu mereka bisa saja nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik memakai headset. Mencurahkan pendapat dan keluhan melalui media sosial sudah menjadi hal umum.

Fenomena ramainya keluhan dari siswa peserta UNBK di laman instagram @kemdikbud.ri telah mencuri perhatian. Trend ini memang mulai booming sejak UNBK 2018 lalu. Dan di tahun ini pun berbagai curhatan lucu atau keluhan serius terlihat juga membanjiri linimasa media sosial. Benarkah itu semua hanya guyonan? Saya pun penasaran.

"Eh, orek-orekanmu mau di isi opo?" teringat saya komentar seorang siswa seusai mengawas silang UNBK hari kedua. Matematika dikerjakan dengan lesu di dalam kelas.
"Halah, wong gone Robby isine malah puisi :Cintaku Kandas di Tengah Jalan" siswa perempuan disampingnya menimpali.
Mereka itu memang sedang ledek-ledekan betapa puyengnya mengerjakan soal matematika. Apalagi tahun ini ada soal isian singkat. Tidak hanya saya, ternyata pengawas di sekolah lain juga menyatakan hal yang sama. Beberapa siswa yang perasa malah terlihat berkaca-kaca setengah putus asa setelah keluar ruang ujian.

Hari berikutnya, lewat WA, saya berdiskusi dengan beberapa siswa kelas XII yang saya ajar. Hampir sebagian besar murid saya menyatakan bahwa soal matematika ampun sulitnya. Tahu sih rumus dasarnya, tapi variasinya menyusahkan mereka. Untuk soal Bahasa Indonesia, mereka bilang cenderung bisa menguasai. Ekky, salah satu siswa saya berkomentar "Hanya itu buu, teks nya panjang-panjang. Bahasa Inggris juga."
"Apalagi membaca lewat komputer itu lain dari membaca lewat kertas fisik, bu. Pakai komputer tidak bisa dicoret garis bawah atau ditandai teksnya," keluh Marcella menambahkan.

Jadi menurut saya, komentar di media sosial itu bukanlah sekedar gurauan tanpa arti. Memang anak generasi sekarang gaya menyampaikan opininya ya seperti itu. Dengan humor, setengah satire. Dan itu sebenarnya - cerdas. Menurut saya, semua komentar dan keluhan di laman tersebut harusnya tidak dianggap sekedar angin lalu. Pihak pemerintah, sekolah dan guru bisa juga melakukan refleksi terhadap semua postingan itu. Termasuk juga para pembuat soal.

Dosa Pembuat Soal HOTS 


Salah satu komentar di IG @kemdikbud.ri mengenai UNBK

Haissyy..ngeri saya kalau membaca postingan yang sampai bawa - bawa dalil begini. Saya amati ada beberapa postingan yang bernada demikian. Malah ada yang terang-terangan mengatakan bahwa pembuat soal UN itu hanya memikirkan diri sendiri. Tidak memikirkan kemampuan siswa. Soal UN begitu susah bagi kebanyakan siswa sehingga mereka menganggap pihak Kemdikbud atau pembuat soal sebagai pihak yang 'nyusahin' aja kerjaannya. Dan menyusahkan orang itu dosa !

Seketika saja jadi baper, begitu kalau kata anak muda sekarang. Ini karena jelek - jelek gini saya pernah masuk seleksi sebagai pembuat soal yang diadakan PUSPENDIK di tahun 2017 lalu. Saya hanya nyumbang 60 soal saja sih diantara ribuan soal Bahasa Inggris lainnya untuk dijadikan Bank Soal UN DI Puspendik. Tetapi kan ngeri kalau gara-gara soal yang seuplik itu saya jadi dianggap ikut menyumbang dosa karena menyusahkan siswa yang mengerjakan Ujian Nasional.

Saya ingat waktu itu seleksinya cukup ketat. Tidak semua guru bisa masuk. Setelah proses perekrutan, kami pun diikutsertakan dalam semacam bimbingan teknis (bintek) yang diselenggarakan di beberapa kluster wilayah di Indonesia. Bulan Juli itu diikutkan bintek di Hotel Sheraton Jogja. Wah, jangan dikira bisa nyantai -nyantai saja. Materi-materi memang paling banyak difokuskan pada memahami dan melatih soal berjenis HOTS untuk soal pilihan ganda maupun isian singkat. Penyaji materi pun bukan sembarangan. Profesor dan ahli pendidikan maupun assesment dihadirkan untuk mengisi pemahaman tiap peserta.

Pembuat soal yang tidak berniat nyusahin saat bintek di Jogja : )

Setelah bintek selama empat hari tiga malam itu, tiap pembuat soal diberi tugas membuat soal dalam jumlah tertentu. Setoran dilakukan lewat aplikasi dari SIAP Puspendik. Jangan dikira pula langsung bisa lolos. PJ akan memberi komentar atau bahkan mengembalikan soal yang dianggap belum masuk kriteria berfikir tingkat tinggi. Soal yang hanya berdasar hafalan atau mencari ide pokok yang jelas-jelas tertulis diawal kalimat, pasti akan ditolak. Kami bisa saja bolak-balik melakukan revisi. Soal - soal yang kami buat pun dilengkapi dengan peringkat bintang.

Selesai? Beluuuum. berikutnya masih ada tahapan penelaahan soal oleh beberapa guru pilihan yang peringkat bintangnya cukup tinggi dibantu dengan penelaah ahli. Untuk Bahasa Inggris dilengkapi dari pihak relawan native speaker. Orang bule , kalau kita bilang. Setelah itupun masih ada tahapan lagi di tingkat pusat sebelum dimasukkan dalam sistem Bank Soal UN.

Tahun ini memang baru matematika yang diberi soal isian singkat. Kelak isian singkat bisa juga muncul di soal Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Asal tahu saja, penulis soal untuk Bank Soal UN sudah ditugaskan membuat soal jenis ini juga untuk yang bahasa. Hanya saja mungkin penerapan soal isian ini dilakukan secara bertahap.

Jadi kalau ada yang bilang, pembuat soal hanya memikirkan diri sendiri, ya tidak begitu lah. Apalagi kalau dibilang membuat soal mah gambang aja, sepertinya tidak juga ah. Apalagi, demi Alloh, saya yakin tidak ada satupun pembuat soal yang berniat menyusahkan orang lain. Apalagi nyusahin para generasi Z yang unyu dan imuut. Mana tegaa.

Keberadaan soal HOTS atau Higher Order Thinking Skills merupakan salah satu kambing hitam dari kebanyakan keluhan itu. Soal HOTS ini sebenarnya tidak selalu soal yang sulit, soal jenis ini memang jenis soal yang memerlukan pemikiran berlapis-lapis, tidak bisa langsung sekali tebak. Tujuannya pun sebenarnya mulia, yaitu agar siswa lulusan sekolah Indonesia kelak bisa bersaing di era pasar bebas. Berpikiran kritis itu mutlak diperlukan agar bisa menang di persaingan itu. Ya memang HOTS dan assesment dengan pola HOTS ini sudah menjadi bagian tuntutan dunia global. Masa sih kita tidak mau maju. Saya yakin, makin lama siswa tidak akan asing akan UNBK dengan soal HOTS.
Tentang pembelajaran berbasis hots, anda dapat membaca di artikel berikut :
hots-dalam-pembelajaran.html
Dan
mencoba-blended-learning-berbantu-blog.html

Practice Makes Perfect

Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk merespon polemik keluhan netizen tentang UNBK itu? Ini sesungguhnya adalah hal yang lebih penting untuk kita pikirkan daripada saling menyalahkan. Menurut saya sebenarnya kuncinya adalah pada latihan. Practice makes perfect; Latihan akan membantu menuju kesempurnaan.

HOTS adalah skill atau keterampilan. Untuk bisa terampil akan suatu hal, kita tidak bisa hanya dengan membaca buku manualnya saja. Sama seperti belajar naik sepeda, mana bisa kita akan lancar menaikinya jika kita sepanjang waktu hanya membaca petunjuk manualnya saja tanpa berlatih mengendarainya. Berpikir dengan aras tinggi juga begitu, perlu dilatihkan.

Guru dan sekolah harusnya memikirkan untuk melatihkan HOTS di setiap jenis penilaian yang dilakukan. Tidak semua butir soal harus mengarah ke HOTS. Komposisinya bisa saja disesuaikan dengan konsep UN saat ini : 10 - 15 persen untuk penalaran, 50 - 60 persen untuk aplikasi, dan 25 - 30 persen untuk pengetahuan dan pemahaman. Setiap selesai assesment dilakukan review hasil nilainya untuk perbaikan dan pengayaan lebih lanjut.
Makin tambah kerjaan donk. Mana sempat?!

Ujian Online Kini Bisa Tanpa Internet 

"Menurut saya, UNBK kan online bu, seharusnya itu try out nya juga selalu dilakukan secara online," komentar Titan, salah satu murid saya di kelas XII IPA. Menurutnya dengan sering try out secara online, siswa akan terbiasa menghadapi soal yang ditayangkan lewat layar. "Biar suasananya juga dapet, bu." imbuhnya.

Benar kan, anak-anak sekarang itu sudah punya bekal berfikiran kritis dan berani mengungkapkan opini. Tinggal latihan lebih banyak, dan HOTS di soal UNBK tak akan jadi masalah besar lagi. Latihannya pun kalau bisa sesering mungkin secara online agar mereka terbiasa dalam melakukan ujian berbasis komputer

Memang diakui, sekolah kami belum selalu melakuan try out dengan computer based. Dari beberapa kali try out, hanya sekali kami lakukan secara online. Lainnya masih  try out secara paper based. Ini karena ujian online terasa lebih ribet untuk murid dalam skala besar. Apalagi kalau maunya diadakan di kelas dengan jaringan internet. Pernah ada wacana mau tes memakai laptop siswa atau android, tetapi siswa akan merasa dirugikan jika kuota internetnya dari mereka pribadi.

Beruntung sekarang sudah ada Pinisi Edubox yang spesifikasinya bisa dilihat-lihat di http://pinisi.io
Spesifikasi Pinisi EduBox

Pinisi Edubox merupakan perangkat berbasis Raspberry Pi 2 sebagai server untuk ujian online dalam jaringan lokal (intranet) tanpa tergantung akses internet. Adrian Febri, CEO PT Pinisi Teknologi Edukasi, menyatakan bahwa Edubox merupakan platform assesment atau penilaian online sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Edubox ini akan membantu guru dan pihak sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer secara lebih praktis. Lengkap dengan platform yang membantu guru dalam membuat soal sekaligus mengakses hasil tesnya secara lengkap.

Karena perangkatnya ringkas, maka penilaian berbasis komputer dapat dilaksanakan kapan saja dan tanpa memerlukan koneksi internet saat tes. Dengan Pinisi Edubox, kita tidak perlu melakukan setting dan sinkronisasi server yang rumit. Semua jadi mudah karena manajemen ujian ini dijalankan via Cloud. Di satu sisi guru dimudahkan dalam persiapan dan penilaian ujian, di lain pihak, siswa pun akan makin sering mendapat pengalaman melakukan penilaian berbasis komputer atau android tanpa menghabiskan kuota internet mereka.

Keterangan lebih lanjut akan bisa anda dapati di laman https://getedubox.com/

Penasaran dong siapa pengembang dibalik Edubox yang canggih dan praktis ini. Saya pun penasaran dan cari tahu. Dan ehmmm, rupanya Pinisi Edubox ini merupakan salah satu start up kebanggan Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, start up Pinisi EduBox dikirim sebagai wakil negara kita untuk ajang Creative Business Cup di Denmark. Terbukti, EduBox ini bukanlah produkan asal - asalan, apalagi abal-abal.

Berdasar data, hingga 2017, penggunaan Edubox sudah mencakup sekitar 300 sekolah, dengan total 50.000 users, 8.000 ujian terpublish, dan soal sebanyak 250.000 butir soal. Testimoni beberapa guru yang telah menggunakan Pinisi Edubox ini dapat anda amati di akun Youtube nya pinisi edubox.

Tersedia beberapa tayangan tentang apa itu Pinisi Edubox, cara penggunaannya, cara penulisan soal, mengakses hasil nilai siswa, dan tutorial pemasangan Edubox.

Ilutrasi penggunaan EduBox di kelas dari tayangan  di YouTube

Dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan Pinisi EduBox, sekolah -sekolah kini tidak perlu ragu-ragu untuk sering-sering  menyelenggaran test atau assesment secara online berbasis komputer. Tidak hanya untuk kepentingan try out, Pinisi EduBox ini bisa juga dimanfaatkan untuk Penilaian Tengah Semester, Penilaian Akhir Semester ataupun ulangan harian di kelas. Jadi Edubox pada dasarnya bisa digunakan untuk semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMA/SMK saja. Beberapa SMP dan SD di Bandung sudah ada yang aktif menggunakan assesment online dengan mengambil manfaat dari Pinisi EduBox ini.

Bahkan Bimbingan Belajar sebenarnya juga bisa memanfaatkan manfaat EduBox ini. Bisa dipakai untuk latihan di kelas-kelas kecil mereka saat les. Ini pasti akan lebih menarik perhatian peserta les jika dilakukan secara teratur. Berlatih soal dengan model berpikir aras tinggi secara online sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi siswa saat ini. Memang mungkin begitulah bagian dari tuntutan era 4.0 sekarang ini.

Dengan seringnya diadakan latihan tes dengan soal HOTS dan berbasis komputer, harapannya di masa mendatang, keluhan-keluhan atau komentar negatif akan UNBK tidak akan lagi memenuhi linimasa media sosial. Semua siswa akan merasa siap untuk sukses dalam menghadapi UNBK.

"Practice creates confidence. Confidence empowers you."- Simone Biles







Sabtu, 06 April 2019

Mengenal Reading/Writing Learning Style

Gaya belajar kok Reading/Writing?   Biasanya kan Visual - Auditory – atau Kinestetik. Yuk kita mengenal gaya belajar yang satu ini untuk membantu melejitkan prestasi anak kita di kemudian hari.


Bukan rahasia bahwa setiap orang belajar dan menyerap informasi secara berbeda-beda. Otak kita memang diciptakan berbeda-beda dan cara berfikirnya pun juga berbeda-beda. Itulah mengapa tak perlu kita paksakan anak-anak atau murid kita untuk belajar dan berfikir dengan cara yang sama.

Begitu pula ketika saya mengamati gaya belajar putri sulung saya, Aisyah. Apa yaa gaya belajarnya. Kalau pas hafalan surah Al-Qur’an dulu saya kira lebih cepat dengan mendengarkan murotal. Eh ternyata makin kemari saya amati dia itu lebih suka membaca asbabun nuzul nya dulu. Mengapa dan bagaimana cerita dibalik surah yang dihafalnya. 

Pernah juga sih saya ikutkan test sidik jari untuk mengamati bakat dan gaya belajarnya ketika kelas 2 MI lalu. Hasilnya cenderung ke Auditory. Anak dengan tipe ini biasanya akan sangat terbantu dengan mendengarkan pelajaran saja. Saat belajar pun tak suka ada suara yang menganggu.Iya kadang dia begitu, tapi saat  ustadnya  hanya banyak bercerita pada pelajaran Sejarah Kebudaan Islam, tanpa sering menyuruhnya mengerjakan rangkuman atau mengerjakan latihan dibuku, eh nilai dia malah merosot. Lha ini anak sebenarnya Auditory bukan sih? 

Kalau Visual sepertinya juga bukan. Anak tipe visual terbantu saat mengamati bagan , gambar atau flashcard, atau tayangan video. Dia terlihat kurang berbinar binar matanya saat belajar dengan cara itu. Kinestetikpun juga tidak teramati dalam dirinya. Inilah yang kemudian mendorong emaknya ini untuk mencari informasi lebih banyak tentang gaya belajar.

Yups, mengetahui learning style/gaya belajar  akan dapat membantu anak kita agar lebih mengenal dirinya dengan lebih baik. Mengenal apa yang disukainya untuk sarana belajar. Mengenal cara yang cocok baginya untuk menyerap informasi pelajaran dengan lebih baik. Untuk kemudian dioptimalkan agar mendapat hasil belajar terbaik. Ini adalah sebuah konsep yang mulai populer di tahun 1970an, dan masih berkembang sampai sekarang.

Macam-Macam Teori Gaya Belajar

Secara umum ada 3 learning style yang kita kenal yaitu : Visual, Auditory dan Kinestetik.  Tetapi sebenarnya ada beberapa learning sytle yang didapati dalam dunia pendidikan, misalnya  yang dikemukakan dalam laman verywellmind.com :

  • LSP (Learning Style Profiler) 
Ini adalah sebuah model yang dikemukakan oleh Chris J Jacson. Model LSP ini menyatakan bahwa gaya belajar itu dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor biologis, pengalaman dan pilihan pribadi.

  • LSI (Learning Style Inventory)
Seorang ahli bernama Kolb mengembangkan sebuah computerized assesment  bagi siswa untuk menemukan gaya belajarnya. 

  • VAK (Visual-Auditory-Kinestetik) Learning style
Ini adalah model yang dikembangkan oleh Neil Fleming di tahun 1987. VAK menjadi teori learning style yang paling populer di berbagai belahan dunia.  Dan di negara kita juga populer dengan ketiga gaya belajar itu.

  • VARK (Visual-Auditory-Reading/Writing-Kinestetik) Learning Styles
Ini sebenarnya model dari Fleming juga, tetapi entah mengapa di negara kita gaya belajar Reading/Writing kurang populer. Kalau saya amati beberapa sumber dari luar, Reading/Writing Learning style ini banyak didapati di berbagai sumber literatur. Dan sejauh ini saya berpendapat bahwa putri saya itu cenderung bergaya belajar Reading/Writing, mungkin dengan sedikit campuran Auditory.

Bagimana sih gaya belajar Reading/Writing itu?


Dari VARK.com dan beberapa buku yang saya baca, gaya belajar Reading/Writing ini adalah tipe yang didapati pada seseorang yang terasa lebih memerlukan untuk membaca atau menuliskan informasi untuk mempelajari sesuatu. Pelajar dengan tipe ini cenderung menikmati banyak membaca dan mencatat. 

Mereka lebih suka mendapatkan informasi yang disajikan dalam bentuk kata-kata. Materi pelajaran yang berbentuk text based akan lebih disukai oleh anak denga  gaya belajar ini. 
Apakah anda atau anak anda termasuk bergaya belajar Reading/Writing?

Menjawabi check list berikut mungkin akan dapat membantu untuk menentukannya. Jika jawabannya banyak yang YA berarti kemungkinan besar anda atau anak anda cenderung bergaya belajar Reading/Writing:

  1. Apakah anda merasa bahwa membaca buku termasuk buku pelajaran merupakan cara terbaik untuk menemukan informasi baru?
  2. Apakah anda sering mencatat saat guru menerangkan didepan kelas atau saat anda membaca buku?
  3. Apakah anda menyukaui membuat daftar ?
  4. Apakah anda menyukai membaca definisi dan membuat materi presentasi?
  5. Apakah anda suka asyik sendiri di kamar saat membaca atau menulis?
Itulah beberapa contoh pertanyaan untuk mengenali learning style Reading/Writing. Anda dapat pula mencoba The Learning Style Quiz di laman homeschoolon.com. Ada akses untuk free printable sheet disana untuk semua jenis learning styles dalam teori VARK. Tentu saja setelah kuis ini diperlukan pengamatan lebih lanjut dari kita sebagai orang tua dalam kegiatan sehari-hari anak. Ini adalah sebuah proses, yang bisa jangka panjang. Quiz itu hanyalah sebagian dari alat bantu.

Saya lihat, dia putri saya sering suka asyik saja di kamar untuk membaca atau menulis. Kadang catatannya bisa campur dengan mengambar sih. Atau sambil membaca sambil tangannya sibuk membuat sesuatu. Dia sebenarnya bukan anak yang diam saja sih. Dia juga aktif mencorat coret atau membuat prakarya atau memasak sesuatu.  Dia suka meringkas atau mempraktekkan hasil membacanya.

Kalau saya amati kemudian lebih lanjut memang putri sulung saya itu cenderung lebih bersemangat saat membaca pelajaran dari buku atau sumber lain. Dia itu sebal sekali kalau PR nya berupa mengerjakan LKS yang memang tulisan materi pelajarannya tak banyak. Mana mau dia menyelesaikannya tanpa membaca buku pelajarannya. 

Tips untuk anak yang bergaya belajar Reading/Writing 


Setelah mengamati gaya belajarnya, kita kemudian dapat mendorong anak untuk memiliki learning habit atau kebiasaan belajar yang paling nyaman untuk mereka. Tujuannya agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukannya keterpaksaan.

Untuk anak yang gaya belajarnya Reading/Writing berikut tips-tips belajar yang dapat diterapkan agar lebih sukses secara akademik:

1. Mencatat saat pelajaran
Tidak perlu menulis tiap kata per kata apa yang ditulis guru di papan tulis atau di tayangan slide. Tidak harus pula mengkopi setiap kalimat yang diucapkan oleh guru selama pelajaran. Sebenarnya akan lebih baik jika mendorong anak dengan gaya ini untuk mengambil informasi  dari guru dan menuliskannya dengan kata-katanya sendiri, dengan gaya bahasa yang mereka pahami.

Mungkin beberapa anak berfikiran ‘ Ah, buat apa mencatat saat pelajaran. Aku kan cukup mendengarkan saja dan mengingat pelajarannya. Mencatatnya kan bisa nanti saja.’
Yups, itu bisa saja pendapat yang tepat – untuk anak yang bergaya belajar AUDITORY!. Tapi untuk anak yang bergaya belajar Reading/Writing itu tidak akan optimal. Dorong dan ajari anak tipe ini untuk membuat ringkasan dengan praktis dan tepat.

2. Menulis ulang dan membaca ulang catatan
Catatan yang dibuat selama pelajaran biasanya bentuknya kurang rapi atau kurang lengkap. Anak tipe Reading/Writing ini kalau merasa tertarik dengan pelajaran, mereka akan menambah pengetahuan mereka dengan membaca sumber bacaan lain yang relevan dengan pelajaran tersebut. Karena kan kemampuan membaca mereka biasanya diatas rata-rata. 

Nah , dengan menulis ulang dan membaca ulang catatan mereka bisa menambahkan  beberapa informasi tambahan terkait pelajaran. Hal ini akan lebih memudahkan mereka mengingat informasi dalam pelajaran dengan baik. Kalau bosan dengan bulpen yang sama, beberapa anak menyukai membuat catatan dengan warna bulpen yang berbeda.

3. Membuat daftar
Anak dengan tipe belajar Reading/Writing akan lebih mudah mengorganisasi pembelajaran di kelas dengan membuat list / daftar. 
Misalnya di kamar anak saya, dia membuat daftar tentang urutan PR atau tugas yang harus dia kerjakan. Bentuk dan model tempelannya kadang berubah sesuai mood dia. Kadang dihiasi stiker dan ditulis dengan pensil. Kali lain dia menulis dengan crayon dan dihias gambar doodle ala dia. Suatu waktu dia membuatnya dengan komputer dengan tulisan MS Words atau malah dalam bentuk gambar dengan diberi teks lewat PAINT.

Membuat daftar bisa juga tentang isi pelajarannya. Tak harus dalam bentuk rapi berurutan yang penting dapat membantu dia menata ide-ide pokok dalam pembelajaran tersebut. Bantu anak membuat daftar dengan model kesukaan dia. Jangan dipaksa atau dituntun terlalu banyak. Cukup diarahkan saja, bisa secara tersirat lewat obrolan atau pura-pura kita membuat semacam itu dan biarkan dia mencobanya sendiri. 

4. Membaca dari sumber lain
Mereka yang bergaya belajar reading/writing ini kan pada dasarnya sangat menikmati informasi yang disajikan berupa kata-kata tertulis. Jadi mereka pasti akan tertarik jika kita dorong untuk membaca dari sumber belajar lain yang relevan dengan pelajaran tertentu.
Tidak harus dari buku text book, kenalkan pada mereka bisa saja informasi diperoleh dari ensiklopedia yang menarik, buku ilmiah populer, majalah atau situs internet.

Sekali lagi jangan sodorkan setumpuk buku kemudian memaksa mereka untuk membaca. Ajak mereka untuk seolah-olah menemukan sendiri sumber yang tepat. Tentu saja caranya orang tua sebelumnya membaca isi dari beberapa alternatif yang akan diberikan ke anak. Letakkan secara acak tapi mudah untuk ditemukan anak. Lalu diskusikan isinya, saat dia teriak ‘ eh, ini sama lho dengan pelajaran IPA ku kemaren.’

Lakukakan dengan suasana santai dan menyenangkan. Hal lain yang saya ajarkan ke gadis kecil saya adalah belajar efektif membaca dengan memperhatikan ‘daftar isi’. Kelihatannya sepele tetapi ini akan membuat dia lebih cepat mencari saat memerlukan informasi.
Untuk sumber dari web, dampingi saat mengakses. Ajarkan cara menuliskan key words yang aman. Carikan pula situs-situs yang children friendly tapi penuh dengan informasi terpecaya. 

Begitulah sekedar sharing mengenai gaya belajar reading/writing.  Ingat ya , tidak ada gaya belajar yang terbaik.  Tidak bisa dikatakan bahwa satu tipe belajar dapat dikatakan lebih baik dari tipe belajar lainnya. Beberapa orang bahkan dapat teridentifikasi memiliki tipe belajar yang multiple. Maksudnya seseorang bisa saja memiliki gaya belajar yang condong Auditory sekaligus Visual.

Oya satu hal lagi, kita tidak boleh semudah itu memberi label gaya belajar pada seseorang. Perlu pengamatan yang teliti dan mendalam sebelum kita menentukan gaya belajar pada anak kita atau bahkan diri kita sendiri.

Jadi apakah anda atau anak anda bergaya belajar Reading/Writing? Yuk amati lebih mendalam dari sekarang.

blogger tamplate

 thema gratis blogger terbaru blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template b...