Sabtu, 12 Oktober 2019

Ajari Anak Untuk Peka Konflik Budaya dengan Portal Gartis Rumah Belajar

Orang-orang dewasa seperti kita bisa saja terpengaruh dengan konflik budaya saat bergaul di masyarakat. Lalu bagaimana dengan anak-anak?
Akhir-akhir ini kita dibuat miris dengan masih adanya pemberitaan tentang konflik di masyarakat yang melibatkan unsur beda budaya. Indonesia memang negara yang sangat kaya budaya. Saat masyarakat yang berbeda-beda budaya itu bergaul, bisa saja terjadi gesekan-gesekan yang jika dibiarkan bisa saja menyebabkan konflik.



Tahun Baru itu ya selalu 1 Januari. Kok kamu bilang besok. Besok kan baru bulan September!” Suatu sore sayup sayup terdengar pembicaraan si kecil kami dengan temannya. Sang teman yang pindahan dari Pulau Batam protes mengenai tahun baru yang dikemukakan anak kami. 
Si kecil kami tidak terima, bersuara lebih tinggi menyanggah, separuh bahkan menggunakan bahasa Jawanya, “ Sesuk kiy siji Suro. Tahun baru ya satu Suro itu!”.

Pembicaraan semakin memanas saat keduanya makin merasa benar sendiri. Waduuh, si kecil kami rupanya belum peka dengan konflik budaya saat berinteraksi dengan teman barunya.  Harus segera bertindak, nih.

Saya teringat dulu waktu kuliah di jurusan pendidikan bahasa inggris UNNES, ada mata kuliah yang namanya ‘cross culture understanding’ . Budaya yang berbeda beda itu memang rentan menyebabkan adanya pergesekan. Salah satu caranya adalah dengan saling mengerti (understanding) budaya satu sama lain. Kalau kita sudah cukup mengerti maka diharapkan nanti kita akan bisa menyikapi dengan lebih bijaksana saat terjadi konflik yang dipicu keberagaman budaya .
Keberagaman budaya itu berkah, tetapi disisi lain juga dapat memicu konflik bila tidak dijembatani dengan baik. 
Anak-anak sejak dini sebaiknya dikenalkan dengan keberagaman budaya (culture diversity). untuk kemudian dijak saling menghargai perbedaan itu. Bukannya terus hanyut ikut-ikutan lho ya. bisa - bisa kita malah jadi krisis identitas budaya. Jangan sampai pula terus anak tidak mengenal budayanya sendiri. Kenalkan budaya sendiri dan budaya lain secara berimbang, dan tentu saja sebaiknya dengan cara yang menyenangkan. namanya juga anak-anak, mereka akan lebih suka jika dengan gambar atau permainan.

Peta Budaya di Portal Rumah Belajar

Setelah bertekad untuk mengajari anak kami untuk peka konflik budaya, saya jadi lebih rajin mencari-cari materi untuk mengajari si kecil kami itu.
Untung saja, kami sudah mengenal portal Rumah Belajar. Itu lho, situs belajar online gratis yang dikelola oleh Pustekom Kemdikbud. Resmi milik pemerintah, untuk dimanfaatkan secara gratis oleh seluruh pelajar dan masyarakat Indonesia secara gratis. Klik saja di https://belajar.kemdikbud.go.id


Di salah satu fitur utamanya, ada yang disebut fitur Peta Budaya. Setelah di klik bagian itu, muncullah berbagai materi tentang budaya di berbagai wilayah Indonesia.  Terdapat beberapa konten terbaru  seperti misalnya:
  • Komunitas Adat Samin
  • Malam Satu Suro
  • Ondel-Ondel
  • Homo Erectus
  • situs Gunung Padang
  • Rumah Seribu Kaki Papua
  • Komunitas Adat Batur
  • AR-Rumah Belajar
  • Next Door Land
  • dan lainnya

Nah , ada pembahasan tentang malam satu Suro nih. Materi ini akhirnya kita kenalkan ke si kecil kami dan temannya itu, di tengah kegiatan bermain mereka. Ooo, ternyata satu suro itu tahun baru bagi masyarakat Jawa, dan bahkan dirayakan secara khusus di beberapa wilayah, misalnya di Surakarta dan Jogjakarta. Si kecil kami juga jadi tahu, bahwa Indonesia itu mempunyai banyak budaya yang berbeda-beda. Tidak perlu langsung ngegas, jika ada teman yang tidak sependapat, karena ya memang budaya mereka mungkin berbeda.

Materinya cukup lengkap , selain tulisan, di fitur Peta Budaya ini dilengkapi dengan gambar – gambar dan beberapa ada tayangan videonya. Dan semua itu bisa diakses secara gratis. Keuntungan lainnya, isinya cenderung aman bahkan jika diakses oleh anak sendiri, karena isi konten di fitur ini dikembangkan oleh orang-orang yang memang berada di dunia pendidikan.  

Dengan memanfaatkan fitur Peta Budaya ini , kita bisa mengajari anak untuk peka dengan adanya konflik budaya untuk kemudian bisa ada ‘understanding’ atau pemahaman antar budaya yang berbeda.


Mengenal Budaya Secara Kekinian Di Peta Budaya

Untuk mengenal budaya kekinian, di fitur Peta Budaya ini juga dilengkapi AR Edukasi; augemented reality edukasi. Guru atau orang tua dapat mengajak anak untuk berkenalan dengan augmented reality, contohnya mengenal tentang keanekaragaman budaya bali, atau mengenal sel hewan dan tumbuhan.

Salah satu yang menarik lainnya adalah Game edukasi Next Door Land. Game ini dikembangkan untuk memudahkan anak untuk mengenal kebudayaan  Indonesia dan Australia. Game ini diprakarsai oleh Australian Government - Department of Forein Affairs and Trade, bekerjasama dengan Kemdikbud Indonesia melalui Rumah Belajar dan pengembang game AGATE. Next Door Land sudah tersedia dalam aplikasi android.

Indonesia dan Australia merupakan negara yang hidup bertetangga atau dalam bahasa Inggris  bisa dikatakan dengan istilah : neighbour, atau lives next door. Itulah mengapa game ini diberi nama Next Door Land. Indonesia dan negara tetangganya ini masing-masing memiliki keunikan yang perlu dilestarikan dan tidak punah.  

Dengan game ini, anak akan belajar dengan cara bermain. Terdapat 20 mini games di dalamnya. Misalnya game memukul kendang, sesuai irama yang ditentukan , untuk mengenal budaya gamelan di Jawa. Sebelumnya bermain, ada semacam comic strips menjelaskan tentang budaya gamelan dan alat musik kendang.



Untuk membuat rasa kompetitif muncul, beberapa tempat akan terkunci, dan baru bisa dibuka saat kita sudah menyelesaikan tugas di mini game sebelumnya. Terdapat pula collectible artefacts, beberapa benda menarik dari wilayah Indonesia maupun Australia. Ini juga ada penjelasannya lho dan bisa dikoleksi saat nilai perolehan dari bermain game bisa mencukupi. Bisa menambah wawasan anak kan tentang artefak peninggalan budaya.



Kita bisa ajak anak menjelajahi beberapa kota besar di Indonesia dan Australia , kemudian menjajal games untuk mengenal budayanya. Misalnya kita bisa ajak anak untuk klik tempat gamenya di kota Adelaide, Australia. Sebelum bermain akan dijelaskan mengenai sebuah bangunan ikonik di kota Adelaide yaitu Stadium Adelaide Oval. Sebuah stadium megah dengan arsitektur cantik yang telah berdiri sejak tahun 1871. 


Keuntungan lainnya adalah, kita bisa juga mengganti-ganti setting bahasanya. Kita bisa memilih menggunakan Bahasa Indonesi a atau Bahasa Inggris. Nah, kalau memilih yang bahasa Inggris, anak bisa sekalian kita ajari banyak kosakata Bahasa Inggris. Dobel-dobel bukan untungnya.

Tentu saja, peran orang tua untuk mengarahkan buah hati adalah yang terpenting dalam mengajari si kecil untuk memiliki pemahaman yang baik antar budaya. Rumah Belajar dengan Fitur Budaya nya adalah salah satu sarana yang dapat orang tua atau pengajar manfaatkan. Ajari anak untuk peka menghindari konflik budaya.  Ola Joseph, seorang pengarang dan pembicara terkenal dari Nigeria,  menyampaikan sebuah pendapat menarik tentang hal ini. Keberagaman itu bukan tentang bagaimana kita berbeda, keberagaman itu adalah tentang merangkul masing-masing keunikan yang dimiliki satu sama lain.

“Diversity is not about how we differ. Diversity is about embracing one another’s uniqueness.” 

 - Ola Joseph.


Salam,




#bukansekedaroemarbakri


Rabu, 21 Agustus 2019

Menulis Cerpen Tema Hijrah : BUKAN TAMU BIASA

Ini cerita tentang tamu istimewa yang bukan sekedar tamu biasa.


BUKAN TAMU BIASA

“Pak , cepet ada tamu.” Pagi itu bersemangat kami, berempat dengan anak-anak menyambut tamu. Bersegera memberesi beberapa mainan yang tercecer di ruang tamu. Menata bantal kursi yang agak menceng. Merapikan bunga plastik hiasan diatas meja. Senyum-senyum, kami semua refleks berjajar di sekitar pintu. Kalau dipikir pikir posisi kami saat itu mungkin kurang lebih seperti para petugas among tamu di hajatan manten.

“Monggo pak, silakan masuk.” Ternyata, tamu itu adalah seorang bapak-bapak petugas TV kabel menanyakan mengenai pemasangan sambungan baru. 

Lebay! Memang... tapi njenengan tak tahu sih betapa kami menantikan momen ini. Kedatangan seorang tamu di rumah kami sendiri. Yang mencari KAMI, bukan orang tua kami atau mertua kami. Bagi kami itu impian. Bagi kami itu sepenting pengucapan Proklamasi kemerdekaan di tanggal tujuhbelas Agutus.

Asal tahu saja - tidak sedikit waktu yang kami habiskan untuk memimpikan tamu yang mendatangi rumah milik kami sendiri seperti itu.

Resah. Terkadang hopeless. Akui saja perasaan itu bisa saja sering muncul saat kita terlalu lama mendekam di Pondok Mertua Indah. Tidak , bukannya saya mengeluh. Tapi saya rasa memang kodrat manusia, kalau sudah menikah inginnya segera mandiri. Punya rumah sendiri. Terpisah dari orang tua atau mertua. Terus kalau memang belum bisa bagaimana?  Lha ya itu, resah gelisah melanda.

Tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu bisa dikatakan keluarga kecil kami nomaden. Berpindah pindah antara rumah mertua dan rumah orang tua saya yang hanya berjarak setengan jam perjalanan. Kartu KK masih beralamat di orang tua saya, tetapi sehari-hari lebih banyak tinggal di desa mertua.

Bukannya kami tidak berusaha, tapi maaf perumahan yang instan bukan impian kami. Keluarga kami memimpikan rumah dengan halaman luas dan empang ikan di kebun belakang rumah. O, ya.. kalau bisa lokasinya juga cukup sepuluhan langkah masjid.

“ Pantesan tidak segera dapat rumah sendiri, aneh – aneh kemauannya.” Beberapa suara mengingatkan. “Beli tanah, apalagi yang agak luas, mbangun rumah sendiri itu biayanya mahal, - banget!” 

Terpengaruh? Jujur , iya! Kadang maunya realistis dengan kondisi keuangan kami yang tidak berlebih. Tidak miskin sih, pendapatan kami masih cukuplah untuk sekedar nyicil sepeda motor, makan cukup enak sehari tiga kali, dengan sesekali jalan – jalan ke tempat wisata.

Tapi yang membuat keder, harga tanah memang makin melejit, apalagi harga semen, pasir dan besi waktu itu sedang meroket tinggi. Menabung sulit, berhutang banyak – takut tak mampu mengangsur. Hopeless..rasanya mau putus harapan saja.

“Kenapa harus berhenti bermimpi, lha wong Gusti Alloh saja membolehkan kita meminta surganya. Apalagi kalau CUMA meminta rumah dengan halaman luas, ada empang di kebun belakang dan dekat dengan masjid.” Jleb! Inbox seorang teman, dulu sekelas saat SMA,  membuat saya terbangun.

Terlalu galau, resah, dan merasa tak berdaya telah membuat kami lupa meminta. Menafikan bahwa ada Allah yang siap memberi. Sembari menata keuangan, kami merasa lebih bersungguh-sungguh meminta. ‘Lahaula walaquata illa billah’ memangnya apa daya manusia – dan benarlah tidak ada daya upaya selain dari Allah. 

Impian dimulai

Kemudian impian itu mulai menjadi perjuangan. Setelahnya, setiap ada berlebih pendapatan, kami upayakan mencicil beli satu dua pohon hidup yang dijual tetangga atau saudara. Setelah menunggu beberapa bulan ada sedikit tabungan, tertebanglah pohon itu.

Jangan dibayangkan langsung jadi inep pintu, kusen atau usuk reng untuk atap. Kami harus menunggu setahun dua tahun kedepan untuk menyewa tukang kayu dan mengolahnya.

“Tak apa, buk. Kayunya bisa direndam dulu. Kata orang tua jaman dulu. Kayu tebangan yang direndam nanti akan jadi bahan bangunan yang lebih kuat,” bapaknya anak-anak mencoba menghapus aura negatif dari mulutku yang masih sering mecucu, cemberut, tak sabar menunggu rumah baru. 
Impian berproses

Sungguh, saya kadang berharap dongeng itu nyata ada. Tiba-tiba menemukan lampu ajaib di balik kolong tempat tidur tua milik ibuk mertua, yang saat saya terbangun tidur nanti, paman Jin sudah selesai membangunkan sebuah rumah baru yang megah lengkap dengan isinya. Plus mobil, yaa paling tidak avansyah atau agiah lah, tertata di garasi. Tanpa mikir hutang!

Ah, sudahlah. Mana ada yang seperti itu di dunia nyata. Lagipula saya tidak yakin apa bisa untuk TIDAK lari terbirit-birit ketakutan bila memang benar ada Jin super ganteng wuzzz.. keluar dari sebuah lampu. Tepat di depan mata kepala saya. Sedangkan melihat bayangan pohon kelapa di kegelapan saja saya langsung menjerit, mengira itu gendruwo sedang mengintip.

Realitisnya adalah kami harus merelakan THR tahun depannya untuk membeli sekedar beberapa truk batu hitam. Memberi DP pembuatan bata dan genteng saat beberapa bulan kemudian  mendapat uang berlebih dari arisan RT.

Lamaaa dan ada perjalanan berliku seperti itulah untuk kami kemudian bisa berhasil mendapatkan rumah baru. Yang ajaibnya, tiba-tiba saja kami mendapat penawaran yang cukup memudahkan kami untuk mendapatkan tanah yang leluasa dengan lokasi yang cukup strategis. Dan hanya berjarak tiga rumah dari masjid!

Sungguh, saya kemudian dibuat percaya akan kekuatan impian, doa permintaan tulus , mencicil berusaha sebisa kita, - dan biarlah Allah yang mengurus sisanya!

Pindah jangan sekedar fisik

Begitulah.Sekarang panjenengan semua bisa mengerti kan mengapa kedatangan tamu pagi itu bisa membuat kami jadi setengah alay dan begitu excited. Pindah ke rumah baru adalah impian kami bertahun-tahun. Dan setelah beberapa hari menempati rumah baru, kedatangan tamu adalah seperti pengakuan legitimasi akan keberadaan kami di rumah istimewa milik kami sendiri ini.

Menjelang matahari memanjat ke puncak, datanglah tamu berikutnya. Kali ini ibuk-ibuk tua penjaja bantal dan guling.

“Ini bantal dan gulingnya dari kapuk randu asli lho bu.  Bu Jayus dari desa sebelah itu, sudah sering beli dari saya. Kasurnya yang lama juga belum lama ini saya rombak biar tidak kempes lebih mentul-mentul, ” katanya nyerocos, sesaat setelah menurunkan dagangannya di dalam rumah.

Begitu menyebut referensi nama seorang saudara, saya segera nyambung kalau beliau ini pasti dari desa sekitaran kami saja. Sekitar seperempat jam perjalanan sepeda motor dari rumah saya yang baru.

Wau, nitih nopo buk?” tanya saya basa-basi, sambil mengkode si genduk mengambilkan sekedar air putih buat si ibuk.

Sambil menyeruput air, beliau kemudian menjelaskan kalau tadi bareng ponakannya naik sepeda motor sampai gang depan. Katanya mengantar pesanan seseorang di sekitaran sini. Karena mendengar bahwa kami baru saja menempati rumah baru di dekat arah yang dia tuju maka dia memutuskan mampir.

“Rumah baru tentu saja memerlukan banyak bantal dan guling yang baru. Apasekalian kasur juga ?”

Dan benar saja ujung – ujungnya si ibu mengeluarkan jurus terakhirnya, “Dilarisi njih bu guru , ini masih ada beberapa bantal dan guling sisa pesanan ibu tadi. Dibeli semua saja, ini dua bantal, dua guling, pas sepasang-sepasang buat si genduk dan thole yang ngganteng ini”

Baru saja saya mau beralasan tak membeli, kami sudah mempunyai bantal dan guling dikasih orang tua kami, lagipula si bapak sedang keluar. Sang tamu ini memotong tangkas, “Saya kasih murah saja. Daripada jauh-jauh saya bawa pulang balik. Nanti saya mau naik minibis, repot kalau masih bawa sisa dagangan.”

Manalah tega tak membayarnya. Anak-anak pun sudah begitu gembira memeluk bantal dan guling mereka masing-masing, bawaan tamu kita hari ini. Si tamu pun pulang dengan sumringah, menjanjikan akan mampir lagi untuk membenahi barangkali kasur saya ada yang rusak, jika kelak pas berdagang di sekitar sini. Sambil menjalin silaturahmi katanya -  membuatku tak jadi berucap,”Sini pakai kasur busa semua buk.”

Begitu bapaknya anak-anak pulang, saya ingin segera menceritakan tentang tamu penjual bantal guling tadi. Tapi si bapak malah sudah perintah duluan, “Buk, cepakne teh panas segelas. Ini tadi saya di perempatan depan jalan raya sana ketemu simbah tua bawa dipan dari bambu. Kasihan ndak ada yang beli. Itu mbahe rumahe sebenanrnya tetangga desa kita yang dulu, jauh-jauh jalan sampai sekitar sini. Tadi sudah takancer anceri rumah sini.”

Dan itulah tamu kita selanjutnya. Aiihh.. apa tidak ada tamu yang muda, ganteng – ganteng gitu, yang macam oppa di drama korea gitu, membawa oleh-oleh spesial datang sebagai tamu rumahku? Baiklah, mungkin besok ya.

Yess, tidak perlu menunggu besok. Malamnya, kami mendapat tamu membawakan pisang, oleh – oleh spesial panenan hasil kebun mereka. Sebentar, jangan dikira ini oppa Korea yaa... tamu kali ini malah lebih tua dari yang sebelumnya. Sepasang mbah kakung dan mbah uti pulang dari magripan di mesjid. Mengenalkan diri sebagai tetangga baru. Rumahnya dekat. Hanya berjarak dua rumah, di ujung jalan. Malu juga sebenarnya, harusnya kami yang sowan lebih dulu. Maafkan kami, mbah.

Tapi diantara para tetamu itu, yang paling unik adalah kedatangan tamu kami di kemudian hari. Tidak hanya sekali, tamu spesial kita kali ini kemudian mendatangi rumah kami berkali-kali. Kadang sebulan dua kali kadang sebulan sekali. Adalah dia, seorang lelaki tua, mungkin sekitar tujuhpuluh tahunan. Si Embah ini berperawakan jangkung, berkulit hitam dan berbaju lumayan rapi meski agak lusuh. Dengan rokok yang tak berhenti mengepul barang sedetikpun!

Kali pertama datang saya sudah langsung mendelik begitu suami mempersilahkan masuk dan ngobrol di dalam rumah. Asap rokoknya itu lebih ngeri dari cerobong pabrik yang baru dibangun di ujung kota. Bergulung – gulung tak henti dari tembakau rokok yang jelas murahan memenuhi rumah. Tetap dibuatkan teh. Tapi tidak sepenuh hati membuatnya, bening, manget-manget, tak begitu manis. Tidak ginastel sama sekali.

Tapi kalau jujur, sepertinya tamu ini kemudian jadi lebih tidak saya inginkan bukan hanya karena asap rokoknya. Itu karena pada hampir di setiap kunjungannya dia ada maunya.

Pada akhirnya setelah lebih dari sejam ngomong ngalor ngidul, si embah ini sekalu di ujung-ujungnya minta pinjam uang. Dia selalu menceritakan kesulitannya perdagangannya dan perlu uang untuk pulang. Perlu pemasukan agar tidak terlalu merugi. Tak terlalu banyak sih mintanya, tidak sampai berjuta-juta, paling sekitar limaratusan ribu kebawah.

Fiktif? Entahlah. Yang jelas setelah dikonfirmasi dengan seorang anaknya yang tinggal di desa tak jauh dari kami, si embah itu sebenarnya sudah tidak diperbolehkan berdagang oleh anak-anaknya.

Memang si embah kadang keluyuran begitu, tanpa pamit, berlagak berdagang keliling. Dagangannya apa , saya tidak begitu yakin. Karena setelah mendengarkan ceritanya berkali-kali, sepertinya itu cerita jaman kehidupannya dulu. Setting dan alur ceritanya membuat kami yakin kalau beliau ini sepertinya terperangkap di memori bertahun lalu. Dan ceritanya sebenarnya itu-itu saja.

Kedatangannya yang kedua, saya sudah males keluar. Bapaknya anak-anak sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih uang kalau bilang pinjam. Paling juga tidak dikembalikan kayak dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si bapak tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung.

Kedatangannya yang berikutnya, saya sudah males keluar. Si kangmas sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih. Paling juga tidak dikembalikan seperti dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si kangmas tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung. Beberapa kali mengintip dari balik tirai jendela, si embah masih duduk di emperan rumah.

 Kami meruntuki pelan“Aisshh.. mbok ya cepet pergi ini si tamu tua tak diundang. Apa tidak bisa tamu itu yang ganteng-ganteng saja macam oppa di drama Korea, dengan membawa bunga dan oleh-oleh. Ini tamu kok dapatnya yang tua-tua macam gini.”

Anehnya beberapa tamu perdana yang datang ke rumah kami setelah si embah itu, memang rata-rata berusia lanjut. Saya ingat ada ibuk-ibuk tua penjual bantal dan guling, ada  Pak Min tua tetangga belakang rumah menjelaskan soal kambing peliharaannya yang mungkin akan membuat kadang bau jadi tidak sedap, dan yang terakhir si penjual balai bambu sepuh yang belum juga laku dagangannya. Mana tega tak membelinya.

Si embah antik itu tetap datang lagi. Kedatangan berikutnya saya sudah berniat menemuinya. Saya berniat untuk keras terhadap tamu satu ini. Si kangmas juga sudah mulai jengah dan memilih ngumpet di teras belakang saja sambil mengecat sebuah lemari tua.

Begitu si embah mulai cerita, saya menyerobotnya dengan menceritakan keuangan kami yang cukup sulit karena biaya sekolah anak-anak sekarang makin mahal. Berharap dia tidak lagi minta uang. Berkali kemudian si embah menanyakan bapaknya anak-anak. Dan duuhh..saya mulai berbohong.

Anehnya si embah kemudian berulang minta izin ke kamar mandi di belakang rumah. Haduuh semakin seru. Bersusah payah melarangnya dan mengulur waktu. Mengkode si kangmas dengan lihai agar bisa pindah bersembunyi ke dalam kamar tanpa si embah melihat. Rusuh. Deg – deg an. Seperti sedang main film detektif.

Segera setelah kode ‘clear’ – aman, saya persilakan si bukan tamu biasa ini menuju ke kamar mandi belakang. Harusnya saya puas ya ketika akhirnya kemudian si embah pulang - tanpa bisa bertemu suami, tanpa uang sepeserpun dberikan. Tetapi mengapa perasaan saya malah menjadi ada rasa tidak nyaman. Seperti ada yang salah.
Tamu istimewa berlalu pergi


Beberapa hari kemudian ada saudara  saya bertamu. “Eh, mbak,aku kemarin ada pengajian di sekolahan. Ustadnya seru,” katanya menceritakan pengalamannya di tempat dia mengajar.

“ Kata ustadnya, kalau ada tamu minta hutang itu ya seharusnya dikasih. Ya sebisanya lah. Karena tamu yang meminta pinjaman itu kan berarti hatinya sudah memilih rumah kita untuk dituju. Padahal yang berkuasa membolak-balikkan hati kan Gusti Allah. Ya termasuk hatinya si yang datang ke rumah kita itu. kedatangan dan kepergian seseorang itu bukannya tanpa ijin dariNya. Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak,*2” ceriwisnya sambil bercanda. Dia tidak sedang pinjam uang ke saya kok.

“ Awas lho, jangan-jangan tamu kita itu diikuti malaikat,” imbuhnya setengah berdalil.

Saya tidak tahu apakah dalil yang disampaikan saudara saya hari itu shahih atau tidak. Yang jelas cerita dia tiba-tiba mengena di hati saya. Membuat saya flash back perlakuan saya akan si embah, tamu antik yang berkali-kali datang. Ini mengherankan karena saat itu kami sedang tidakm enceritakan masalah tamu dirumah saya.

Yang jelas saya jadi ngeri membayangkan. Jangan – jangan saat si embah tertolak masuk waktu itu, malaikat pun jadi enggan masuk rumah kami. Jangan – jangan saat si embah berlalu pulang dengan wajah kecewa itu, malaikat pun  ikut pergi tak jadi membawa berkah ke rumah kami. Astaghfirullohaladzim....

Dari kamar sayup-sayup terdengar si genduk sulung kami sedang mengulang hafalan mengajinya dari kamar. ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma*3... aihh semakin malu tertampar hati ini.

Bahkan Rosullulloh yang agung tanpa cela pun sampai ditegur langsung oleh Allah saat sekedar bermuka masam pada tamunya yang buta. Padahal Rosul punya alasan yang penting saat itu. Dan saya ini apa! Sampai berani-beraninya membohongi dan mengirim pulang tamu seolah mengusirnya.

Saya coba berkaca. Hijrah – pindah rumah harusnya bukan hanya pada lahirnya. Saat Sang Pengabul Doa sudah begitu bermurah hati mengabulkan impian dan memampukan untuk memiliki sebuah  rumah, harusnya hijrahkan hati ini juga. Hijrahkan menuju syukur sepenuh hati.

Hijrahkan hati menuju rasa cukup dan ridha dengan pemberian-Nya. Termasuk bersyukur atas tamu yang diberikan untuk mendatangi rumah kita. Kita tidak bisa memilih tamu yang datang rumah kita, tapi kita bisa memilih untuk melayaninya dengan sebaik-baiknya semampu kita. Tanpa nggrundel,” Entuk tamu kok tuwek!”*4

Lain kali si embah datang, kami , terutama saya, mencoba melayani lebih baik. membuatkannya teh ginastel *5 lengkap dengan camilan. Soal asap mengepul, setelah kedua anak kami cium tangan beliau, kami bilang terus terang dengan nada sopan, bahwa anak-anak kami mudah batuk kalau kena asap rokok. Si embah pun berkenan bercerita panjang di teras saja. Dia bilang sambil mengawasi anak kami yang sedang bermain. Seolah cucunya.

Saya kemudian mencoba menikmati ceritanya.Anggap saja sedang naik mesin waktu yang mundur ke tahun tujuh puluhan.

Dan kalau beliau tampak sudah mau pulang, dengan seikhlas mungkin kami selipi beberapa lembar puluhan ribu semampu kami, bahkan sebelum beliau minta. Sambil membungkuskan sekedar pisang godhog atau singkong goreng kesukaannya untuk bekal di jalan.

Saya mulai meyakini, bahwa, kita tidak bisa memilih siapa tamu kita. Tapi, kita selalu bisa memilih untuk melayani mereka sebaik baiknta yang kita mampu.

Sungguh yang kemudian datang adalah perasaan yang begitu nyaman. Serasa hati berhijrah ke sebuah rumah indah diantara padang luas penuh bunga dandellion putih yang anggun tertiup angin. Lapang dan tenang.



Keterangan :
*1 manget-manget : hangat (bahasa Jawa)
*2 Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak : Makanya kalau aku pinjam uang kesini itu jangan ditolak (bahasa Jawa)
*3  ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma : Qur’an Surah ‘Abasa (Ia Bermuka Masam), surah ke- 80, 42 ayat. 
*4  ” Entuk tamu kok tuwek! : Dapat tamu kok tua umurnya. (Bahasa Jawa)
*5   ginastel : Singkatan dari kata; legi, panas, dan kenthel, untuk mendeskripsikan sajian teh yang lezat menurut versi orang Jawa Tengah. Tehnya harus manis, panas dan kental.



      Salam,












Sabtu, 20 Juli 2019

LANGKAH MUDAH MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK LDA

Sahabat Saung Belajar, pernahkah sahabat disuruh guru menulis puisi? Pusing? Ribet? Huftt...
Sini duduk tenang dulu di Saung Belajar. Ambil nafas dalam-dalam. Kita belajar bareng yuk.


Apa itu Puisi dan Manfaat menulis Puisi

Pelajaran bahasa melibatkan ketrampilan menulis puisi tentu bukan tanpa manfaat.  Salah satunya adalah membuat kita menjadi lebih kreatif dalam mengeksplore penggunaan bahasa yang kita pelajari.  Baik Bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Selain itu menulis puisi juga dapat menjadi sarana untuk pengungkapan diri.  Membuat perasaan menjadi lebih lega. Menulis puisi itu harusnya menyenangkan dan menenangkan. 

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra berwujud tulisan yang didalamnya bisa terdapat irama, rima, ritme dan lirik. Dalam bahasa Inggris puisi dapat disebut dengan poem  atau poetry.
 Sedangkan pengertian puisi secara etimologis, kata ‘puisi’ berasal dari bahasa Yunani ‘pocima’ yang berarti membuat atau ‘poeisis’ yang berarti pembuatan. Yah, dikatakan begitu karena melalui menulis puisi berarti seseorang itu kan sudah membuat dunia tersendiri. Dunia kata-kata dalam rangkaian bait – bait yang berisi pesan atau gambaran suasana tertentu.

Langkah – Langkah Menulis Puisi

Setelah Sahabat Belajar  tahu apa itu puisi dan manfaatnya, Sahabat tentu akan lebih termotivasi untuk menulis puisi tanpa beban.  Sekarang siapkan pena dan kertas. Ayo kita mulai menulis!
1. Tentukan ide puisi
Tidak usah panik. Ide yang bisa disebut juga gagasan itu betebaran dimana saja lho. Menulis puisi dimulai dari setitik ide. Cukup setitik saja sudah bisa untuk membuka sumbat keran kata-kata untuk dimuat dalam beberapa bait. Jadi tidak usah langsung bingung membayangkan ribuan kata. Sahabat belajar cukup mengingat memori kenangan atau pengalaman. Atau mengamati lingkungan di sekitar Sahabat. Trus tiba-tiba TINGG ! Ahaa aku punya ide!
Misalnya begini, dari melihat menu takjil , Sahabat tiba – tiba punya ide untuk menulis puisi. Berbukalah dengan yang manis adalah slogan yang sering muncul mengiringi gambar takjil.

2. Tentukan tema  dan gaya puisis
Saat setitik ide sudah mulai berpijar di pikiran Sabahat, jangan dibiarkan padam begitu saja yaa. Ikatlah dengan menentukan tema dan gaya puisimu. Tema dapat dikatakan ide pokok permasalahan yang akan Sabahat angkat nantinya di puisi. Bisa tergambarkan dalam bidang ekonomi, politik, sosial, cinta, nasionalisme, atau komedi.
Kemudian pikirkan puisi Sahabat itu mau dibuat dengan gaya yang sendu mengharu biru atau malah ringan seakan bercakap, atau  jenaka menggugah tawa.
Sebagai contoh, tadi kan sudah ada menulis puisi dengan ide takjil. Nah sebagai tema saya memilih tema sosial tentang budaya mudik, dengan gaya santai, ringan saja.



3. Menggunakan gaya bahasa
Saat menulis puisi, sahabat belajar dapat menggunakan gaya bahasa agar pilihan kata yang dipakai tidak membosankan. Misalnya saja, Sahabat dapat menggunakan majas simile, metafora ,atau personifikasi.  Majas merupakan gambaran sebuah estetika dalam puisi. Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan makna dan maksud tertentu yang terkandung di dalamnya. 

4. Membayangkan Suasana dengan Berimajinasi
Setelah itu biarkan Sahabat membayangkan suasana dengan berimajinasi sebebasnya. Kembangkan puisi Sabahat dengan kata-kata indah yang terlintas di pikiran. Yang penting tulis saja dulu. Bisa menulis di selembar kertas, atau dengan mengetiknya di laptop, atau menulisnya di catatan handphone. Tulis saja dulu tanpa ada beban untuk mengeditnya.  Editing bisa nanti-nanti saja setelah jadi draft. Baca ulang sambil diedit sana sini sesuai kata hati.
Beimajinasilah menggunakan kata-kata sebebasnya . Kata-kata itu ibaratnya kan menjadi nyawa dalam puisi. Pilihlah kata-kata yang ringkas, lebih baik jika khas dan bermakna. Karena puisi tidak seperti prosa yang royal menggunakan banyak kata dalam puluhan paragraf.
Utak utik juga kata-kata yang sudah tertulis itu dengan menggunakan permainan bunyi atau pengulangan bunyi untuk mendapatkan rima yang menarik. Tapi jika Sabahat menginginkan puisi Sahabat tanpa rima tertentu pun juga boleh saja. Hanya saja dengan adanya ritmik dan rima yang menarik, puisi  Sahabat akan dapat menciptakan nada tertentu dengan suasana tertentu sehingga puisi yang dibaca akan terasa indah atau menyentuh hati.

Manfaatkan Teknik LDA 

Dalam mempraktekkan langkah-langkah diatas, Sahabat Belajar akan terbantu dengan memanfaatkan teknik LDA. Apa itu LDA? 
Sahabat, yang dimaksud dengan LDA adalah L-ekat, D-ekat, A-krab. Tujuannya sederhana saja, yaitu agar kita tidak merasa takut dulu dengan kegiatan menulis. Menulis itu mudah kok. Cukup pikirkan dan  olah kata-kata dari sesuatu yang familiar dengan kita.

Dalam menentukan ide misalnya,  Sahabat dapat memulainya dengan mengamati sekitar Sahabat. Bisa saja bagaian tubuh kita sendiri. Bisa saja dari orang atau suasana di sekitar kita atau bisa saja dari benda di sekitar kita. Yang sederhana bisa saja menjadi ide menulis puisi. Sesuatu yang lekat, dekat dan akrab dengan diri Sahabat.

Misalnya saat mati lampu di rumah beberapa waktu lalu, saya bisa dapat ide menulis dari benda yang dekat dan akrab ada saat mati lampu yaitu lilin. Suasana lilin saat menyala membuat saya memilih tema tentang kerelaan saat memberi atau membantu orang lain dengan gaya puisi yang tenang. Bukan santai penuh candaan.

The Art of Giving
by: Misis Dewi_April

Be like a candle in the dark
Which gives light
Without even asking why

As life sometimes shows
that giving
is not only about expecting
something in returns

Demikian juga saat memilih kata-kata untuk puisi Sahabat. Saat kita masih merasa pemula dalam berlatih menulis puisi, LDA akan dapat membantu kita untuk tidak mudah panik karena merasa kebingungan memilih kata. Tenang saja, Sahabat dapat memulai puisi sahabat dengan kata-kata yang memang sudah akrab dengan keseharian. Sahabat dapat pula memilih kata-kata sederhana untuk mendeskripsikan kuatnya suasana atau gambaran yang ada didepan kita.

Contohnya, suatu hari saya jalan-jalan di desa sebelah saja dengan keluarga. Saat capai, kami memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah pos kamling bambu sederhana. Dari tempat saya duduk terlihat sebuah rumah tua. Pemiliknya duduk tenang penuh kepasrahan di serambi. Dari suasana gambaran itu terbersitlah untuk menulis puisi. Corat-coret di catatan HP, sambil menunggu suami yang sedang memperbaiki sesuatu milik kenalannya yang rumahnya dekat situ. Menggunakan kata-kata sederhana saja, tertulislah puisi Rumah Tua di Ujung Desa.



Rumah Tua di Ujung Desa
By: Misis Dewi_April

Jalanan bertata batu itu hampir berujung
Disambut jalan tanah setapak

Bersemak rerumputan
Berhias tinggi pepohonan,
dedaunan singkong yang berkerubung, 
dan gerumbulan kacang tanah
Mengapit lambaian pucuk jagung
Di sisi kuburan tua

Matahari belum lama meninggi
Perempuan tua duduk memangku caping
Di bangku kecil kayu mahoni
Depan beranda berlantai tanah kering 
sepi sendiri

Harum bunga kacapiring
Menguarkan kerinduannya
Akankah rumah ini kembali penuh tawa
Saat lebaran nanti tiba
Memecah sepanjang tahun yang hening

Perempuan tua tetap menunggu
Duduk besenandung kidung lama
Tentang penerimaan, bukan air mata
Di depan rumah kecil berdinding kayu 
Tepat ujung jalan sebuah desa

sederhana dalam sunyi 
penuh kepasrahan

Perasaan juga salah satu sumber yang LDA. Isi hati kita sendiri bisa jadi ide, sesuatu yang paling lekat dengan diri kita, bukan?

Misalnya, pernah suatu saat saya merasa kesal sekali pada sekelompok orang. Dalam perasaan saya, mereka itu kok seringnya mencoba membuat saya tampak buruk. Apa yang saya lakukan mereka benci. Nah daripada saya marah - marah meluap ke mereka, saya tuangkan saja persaan yang saat itu lekat dekat pada saya.

Ada selembar kertas, saya corat coret saja semau kata yang keluar. Tanpa edit. Tak apa jika bentuknya pun tak serupa bentuk bait-bait puisi. Setelah merasa lega, beberapa waktu kemudian tulisan itu saya tulis ulang di catatan hp. Sret sret edit sana sini. Plus dipermanis dengan Canva. daan ini hasilnya :



Bahkan kemudian puisi itu saya tulis ulang ke bahasa Inggris. Hehehe biar legaa persaannya. Bagi saya, menulis itu menenangkan. Lengkapnya dapat dibaca di sini:
Belajar-menulis-puisi-dan mempercantiknya dengan Canva

Nah, Sahabat Belajar, tidak sulit bukan menulis puisi? Ayo cobalah menulis sebuah puisi dari sesuatu yang sudah begitu akrab dan dekat dengan keseharian Sahabat. Tuangkan emosi dengan pemikiran yang penuh imajinasi. Langsung tulis kata-katamu. Karena penulis puisi favorit saya, Robert Frost, mengatakan bahwa puisi itu adalah ketika emosi menemukan pemikirannya, dan ketika pemikiran itu kemudian menemukan kata-kata yang pas untuk menuangkannya.
So, just write your own words!


Salam Saung Belajar,

Senin, 01 Juli 2019

Making Appointment & Reservation by Phone ; Belajar Bahasa Inggris Yuk

Sahabat Rumah Belajar,
Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari Bagaimana cara membuat janji temu melalui telepon dalam Bahasa Inggris
‘HOW TO MAKE APPOINTMENT BY PHONE’ 


Dan inilah yang akan kita pelajari saat ini:

1. Bagaimana cara menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian dengan bahasa Inggris
2. Menyimak dan menirukan percakapan untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian
3. Berlatih bermain peran menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian

Okay are you ready? Lets start it now.

Sahabat Rumah Belajar, Have you ever made a phone call? Off Course, I’m sure you have made phone calls several times. Telephone has become familiar among us. Mobile phones have become part of our live.

Sahabat Rumah Belajar, Have you ever made an appointment? To meet a friend maybe. To see a dentist perhaps.

Pengertian 'Appointment' dan Fungsinya

Apa pentingnya membuat janji? Apalagi dalam bahasa Inggris?

Sahabat Rumah Belajar, era sekarang adalah era global dimana kegiatan bisa berskala mendunia. Kita bisa berhubungan dengan siapa saja dari seluruh penjuru dunia. Dan bahasa Inggris adalah salah satu alat komunikasinya. Misalnya:

Bisa saja terjadi di situasi membuat janji dalam hal urusan bisnis
Membuat janji untuk membahas beasiswa luar negeri dengan pihak universitas
Membuat janji bertemu dengan dokter atau tenaga medis saat kita memerlukan

Telepon merupakan salah satu media yang dapat kita gunakan. Dengan menelpon terlbih dahulu, kita dapat memastikan kapan dan dimana janji temu itu dapat terlaksana.

Kata Appointment dalam bahasa Indonesia bisa diartikan ‘janji’ – make appointment berarti membuat janji. Mengatur janji bertemu seseorang pada waktu dan tempat tertentu. Sinonim kata appoinment adalah : meeting, engagement, atau arrangement

ap•point•ment
/əˈpointmənt/

(noun)
an arrangement to meet someone at a particular time and place.
- For business
- See the doctor or dentist
Example: "The customer made an appointment with my receptionist"
synonyms: meeting, engagement, interview, arrangement;

Agar suatu saat nanti Sahabat Rumah Belajar tidak mengalami kesulitan,
ayo kita sekarang pelajari bagaimana cara menelpon dan menerima telepon dalaam bahasa Inggris untuk membuat perjanjian.

Cara Membuat Janji Melalui Telepon

1. Greet politely  and Introduce yourself

Sapalah lawan bicara kita dengan cara berbicara yang ramah dan sopan.  Kata yang umum digunakan saat menyapa lewat telepon misalnya : 'Hello '
Saat kita menelpon sebuah kantor atau klinik dokter, kita menggunakan bahasa yang lebih formal. Biasanya yang menerima telpon kita adalah sekertaris atau resepsionis. Maka setelah menyapa perkenalkan siapa diri dan mengapa anda menelpon.
Contohnya seperti berikut :

Good morning.
This is Rose calling. I’d like to make an appointment to see Mr. John.

Beberapa resepsionis kantor mungkin akan menanyakan alasan lebih lanjut untuk keperluan anda membuat janji temu. Sahabat Rumah Belajar mungkin akan mendengar pertanyaan seperti berikut :
  • Can you tell me what’s its about?
  • Can you tell me what it’s regarding?
  • Sahabat dapat menjawab dengan alasan yang ringkas dan jelas. Misalnya:
  • Yes, it’s about the new marketing strategy.
  • Yes, it’s about the advertising campaign

Jika Sahabat dijawab langsung oleh orang yang bersangkutan, bukan lewat resepsionis, Sahabat dapat langsung mengungkapnya sebagai berikut:

Hi / Hello/ Good afternoon. It’s Rose. Can we meet to talk about ....

2. Suggest the time and place

Jika yang menjawab telpon anda adalah lewat resepsionis. Sahabat akan mendengar frase seperti :
  • Ok. Let me take a look in his diary.
  • I can fit you in next Friday.
  • I can fit you in tomorrow evening.
  • Oh. His diary in full until next Monday.
  • I can’t fit you in until next Friday.
Dan Sahabat dapat menjawab seperti ini:
Reply:
Agreeing on a date
  • "Yes, Thursday is fine."
  • "Thursday suits me."
  • "Thursday would be perfect."
  • "That suits me well."
  • "That’s fine. What sort of time?"
Suggesting a different date
  • "I'm afraid I can't on the 3rd. What about the 6th?"
  • "I'm sorry, I won't be able to make it on Monday. Could we meet on Tuesday instead?"
  • "Ah, Wednesday is going to be a little difficult. I'd much prefer Friday, if that's alright with you."
  • "I really don't think I can on the 17th. Can we meet up on the 19th?"
Jika Sahabat berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan, Orang tersebut bisa menanyakan :
Sure! When suits you?
Sure! When would you like to meet?

Dan inilah beberapa ungkapan untuk membuat saran. Suggest the time or the place:
Making suggestions
  • What about next Monday? At your office?
  • How about next Monday?
  • How does next Monday sound?
  • Are you available next Monday?
  • Would you be available next Monday?
  • Would Monday morning suit you?
  • Would Monday morning be convinient?
Sahabat Rumah belajar, langkah selanjutnya saat bertelepon untuk membuat janji adalah ‘Check and Confirm’ .

3. Check and confirm

Sebelum mengakhiri telpon, Sahabat sebaiknya mengecek ulang tentang janji yang telah disepakati dan memastikannya. Tujuannya agar kedua belah pihak merasa pasti dan mengingat tanggal dan janji temu yang telah ditetapkan.

Frasa yang sering digunakan adalah :
Ok. So that’s Monday at 4 pm.
Shall we meet in the boardroom?
Shall I come to your office?
Thanks see you then.

Nah, Sahabat Rumah belajar itu tadi beberapa cara dasar untuk membuat janji melalui telepon. Itulah beberapa frasa Bahasa Inggris yang dapat sahabat gunakan. Sekarang, yuk kita berlatih. Let's get some practices!

Latihan Menyimak dan Bermain Peran

Untuk mengingat kembali beberapa cara dan frasa yang sudah kita pelajari. Mari kita dengarkan contoh percakapan berikut. Perhatikan dan catat, frasa apa saja yang digunakan dalam dialog yang diperdengarkan.
Dialog ini diambil dari podcast BBC Learning English.
Setelah itu, tirukan bunyinya dengan membaca keras frasa-frasa yang sahabat tuliskan.

Sahabat dapat pula mengulang - ulang frasa tersebut dengan menggunakan tombol pause and play.

Dialog ini terjadi dalam percakapan telepon antara Peter dan Michelle. Peter ingin membuat janji dengan atasan Michelle , yaitu Mr. Hibberd. Can you notice when and where the meeting will be held? Okay, listen carefully:




Setelah mengamati pemaparan dan video di atas, Sahabat dapat mengetes pemahaman sahabat dengan mengerjakan quiz berikut :
 Untuk berlatih berbicara, cobalah membuat dialog berpasangan bersama rekan anda dengan berbagai situasi yang berbeda. Pilihlah salah satu dari masalah berupa situasi berikut ini:
  • Anda adalah resepsionis di sebuah kantor universitas. Teman anda menjadi seorang penelpon. Teman anda sedang kebingungan mengenai beasiswa yang diterimanya. Teman anda kemudian ingin mengatur janji temu dengan dekan untuk membahas hal itu. 
  • Anda sedang berada di New York untuk sebuah perjalanan bisnis. Teman anda sebagai resepsionis klinik tersebut. Tiba-tiba gigi anda sakit. Anda kemudian menelpon klinik dokter gigi. 
  • Anda adalah seorang tim kreatif biro iklan. Anda mendapat customer dari sebuah perusahaan bidang fashion dari luar negeri. Anda menelpon kantor perusahaan tersebut untuk mengatur janji temu dengan Marketing Manager untuk membahas strategi pemasaran terbaru. Teman anda sekretaris yang menerima telepon anda.

Gunakan beberapa frasa yang telah anda pelajari sesuai kebutuhan. Jika masih merasa kesulitan untuk langsung berdialog, anda dapat menuliskan dialognya dulu. Setelah itu cobalah bermain peran.

Untuk mengecek pengucapan, rekamlah dialog yang anda lakukan bersama teman anda tersebut. Cukup rekam melalui handphone dalam bentuk Mp3. Minta guru atau teman untuk memberi masukan.

Sahabat Rumah Belajar,  semoga penjelasan diatas dapat membantu untuk memahami cara membuat janji melalui telepon dalam Bahasa Inggris. Jangan lupa untuk mengulang ulang di rumah ya.

Don’t forget to practice it. Practice will help you to memorize those expressions well. See you!

(materi ini sesuai dengan sesuai pelajaran Bahasa Inggris Peminatan atau Lintas Minat kelas XI - KD 3.6 / 4.6)

Untuk materi -materi Pelajaran Bahasa Inggris lainnya silakan bisa diklik disini, semoga ada sedikit manfaat:







Rabu, 15 Mei 2019

Apem Kukus Tradisional yang Ngangeni


Tradisi Membuat Apem

Menjelang Ramadhan, apem kukus ini merupakan salah satu hidangan khas yang menjadi bagian dari tradisi Megengan. Di beberapa desa di wilayah kota tempat tinggal saya, Wonogiri, tradisi megengan masih dilaksanakan. Saat ini memang tidak semua warga menyelenggarakannya. Keluarga kami termasuk yang tidak mewajibkan mengadakan acara megengan menjelang Ramadhan. Tetapi memasak dan menikmati apem tetap menjadi salah satu hal yang ngangeni, bikin kangen masakan tradisional buatan rumahan biasa.

Megengan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan. Di Wonogiri, megengan umumnya dilaksanakan sekitar dua pekan  sampai sehari menjelang puasa. Di beberapa tempat ada yang megengannya dilakukan secara berkelompok, di kebanyakan desa diselenggarakan per rumah secara bergantian. Rumah yang menyelenggarakan megengan mengundang tetangga-tetangga terdekatnya. Beberapa  menu makanan dihidangkan dan apem merupakan salah satu menu yang disajikan. Untuk kisah menarik Ramadhan dari blogger lain silakan baca disini

Gadis kecil saya yang pernah melihat acara ini menjadi penasaran dengan pembuatan apem yang disajikan oleh pemilik rumah. Ada dua macam apem yang disajikan yaitu apem goreng wingko dan apem kukus. Bentuknya yang seperti conthong atau kerucut menjadikannya tampak beda dan menarik.
"Eh . dibungkus dhong nongko , lho buk!" serunya ingin tahu. Hap..hap.. tahu - tahu sudah beberapa bungkus dilahap.

Lha ini rahasianyaaa.. dikukus memakai godhong atau daun nangka. Apalagi jika dikukus menggunakan kukusan bambu di tungku api tradisional. Woow..rasanya yang legit manis dipadu aroma khas akan membuat kita terkangen kangen. Aromanya akan lain jika adonan apem ini dibungkus menggunakan daun lain yang lebih umum dipakai, daun pisang misalnya.

Maka meskipun kami tidak merayakan megengan, kami ingin mengenalkan cara pembuatan kue tradisonal kepada gadis kecil kami itu. Kebetulan ada Budhe Tun, saudara dari ibu saya, yang pandai memasak kue tradisional ini. Prosesnya memang sedikit rumit bagi saya yang tak pandai bikin kue, dikukusnya juga tidak memakai tungku api tradisonal, tapi hasilnya tetep syedaap dan bisa mengobati rasa kangen.

Resep Kue Apem Kukus Bungkus Daun Nangka

Hari itu niat banget bahan-bahannya disediakan sejak awal. Ini karena dalam membuat kue apem ini ada proses membuat ragi sendiri dari tape singkong yang memerlukan waktu tidak sebentar.

Ini dia bahan - bahan yang diperlukan untuk membuat apem conthong daun nangka:

500 gram Tepung beras
400 gram gula pasir atau gula jawa
3 bungkus kecil tape singkong (haluskan)
1/2 sdt ragi instan (optional)
1 mangkuk sedang santan kental dari 1 butir kelapa
Garam secukupnya
3 lembar daun pandan

Cara pembuatan yang pertama adalah membuat 'jladren' atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut adonan. Berikut cara lengkap membuatnya:

  1. Tape singkong dibuang seratnya, lalu dilumat-lumat dengan tangan.
  2. Tambahkan tepung beras dan gula pasir atau gula jawa sedikit demi sedikit berselang - seling sambil terus diuleni
  3. Tambahkan santan sedikit demi sedikit untuk mengencerkan adonan
  4. Masukkan ragi instan atau ada yang menyebutnya obat apem sambil diaduk
  5. Bila semua bahan tercampur, tutup wadah adonan/ jladren dengan kain bersih
  6. Diamkan jladren sampai mengembang (lamanya terserah, ada yang cukup satu dua jam, ada yang mendiamkannya sampai 5 jam)
  7. Buat conthongnya dari daun nangka yang disematkan dengan lidi
  8. Setelah mengembang, adonan dimasukkan ke conthong-conthong tersebut
  9. Kukus hingga matang sampai sedikit merekah (sekitar 20-30 menit)

Membuat conthong dari daun nangka
Hati-hati menuang jladren ke tiap conthong

Gadis kecil kami excited sekali saat menuangkan jladren yang sudah jadi ke conthong daun nangka. Sepulang sekolah dia langsung ikut membantu sampai tidak sempat ganti baju dulu. ehehe.. Semangaatnya! Dia agak kesulitan saat membentuk daun nangkanya menjadi bentuk conthong. Daunnya yang masih segar dan agak keras jadi menyulitkan untuk dibentuk. Si bapak sampai akhirnya turun tangan membantunya. Rasanya makin lezat saat menikmati apem conthong dong nongko panas-panas hasil buatan sendiri.

Sejarah Apeman dari Tanah Jawa

Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa istilah apem itu sebenarnya dari bahasa Arab, yaitu afuan/afuwwun yang berarti ampunan. Dalam filosofi Jawa, kue tradisional ini dianggap sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Lalu lidah orang Jawa kemudian menyederhanakannya menjadi apem.

Nah saat tradisi membuat apem dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan atau Idul Fitri, itu mereka maksudkan untuk saling meminta maaf menjelang hari suci tersebut. Dimaksudkan untuk menyambut bulan Ramadhan yang istimewa dan Idul Fitri yang suci dengan diri yang bersih dari dosa, meminta ampunan dari Allah SWT. Tradisi yang diadakan menjelang Romadhon disebut megengan. Yang menjadi pro kontra adalah ketika ada unsur memberi sesajen dalam acara tersebut. Ya pendapat orang bisa beda-beda sih. Semua punya dalil masing -masing. Tapi yang jelas si apem itu tidak ada salahnya dinikmati sebagai kudapan tradisional. Apalagi apem conthong daun nangka ini. Lezaaat dan ngangeni.

Kalau ditilik dari sejarahnya. Si apem ini alkisah bermula dari zaman Sunan Kalijaga, salah seorang bagian dari Wali Sanga yang termasyur itu. Menurut cerita, seorang murid Sunan Kalijaga yang disebut Ki Ageng Gribig atau Sunan Geseng, waktu itu pulang dari ibadah haji. Beliau melihat penduduk desa Jatinom, daerah Klaten, banyak yang kelaparan.

Tergerak membantu warga tersebut, Ki Ageng Gribig membuat kue apem lalu dibagikan kepada penduduk yang kelaparan. Untuk mengenalkan mereka pada Islam, beliau mengajak mereka mengucapkan lafal dzikir Qowiyyu ya Qowiyyu (Allah Allah Maha Kuat). Para penduduk itu pun kemudian menjadi kenyang, terbebas dari rasa laparnya. Ini kemudian memotivasi penduduk setempat untuk terus menghidupkan tradisi upacara Ya Qowiyyu setiap bulan Safar. Gunungan apem besar diarak untuk kemudian dibagi pada masyarakat yang berkumpul di acara tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan bersedekah lebih banyak.

Acara Ya Qowiyuu di Klaten (gambar diambil dari antara.com)

Falsafah Dibalik Kue Apem

Kalau dipelajari lebih mendalam, kita dapat mempelajari falsafah dalam pembuatan kue apem tersebut. Jadi tak hanya enak, kue kukus tradisional ini juga memiliki makna yang mendalam.
Begini falsafahnya kalau dikaji dari bahan-bahan pembuatannya.

Apem itu kan bahan utamanya adalah tepung beras, dalam bahasa Jawa disebut 'glepung'. Kalau diamati, bentuk glepung itu kan seperti debu halus. Maka secara falsafahnya, glepung itu debunya jagad, debu semesta. Seperti sebuah gunung api, ketika erupsi akan menutupi bumi dengan debu, bersamaan dengan lelehnya lahar. Laharlah si santen. Santen, air perasan dari daging buah kelapa yang merupakan perlambang dari susu buah kehidupan, akan nguleni glepung. Glepung yang berasal dari padi itu dianggap sebagai buah dari tanah kehidupan. Sebuah kombinasi harmonis dari kehidupan yang ideal. Apalagi jika santen yang digunakan santen kanil berkualitas bagus, santen yang paling kental, apem yang dihasilkan akan luar biasa.

Bahan-bahan tadi kemudian diaduk dalam satu wadah yang disebut 'jladren'. Kata jladren itu sendiri berasal dari kata jaladri yang berarti samudera; simbol air kehidupan yang luas. Maka jladren bermakna adonan yang berbentuk tiruan rupa samudra. Kalau menurut saya, ini dapat juga dijadikan sebuah pemaknaan agar manusia pembuat dan penikmatnya selain hidup harmonis, merasa sekecil debu, juga menjadi mempunyai ilmu dan kesabaran seluas samudra.

Jladren apem itu kemudian perlu dienengke atau didiamkan beberapa waktu. Tujuannya agar meneb dan mengembang jika didang (dikukus). Jadi manusia itu tidak boleh grusa-grusu, tidak mudah pula sombong, tapi harusnya meneb.. berdiam barang sebentar untuk menjaga ketenangan diri. Meneb nya bisa dengan bersimpuh menenagkan diri saat sholat dan berdzikir dengan khusuk.

Jadi secara garis besar falsafah yang terkandung dalam kue apem ini mencerminkan keharmonisan manusia sebagai bagian dari tata kosmos yang seharusnya dijaga tetap harmonis. Baik antar manusia, alam dan dengan Tuhannya. Tentu saja falsafah kue apem seperti ini mungkin akan anda temui beberapa versi lain, temasuk asal-usul sejarahnya. Yang penting maknanya baik.

Ah, gadis kecil saya sih belum begitu paham akan semua falsafah itu. Apem conthong bungkus daun nangka itu tetap terlihat istimewa. Dan rasanya yang lezat, cara membuatnya yang unik membuat kue kukus tradisional ini semakin ngangeni.

Bagaimana dengan kue tradisional di daerah anda? apakah juga mempunyai sejarah dan falsafah semenarik apem? Yuk mari lestarikan kuliner tradisional yang ada disekitar kita.


  Salam,










Selasa, 07 Mei 2019

Menulis adalah Sedekah ala Jenius Writing

Meski hanya sekedar lewat tulisan, saya ingin berbagi. Kalau kata coach menulis saya di komunitas Jenius Writing, Luthfi Coachwriterartists, Menulis adalah sedekah. Menulis dari hati, jika diniatkan untuk kebaikan bisa saja menjadi ladang sedekah kita. Begitu.


Saat mengikuti kelas offline JW Batch Wonogiri di Padi Resto

Tahun 2018 lalu, seorang teman lama saya mengajak ikutan kelas menulis yang bernama Jenius Writing. Waktu itu kebetulan diadakan kelas offline di Wonogiri. Bismillah saya berangkat. Menarik sekali konsep yang diajarkan oleh Coach Lutfi di sepanjang acara hari itu. Itulah kemudian yang mendorong saya untuk ikutan kelas menulis online nya JW di kemudian hari.

Salah satu konsep yang diajarkan di JW adalah bahwa menulis itu bisa jadi sarana sedekah; jika apa yang kita tulis dapat mengajak orang lain untuk belajar kebaikan, jika dengan kalimat yang kita rangkai, orang lain tergerak untuk melakukan hal baik. Pun jika dengan tulisan kita orang lain merasa terhibur, selama kita niatkan ikhlas untuk kebaikan, itu kan bisa juga seperti sedekah. Jadi berpahala juga.

Oke, back to JW, jurus- jurus di JW itu kebanyakan mengusahakan agar otak kanan kita lebih aktif saat menulis. NGANAN jangan NGIRI!
Itu slogan yang selalu ditekankan coach saat sesi latihan, baik offline maupun online. Kenapa? Karena belajar nulis itu ya nulis aja. Jangan terlalu banyak berpikir. Gunakan sisi spontan, jenial dan kreatif ! Dan itu letaknya di kamar otak kanan. Salah kamar akan membuat kita bisa mudah stuck dan tidak kreatif saat belajar menulis. Mati gaya. Lhooh kok gitu?!

Tak apa , awalnya saya juga protes gak jelas gitu. Apalagi saya ini guru bahasa , biasa menulis secara terstruktur. Malah komplit dengan drafting yang rapi. Tapii, setelah saya terlibat langsung sesi demi sesi latihan, saya menyadari bahwa memang konsep nganan itu sangat penting untuk menuju keteraturan menulis lewat otak kiri. Nganan itu ibarat pemantik nyala apinya, ngiri itu menata alunan jilatan apinya.

Jadi gini, kalau kita mau belajar menulis, trus belum-belum kita ingin sibuk menata besar kecilnya api -lha apa ya bisa- kalau apinya saja belum kita pantik dengan benar. Api belum membesar , kita sudah sibuk aja ngipasi dengan bertubi-tubi. Apa yang terjadi? Naah kan.. apinya malah bisa mati begitu saja.

Ajaibnya, ketika saya asyik menggunakan otak kanan untuk belajar menulis bersama JW, saya mendapati kemampuan menulis saya yang bersifat akademis ikut meningkat pesat. Dengan sendirinya saya dapat terbantu untuk menulis laporan kegiatan, artikel ilmiah,maupun penelitian secara teratur.

Buktinya dengan menulis laporan kegiatan Laskar Aksara saya dapat ke Jakarta gratis, dengan menulis penelitian tentang pembelajaran di kelas, saya ditawari jadi pembicara seminar SEAMEO yang akan diselenggarakan di Bogor. Beberapa artikel saya juga bisa masuk koran tanpa editan yang berarti dari editor. Rejekipun bertambah, jatah sedekah ke yang membutuhkanpun bisa ikut bertambah.

Alhamdulillah, tulisan ilmiah saya diapresiasi dengan baik bahkan oleh lembaga-lembaga bergengsi,padahal sebelumnya saya itu hanya guru biasa banget, jarang tampil. Belum pernah ikutan kompetisi-kompetisi semacam itu. Kata orang, tulisan saya terasa lebih runtut dan mudah dipahami. Saya pun kadang sampai terheran-heran sendiri. Practice makes perfect itu memang nyata adanya.

Logo JW

Ini ya-saya beri contoh kegiatan latihan menulis di JW. Seru dan dilakukan dengan cepat. Balapan dengan peserta lain. Coach akan cerewet dan jutek untuk memastikan kita tidak terlalu banyak mikir. Soal editing, itu bisa nanti-nanti. Kobarkan dulu nyala apinya. Itu yang penting.

Pertama: tulis 16 nama buah. Cepat! Tambahi kata sambung. Lekatkan kata sifat provokatif di belakangnya. GPL; Ga Pkai Lama! . Pilih nomer 4 sebagai judul, jadikan 3 empat paragraf. langsung tulis! Begitu selesai upload di Facebook. S e g e r a!

Begitu salah satu contoh sesi latihan menulis di JW. Adaa aja yang beda di setiap sesi latihan. Membuat kita terpacu menulis, tanpa bosan-bosan. Misalnya ini salah satu contoh hasil menulis saya secara spontan di sesi latihan itu:

DUREN YANG MUDAH JUTEK

Sepet. ‘Mana ada duren sesepet ini?’ protes seorang ibuk-ibuk. Merepet suaranya gemontang di sebuah lapak buah kecil di pinggiran kota. “Duren itu HARUSNYA wangii, manis dan legit!”

Kecut. Si bapak penjual yang rambutnya sudah memutih itu mengkeret tersemprot omelan si ibuk pembeli. “ Gek siapa to buuk yang mengharuskan durian itu Kudu manis-legit – harum pula?” keluhnya lirih. Stengah berharap si ibu tetap membayar duren yang sudah terlanjur dibelah.

Asem. Warna muka si ibuk sudah bagai emotikon senyum kebalik dengan sungu merah diatasnya. Siap ngamuk. Meski mulutnya tak juga berhenti mengunyah.  Mengacak acak pongge duren dengan kesal. Diunjuk – unjukkan dengan muka super masam. Tanpa ampun tepat di muka bapak penjual. “Niih liaat dari ponggenya saja jelass dapat diketahui kalo duren ini sepet!” . tetep sambil ngunyah.

Nyengir. Senyum bingung tak habis pikir si bapak penjual. Welah segala pongge jadi ukuran. Bagaimana tahu coba pongge kan letaknya di dalam. Heran. Orang kalau sedang kesal ukurannya bisa berubah ubah. Jangan – jangan sebentar lagi bilang bahwa sepetnya terlihat dari ukuran duri-durinya yang tidak simetri!

Semakin geram si ibuk. “si bapak ini gimana to? Kok malah nyengir nyengir gak jelas.” Si bapak semakin bingung menjawabnya. Lhah si ibuk ngomel tapi duren tetep disikat. “sepet tapi kan enak to buk?”  mencoba berkilah demi melihat mulut si ibuk yang belepotan.

Jutek tingkat dewa. Si Ibuk tak terima,”Enak gimana to.. sepet gini!.” Si bapak akan mangap menjawab – “sepet kok hab...  “, si ibuk segera memotongnya, “ Kalo jualan yang bener dong!”
Semakin nyengir si bapak penjual. Sudah pikirnya tak mungkin menang melawan yang emosian macam ini. “ini saya jualannya sudah bener lho buk. Wangi wangi kan duren saya. Tapii ya gimana lagi, memange mudah apa menebak isi duren? Saya juga hanya bisa menebak – apa durennya semanis wanginya...apa durennya selegit aromanya. Yang PENTING MILIH RIYIIN buuk...  Yang penting milih dulu.”

“Kalo pas dapat yang ternyata tidak sesuai harapan-ternyata yang agak sepet gitu  - yaa jangan terlalu jutek laahh. Bikin pendek umur!” lanjut pak penjual. Dalam hati saja.

“Pokoknya saya minta ganti !,” si ibuk bersungut-sungut sambil mengelap tangannya sambil lalu.

"Buat ibu, aapa sih yang tidak," si bapak mencoba mencairkan segala kejutekan di antara buliran durennya. "Ini sila ibu bawa pulang."

Si ibu tersenyum di ujung bibir menerima sebongkah durian besar dari si bapak penjual.

Tanpa disadari, di sisi kanan lapak itu, seorang lelaki muda perlente mengamati alur drama duren jutek sepanjang pagi itu. Kagum dia dengan keramahan dan keiklhasan di bapak penjual. Berdagang bukan hanya diniatkan mendapat laba semata. Didekatinya bapak penjual duren itu.

"Begini, pak...saya mau menawarkan kerjasama agar bapak bisa mensuplai buah durian secara berkala di supermarket-supermarket saya. Nanti kontrak kerjasa.." Dihentikannya bicara demi melihat si bapak penjual terlihat gelisah. "Kaget mungkin , dengan penawaran besarku ini. Ini kan cuma lapak duren biasa saja," pikir lelaki muda kaya itu dalam hati.

Ehmm..anu ..itu adzan.. saya kalau boleh mau ke mushola sebelah sana dulu" tangan si bapak menunjuk sebuah surau kecil di seberang jalan.

Tak terima , seorang ajudan pemuda itu menyerobot, " Bapak, ini gimana to.. ini Tuan saya sedang bicara. Anda itu ditawari transaksi penting kok malah pergi!"

"Aduuh,maaf, maaf... jangan jutek jutek gitu to, masnya. Bisa-bisa duren saya jadi sepet semua kalau setiap pembeli yaa datang ngomel-ngomel jutek." si bapak mencoba meminta pengertian.

Si pemuda bekemeja mewah itu tak ragu kemudian merangkul bahu berkaos dekil si bapak penjual duren. "Ah.. ya.. bapak benar. transaksi ini cuma urusan dunia yang bisa menunggu."

pixabay'spicture
Begitulah cerita saya belajar menulis bersama JW. Masih berliku sih jalan saya untuk bisa semakin mahir menulis. Tapi saya tak mau patah semangat. Salah satunya ya belajar menulis di blog ini secara teratur. Belajar nulis apa sajaa, yang penting nulis. Karena belajar menulis itu ya dengan  - nulis.

Ini dia contoh lain tulisan fiksi saya hasil latihan. Silakan baca disini:  menulis-cerpen-tema-hijrah-bukan-tamu-biasa

Terima kasih sudah berkunjung di saung sederhana saya ini. Terimakasih sudah menjadi teman saya untuk berbagi. Lewat blog ini saya ingin belajar menulis. Belajar berbagi. Belajar bersedekah lewat untaian kata.









blogger tamplate

 thema gratis blogger terbaru blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template b...