Senin, 21 Oktober 2019

Mencoba Blended Learning Berbantu Blog dan Rumah Belajar


Dalam pembelajaran abad 21, kreatifitas dan keterampilan berpikir kritis adalah hal penting yang perlu dikuasai oleh para murid. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kreatifitas dan pemikiran kritis itu dapat ditumbuhkan dan ditajamkan melalui penerapan pembelajaran aktif yang kreatif. salah satunya adalah konsep Blended Learning menggunakan framework yang ditawarkan oleh Grahan (2006). Tetapi perlu diingat bahwa Blended Learning itu bukan melulu tentang teknologi semata, teknologi adalah sarana. Technology is not an end, it’s a mean.

Itulah yang saya tangkap dari pemaparan Prof. Dr. Muhammad Kamarul Kabilan dari Universiti Sains Malaysia di acara Simposium Pembelajaran Bahasa Asing yang diselenggarakan tahunan oleh Seameo Qitep in Language tanggal 16 – 17 Oktober lalu. Beliau kemudian menunjukkan contoh praktik pengalamannya dalam menerapkan Blended Learning yang beliau lakukan dalam bentuk kegiatan bernama PET102 (Oral Skills in TESOL).

Bapak Prof Kabilan menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online (daring) dengan berbantu FB Group. Di FB group itu pengajar bisa menyampaikan materi pembelajaran berupa teks,video atau gambar untuk dipelajari siswa secara mandiri. Bisa di mana saja. Di FB Group itu, siswa juga bisa berinteraksi dengan guru atau siswa lain atau membagikan karya project mereka. Bisa juga menjadi sarana penyimpan portofolio siswa. Dengan kegiatan tersebut, teramati para siswa merasa bahwa mereka telah bisa meningkatkan kreatifitas dan ketrampilan berfikir kritis mereka.

Apa itu Blended Learning?

Blended artinya campuran. Dalam beberapa referensi, Blended Learning mencampurkan program pendidikan formal dan non-formal, penggabungan antara kegiatan pembelajaran tatap muka (face to face classroom method) dengan pembelajaran berbasis teknologi online. Jadi bukan pembelajaran yang pure – terus menerus memakai sistem teknologi atau onine, bukan pula pembelajaran yang terus menerus mengandalkan kegiatan tatap muka.

Blended Learning dapat diawali dengan kegiatan pembelajaran tatap muka seperti dahulu. Walaupun terkesan kuno, pembelajaran tatap muka mempunyai kelebihan yaitu siswa bisa berinteraksi langsung dengan guru secara riil. Jika ada kesulitan bisa langsung bertanya. Hanya saja waktunya bisa saja terbatas, mudah membosankan dan tidak fleksibel. Inilah yang kemudian bisa dilengkapi saat fase pembelajaran daring, menggunakan teknologi.

Pembelajaran sistem daring lebih fleksibel dan menarik. Hanya saja bisa saja unsur distractor dari internet lebih besar. Saat membuka pembelajaran online, siswa begitu mudah tergoda membuka jendela lain untuk bermain game online atau chatting di media sosial. Saat berinteraksi dengan guru juga kadang tidak bisa langsung di jawab karena guru belum tentu selalu dalam keadaan daring.Nah, kelebihan dan kekurangan kedua metode itu bisa saling melengkapi dalam blended learning.

Blended Learning juga bergantian menggunakan metode pembelajaran invidual, kemudian bisa berganti menjadi metode diskusi kelompok kecil atau berpasangan. Akan lebih baik jika disertai kegiatan yang bersifat praktik atau project. Sehingga siswa tidak hanya belajar teori saja. Tetapi bisa juga praktik dalam konteks penerapan atau konteks sosial.

Blended Learning dengan Menggunakan Blog dan Rumah Belajar

Saya kemudian tertarik untuk menerapkan blended learning dengan berbantu media blog dan portal Rumah Belajar. Saya kebetulan suka menulis di blog. Saya merasa seperti memiliki lahan sendiri yang bisa saya atur sesuai kemauan saya. Serasa jadi editor, penulis , sekaligus tim kreatif dari sebuah lini penerbitan majalah.

Sementara Rumah Belajar yang digagas oleh Pustekon Kemdikbud, dapat digunakan sebagai sarana tambahan agar pembelajaran menjadi lebih kaya dan bermanfaat. Bisa juga membantu untuk tambahan materi bahan ajar melalui fitur Sumber Belajar ataupun sarana penilaian melalui fitur Bank Soal.

Saya mecoba Blended Learning untuk KD Making Appointment by Phone, membuat janji temu dalam bahasa Inggris. Sebuah KD yang terdapat dalam pembelajaran Bahasa Inggris program Lintas Minat kelas XI SMA.

Urutan Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)

  • Guru menyapa, memberi salam dan mengabsen pesrta didik.
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai
  • Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan latihan – latihan dan tugas dalam pembelajaran
  • Guru melakukan apersepsi dengan mengkaitkan pada masalah sekitar sambil menunjuk gambar dan mengumpan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti,

 ‘Have you ever made a phone call? What do you usually arrange in a phone call?”
“Suppose you’re a bussinesman, you’re going to make a bussiness deal with the director of other company, what would you do?
Siswa menjawab secara lisan secara individual.

2. Kegiatan Inti (65 menit)
Mengamati 

  • Siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil berisi 4 anak per kelompok untuk berupaya menyelesaikan masalah yang dikemukakan di kegiatan pendahuluan. Semua kegiatan selanjutnya dalam kegiatan inti dilaksanakan secara berkelompok.
  • Peserta didik mendengar dan menonton video interaksi menelpon dan menerima telepon dari laman Rumah Belajar bagian kerjasama dengan TV-E http://video.kemdikbud.go.id/video/play/how-to-handle-a-call
  • Peserta didik mengamati kemudian menirukan beberapa kalimat yang diucapkan oleh pembicara di video.
  • Peserta didik menjawab pertanyaan singkat dari video tersebut secara lisan.

Menanya 

  • Dengan pertanyaan pengarah dari guru, siswa dipancing untuk mempertanyakan:
  • Cara menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian.
  • Perbedaan ungkapan yang dipakai untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat perjanjian dalam bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia.

Mengumpulkan Informasi  

  • Peserta didik dengan kelompoknya mengeksplorasi beberapa cara dan frasa yang sering dilibatkan dalam membuat janji melalui telepon dengan mendengarkan dialog di laman BBC Learning English.
  • Peserta didik  melengkapi dialog simulasi dan kemudian mempraktekkannya.
  • Sambil mengamati video, peserta didik mencatat frasa apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk menyusun dialog dalam menyelesaikan masalah yang dikemukakan di awal pelajaran.

Mengasosiasi

  • Peserta didik membaca kemudian membandingkan contoh contoh ungkapan untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat janji dari sumber lain yang telah dicari.

Mengkomunikasikan

  • Peserta didik menyusun dialog untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat janji dari situasi tertentu.
  • Setiap kelompok mengirim dua siswa perwakilan kelompoknya untuk mempaktekkan dialog untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat janji yang mereka buat.
  • Peserta didik dari kelompok lain memberi tanggapan ringkas secara lisan.
  • Guru memberi sedikit feedback lisan dari keseluruhan proses.

3. Kegiatan Penutup (15 menit)

  • Peserta didik secara lisan menyimpulkan ungkapan yang dipakai untuk menelpon dan menerima telepon dalam membuat janji.



  • Evaluasi pemahaman per individu:
  • Peserta didik mengerjakan latihan untuk mengecek pemahaman per invidu yang telah dibuat guru melalui Bank Soal Rumah Belajar.Bisa dikerjakan kapan saja di mana saja dalam rentang waktu yang ditetapkan guru. 

Kegiatan tindak lanjut:

  • Guru menjelaskan penugasan untuk kegiatan tindak lanjut : Di luar jam pelajaran, peserta didik membaca materi tambahan di blog milik guru : https://saungbelajaraisyah.blogspot.com/2019/07/making-appointment-by-phone-belajar.html

  • Penugasannya adalah, peserta didik membuat dialog pendek berdasar satu dari berbagai masalah yang dapat dipilih di blog. Penugasan berupa rekaman audio dari hp kemudian di submit lewat blog tersebut. Analisa dan evaluasi proses pemecahan masalah akan dilakukan di pertemuan berikutnya.

Guru menutup pembelajaran dengan ‘salam’.

Review Kegiatan

Pembelajaran menjadi tidak hanya terus menerus dengan metode ceramah. Siswa bekerja dalam kelompok maupun secara kegiatan invidual. Kegiatan tatap muka di kelas kemudian diperkaya dengan kegiatan pembelajaran dan penilaian secara online.

Penilaian secara online dapat diatur oleh guru melalui fitur Bank Soal di Rumah Belajar. Dan  dari blog milik guru , siswa dapat mengulang pembelajaran tentang ungkapan membuat janji temu dalam bahasa Inggris secara daring. Dari blog siswa dapat mengunduh materi Listening yang tadi dilakukan di kelas saat kegiatan pembelajaran face to face. Siswa juga dapat meng upload hasil praktik mereka melalui tautan Google Drive milik guru yang disematkan di blog.

untuk contoh lain kegiatan pembelajaran blended learning dengan media blog dan Rumah Belajar, anda dapat membaca di artikel : Menerapakan Blended Learning pada Pembelajaran Menulis Puisi

Dengan Blended Learning ini diharapkan siswa akan mendapat pengalaman belajar yang lebih kaya , lebih beragam dan lebih fleksibel. Hasil akhirnya semoga siswa belajar dengan hati yang lebih riang dan semangat. Karena seharusnya belajar itu menyenangkan, bukan?

Salam Belajar,





#blogjadibuku
#bukansekedaroemarbakri
#day4

Minggu, 20 Oktober 2019

BUKAN KELAS BIASA


“Guru kok mulange gitu gitu wae berpuluh – puluh tahun. Mbuh kui gurune mudheng ora materi pelajarane. Sampek murid e podo turu ae nang kelas gak digagas blas,” jadi geli sendiri saat mendengar obrolan ini di pasar sambil nunggu parutan kelapa selesai dikerjakan. Tentu saja  saat itu yang sedang memakai kaos oblong tidak mengaku sebagai guru. Takut dibully. Ehehe. Tapi kemudian itu menjadi pemantik untuk sekedar instropeksi diri.

Walah jangan – jangan saya sama saja dengan model guru yang jadi bahan pembicaraan ibu – ibu tadi. Ibu – ibu yang resah anaknya tidak akan bisa menguasai ilmu pelajaran dengan baik karena gurunya yang mengajar dengan cara membosankan berpuluh-puluh tahun. Tidak menguasai materi pelajarannya dengan baik. Bahkan sampai tidak peduli saat sebagian besar muridnya tertidur di kelas.

Pembelajaran berbasis HOTS


Well, sebagai orang tua , saya rasa wajar – wajar saja jika sampai mengutarakan keluhan semacam itu ya. Semua orang tua pasti menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam hal mendapat pendidikan. Apalagi dalam tuntutan abad 21 ini, pendidikan anak itu tidak hanya sekedar pandai akademik semata. Persaingan kerja dan kesuksesan hidup sekarang ini tidak hanya melulu menanyakan berapa nilai akademiknya atau dari lulusan jurusan apa dia berasal. Sekarang ini ketrampilan memecahkan masalah,  berkomunikasi dan bekerja sama merupakan hal yang harusnya dikuasai oleh seorang individu. Dan itu diperoleh dari kegiatan pembelajaran berbasis pemikiran aras tinggi (HOTS based learning)

Bukannya pendidikan itu hanya di tangan guru semata. Orang tua, lingkungan dan bahkan sistem pemerintahan itu juga harusnya berperan serta dalam pendidikan anak – anak. Tetapi memang guru adalah salah satu yang menjadi key – menjadi kuncinya. Guru diminta untuk memikul tanggung jawab yang besar ini untuk mengajar dengan melibatkan HOTS di kelas- kelas mereka.  Dan itu sebenarnya memerlukan sebuah pendekatan yang holistik atau menyeluruh. Didukung oleh semua pihak, kemampuan diri si guru sendiri dan semua sumber belajar yang mendukung. Itulah yang saya tangkap dari presentasi Prof. Datuk Dr N. S. Rajendran sebagai salah satu key note speaker di Simposium Pembelajaran Bahasa Asing atau Aisofoll 10, tanggal 16 – 17 Oktober 2019 lalu.

Dr. Datuk Rajendran di Aisofoll 10

Dr. Rajendran berasal dari Unversiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Penelitian, buku – buku dan jurnal-jurnal nya sudah banyak yang menjadi bahan rujukan peneliti – peneliti lainnya. Beruntung sekali, saya dapat mengikuti kegiatan Aisofoll 10 ini di Hotel Grand Savero Bogor, sebuah hotel megah berbintang empat tepat di depan Kebun Raya Bogor yang termasyur itu. Penyampaiannya jelas dan didukung denga fakta-fakta dan contoh – contoh kasus di negaranya Malaysia. Kementrian pendidikan Malaysia juga mendorong guru – guru dan praktisi pendidikan di Malaysia untuk melibatkan pembelajaran berbasis HOTS atau critical thinking. 

Berkaitan dengan pembahasan tersebut, saya rasa kurikulum 2013 sudah cukup mencakup penguatan ketrampilan abad 21.  Mendorong guru melakukan proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk berfikiran kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (4C). Mungkin memang kurikulum ini bukan nya yang paling sempurna , tetapi saya rasa sudah cukup menjadi pijakan bagi guru untuk menjadikan kelasnya bukan sekedar kelas biasa yang sangat membosankan dan tanpa arti.
Salah satu aspek lagi tentang dukungan dari pemerintah, selain mengembangkan desain kurikulum yang sesuai, adalah dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi guru untuk dapat mengembangkan pembelajaran di kelasnya dengan pembelajaran berbasis HOTS.

Yang sudah saya rasakan salah satunya adalah program Rumah Belajar yang dikembangkan oleh Pustekom Kemdikbud sejak sekitar 2011 lalu.

Apa itu Rumah Belajar?

Rumah Belajar merupakan sebuah portal yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran online yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMA. Portal Rumah Belajar merupakan portal pembelajaran yang menyediakan bahan beljar, fasilitas interaksi antar komunitas. Rumah Belajar ditujukan untuk siswa, guru , dan masyarakat luas.

Fitur Utama Rumah Belajar

Rumah belajar ini sangat mudah di akses. Begitu klik akan muncul fitur – fitur utama dari portal ini yaitu :
1. Sumber Belajar

Di bagian ini terdapat materi ajar bagi siswa dan guru berdasarkan kurikulum. Pengembangnya kan ahli dalam bidang pendidikan. Beberapa konten juga bisa diisi oleh guru, yang sebelumnya telah diuji dulu oleh pihak Pustekom. Tampilannya tidak hanya dalam bentuk teks saja lho. Ada bahan ajar yang disajikan dalam bentuk audio, gambar, animasi, permainan dalam bentuk game online, dan video.

Untuk yang PAUD misalnya, terdapat beberapa contoh cara hidup bersih, menjaga dri dan lingkungan serta lagu-lagu yang ceria.

Untuk SD, SMP atau SMA, ada berbagai sumber belajar untuk berbagai mata pelajaran. Untuk umum misalnya tentang cara menanam dan merawat aglonema atau teknik dasar fotografi.

2. Buku Sekolah Elektronik (BSE)
Disini terdapat berbagai buku sekolah dari berbagai jenjang yang sudah berstandart nasional yang bisa dibaca secara online. Siswa maupun guru juga bisa mengunduhnya secara gratis. Jadi tidak ada cerita tuh bingung mengajar karena tidak mampu beli buku pelajaran.

3. Bank soal
Fitur ini menyediakan kumpulan soal dari berbagai mata pelajaran. Bisa menggunakan soal yang sudah ada disitu, yang dibuat oleh guru lain,  atau bisa juga menggunakan soal yang diupload oleh guru itu sendiri.
Bisa digunakan untuk ulangan harian, remidi atau pengayaan. Siswa nanti bisa mengerjakan soal lewat gawainya masing-masing. Nantinya akan ada nilai dan pembahasan setelah mengerjakan.
Ini cocok sekali untuk mendukung konsep paperless – mengurangi penggunaan kertas- dan untuk persiapan agar siswa terlatih menghadapi soal online karena ujian nasional nantinya juga diselnggarakan secara online.

4. Laboratorium maya

Namanya juga laboratorium, ya isinya tentu saja adalah berbagai percobaan atau simulasi pemebelajaran. Hanya saja bisa dilakukan secara online. Bisa percobaan bidang kimia, fisika atau biologi.
Misalnya percobaan untuk mengetes larutan apa saja yang dapat mengidupkan bohlam kecil. Nanti siswa dapat menginput jenis larutannya satu persatu kemudian mengamati larutan mana saja yang dapat mengalirkan listrik sehingga membuat bohlam menyala. Menarik pastinya. Siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga dapat mengamati prakteknya.

5. Peta Budaya
Ini nih paling favorit saya. Disini secara gratis kita dapat berjalan – jalan mengamati beragam budaya dari wilayah Indonesia. Tidak hanya disajikan dalam bentuk teks, ada juga tampilan dalam bentuk gambar, video, animasi atau game. Cerita lebih lanjut fitur ini  baca disini  yaa.

6. Wahana Jelajah Angkasa

Siapa yang tidak ingin mengamati ribuan bintang dan puluhan planet di antara gugusan galaksi dengan teropong besar?
Di sini kita serasa mempunyai teleskop raksasa keren yang dapat membawa kita melihat planet, gugusan bintang, asteroid atau bahkan black hole. Bentuk tayangannya begitu riil, ada sensasi berbeda daripada melihat gambarnya di buku.

7. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Fitur ini cocok untuk guru yang menginginkan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan secara online.  Seorang guru dapat mengambil pelatihan yang terdiri dari rangkaian diklat sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Misalnya , saya pernah mengikuti diklat online kesiapsiagaan bencana dan diklat online di kegiatan PembaTIK. Untuk pengalaman kegiatan PembaTIK saya tuliskan   DI SINI .

8. Kelas Maya
Kelas Maya itu semacam LMS – Learning Management System – yang dikembangkan secara khusus untuk memfasilitasi pembelajaran virtual antara siswa dan guru, di mana saja dan kapan saja. Jika sekolahnya sudah terdaftar, guru kemudian dapat mengatur untuk menyelenggarakan kelas pembelajaran online. Guru dapat melengkapi dengan e- modul dan penugasan. Siswa nanti mendaftar di kelas yang dibentuk oleh guru tersebut kemudaian dengan mudah mengaksenya di gawai mereka masing – masing.

Fitur Pendukung Rumah Belajar

Rumah Belajar juga dilengkapi denga beberapa fitur pendukung seperti : Karya Komunitas, Karya Guru , dan Karya Bahasa dan Sastra. Fitur pendukung ini memberi kaya bahan ajar tambahan yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menerapkan pembelajar berbasis HOTS di kelasnya masing – masing.
Pada bagian karya sastra misalnya ada beberapa karya sastra berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, cerita anak, dan ada juga kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa). Karya sastra disini dapat dibaca secara online maupun diunduh secara gratis. Kelebihan dari mengakses karya sastra disini adalah isinya yang aman untuk dibaca oleh anak. Guru kemudian dapat memanfaatkan materi di fitur ini untuk dibahas di kelas atau sebagai bahan pengayaan.

Manfaat Rumah Belajar

Memang sumber dan sarana lain dari internet itu sekarang ini banyaak sekali pilihannya. Nah, Rumah Belajar ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang terpercaya dan aman untuk anak-anak kita. Guru pun akan lebih mudah dan cepat mencari sumber belajar yang tepat untuk materi tertentu melalui portal ini. Guru akan jadi lebih kreatif dalam mengajar. Tidak hanya dengan cara itu itu saja. Tidak hanya dengan bahan pelajaran materi yang tanpa pengayaan. Dengan Rumah Belajar, kita dapat belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan kelas pun akan menjadi lebih hidup. Menjadi bukan sekedar kelas biasa.

Salam Belajar,




#bukansekedaroemarbakri
#day3

Minggu, 13 Oktober 2019

BUKAN SEKEDAR OEMAR BAKRI; Catatan Pengalaman Mengikuti PembaTIK Level 3

Dari dulu saya sangat mencintai gambaran guru sosok Oemar Bakri dalam lagunya Iwan Fals yang begitu melegenda itu. Sederhana, penuh pengabdian  tapi begitu mencintai dan berdedikasi dengan profesinya sebagai guru.
Umar Bakri Umar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Umar Bakri
Profesor dokter insinyurpun jadi
Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Jaman sudah berkembang begitu cepat. Kurikulum sudah berganti menyesuaikan tuntutan jaman. Materi belajar dan sarana belajar menjadi begitu beragam dengan milyaran pilihan. Seorang Ali Bin Abi Thalib yang begitu masyur itu pun menitipkan pesan agar saat mendidik anak kita harus mendidik anak-anak itu sesuai jamannya, karena mereka memang tidak hidup di jaman kita. Konteks yang dimaksud oleh Ali bin Abi Thalib ini mungkin lebih ke konsep mendidik keimanan anak. Tapi rasanya cukup masuk juga untuk konteks pembelajaran secara umum.

Menurut saya, guru atau pendidik sekarang itu bukan sekedar Oemar Bakri. Iya sih, guru tetap harus tetap dalam ruhnya Oemar Bakri yang sangat mencintai dan berdedikasi tinggi dengan profesi pendidik ini. Tetapi guru jangan lupa menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Guru itu tidak boleh berhenti belajar.

Apalagi yang diajar ini adalah para generasi Z,generasi Alpha, yang baru lahir aja udah langsung kenal gadget. Cekreek diselpi ayah bundanyaa untuk dijadikan status. Ehehe..asal jangan lupa di adzanin aja yak.


Dalam rangka belajar itulah saya memutuskan untuk ikutan kegiatan PembaTIK yang diadakan oleh Pustekom Kemendikbud. Judulnya yang benama PembaTIK ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan seni batik membatik yaa..

PembaTIK itu singkatan dari pembelajaran berbasis TIK-Teknologi dan informatika. Kegiatan PembaTIK ini diselanggarakan tiap tahun. Pesertanya bisa guru PNS maupun Non PNS dari berbagai jenjang pendidikan , mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMK maupun SMA. Pada tahun 2019 ini, ada sekitar 2.000 guru di Propinsi Jawa Tengah yang mengikuti kegiatan ini. 

Kegiatan ini terdiri dari 4 Level dengan menerapkan sistem gugur di tiap level. Untuk tahun 2019 ini, ada 2000 an peserta PembaTIK pada level 1, dan ada sekitar 900 an peserta yang lolos di level 2, dan diambil 30 besar terbaik di level 3. Nanti pada akhir kegiatan ini akan dipilih seorang duta Rumah Belajar Nasional yang ditentukan di level 4. Nah, ceritanya tahun ini saya seperti mendapat keberuntungan mendapat kesempatan lolos level 3. Dan inilah sharing pengalaman saya selama mengikuti kegiatan PembaTIK di tiap level.

PembaTIK Level 1


Awalnya saya ragu waktu diajak teman untuk mencoba mengikuti kegiatan ini.Lhah, saya ini orang terakhir yang punya hape pinter di sekolahan, kok ikutan PembaTIK. Pembelajaran berbasis teknologi informatika.  Warga satu sekolahan juga tahu, saya ini paling gaptek. WA dan ig aja juga belum lama punya. Selpi aja grogii. Tapi ya itu, justru karena merasa tidak bisa itulah, saya memberanikan diri mengikuti PembaTIK propinsi Jawa Tengah.

Langkah pertama untuk mengikuti kegiatan ini adalah dengan mendaftar lewat laman ini : http://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id. Kita mengisi beberapa informasi seperti biasa. Arahan alur pendaftaran di laman ini jelas dan mudah diikuti. Apalagi kemudian setelah terdaftar, saya diikutkan di grup PembaTIK Jateng 2019 di aplikasi Telegram.

Level 1 disebut level literasi. Pada level ini, kita akan diberikan modul untuk dipelajari secara mandiri kemudian diadakan tes di akhir level. Modulnya diunduh lewat tautan di akun kita di laman Simpatik itu. Isi modul terutama berkaitan dengan pengenalan fitur-fitur di Portal Rumah Belajar, pemanfaatan dan penerapan pembelajaran abad 21 dengan Rumah Belajar, serta pengenalan internet dan TIK tingkat dasar. Jika ada yang tidak paham, kita bisa berdiskusi di grup Telegram itu. Untuk membantu pendalam materi, beberapa kali juga diadakan Vcon di berbagai media sosial seperti contoh berikut:


Jadi jangan khawatir nanti bingung mau apa. Buktinya saya yang tidak begitu pandai TIK saja bisa mengikuti. Di grup itu ada banyak teman baru dari berbagai wilayah, berbagai jenjang pendidikan yang siap membantu dan saling berbagi pengalaman. Apalagi Duta Rumah Belajar Jateng tahun 2017, Bapak Tukijo, dan duta tahun 2018, Bapak Fakhrudin Sujarwo juga ikut bergabung memandu kegiatan PembaTIK level 1. 

Peserta yang mengikuti tes akhir level 1 dan hasilnya mencapai KKM (70) maka akan dinyatakan lolos level 2. Ujian level 1 dimulai tanggal 1 Mei -14 Mei 2019. Peserta yang lulus mendapat sertifikat Level Pertama yang dapat kita unduh melalui akun kita di SimpaTIK.

PembaTIK Level 2



Level ini disebut tahap implementasi TIK. Peserta yang lolos ke level 2 akan diberikan lagi beberapa penugasan. Karena level ini dinamakan Implementasi TIK, maka tugasnya tidak hanya sekedar mempelajari modul saja.

Total dari seluruh peserta PembaTIK seluruh Indonesia, ada 12.933 guru yang lolos ke level 2 dan kemudian terbagi menjadi 42 kelas. Tiap kelas ada penanggung jawabnya, saya masuk kelas F dengan penanggung jawabnya adalah Bapak Wayan dari Bali.

Modul pada level 2 ini terdiri dari :
1. Pemanfaatan TIK untuk Komunikasi dan Kolaborasi dalam Pembelajaran
2. Pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran
3. Pengelolaan Kelas yang Mengintegrasikan TIK dalam Lingkungan Belajar
4. Pengembangan Media Video Pembelajaran.

Tugas selama level kedua adalah mendaftar di Rumah Belajar, membuat RPP dengan memanfaatkan TIK serta Rumah Belajar, serta membuat Video Bahan Ajar yang merupakan video tutorial. Videonya bentuknya adalah video Lecture atau pemaparan materi pembelajaran. Waktu itu saya membuat video bahan ajar tenang Making Appointment by Phone. Materi pelajaran Bahasa Inggris yang biasa saya sampaikan ke siswa kelas XI program Lintas Minat.

Waduuh, ternyata tidak semudah itu menyampaikan pembelajaran di depan kamera perekam. Bergaya bagaikan artis atau pembawa acara seperti di tv itu. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa dikerjakan, bukan? Yang penting kita mencoba. Saya yang katrok ini sampai perlu berguru dan dibantu oleh salah satu murid yang suka ngoprek pervideo nan. Hehe..sekali-sekali tak apa guru belajar ke muridnya yak.

Untuk penilaian, Bobot untuk tugas adalah  60%, dan bobot ujian akhir adalah 40%. Pada saat level kedua ini peserta juga mendapatkan tutorial dari Duta Rumah Belajar melalui Vicon di Facebook, Youtube, dan Instagram. Oya, untuk mendapat nilai akhir ujian yang baik, kalau tips saya sih, print tiap latihan soal yang ada di tiap modul. Cari jawaban sambil mempelajari isi modulnya. Cara ini akan membuat kita mempelajari modul dengan lebih terarah.

Pengumuman peserta yang lolos level 2 ditayangkan pada bulan Juli 2019 dan selanjutnya mengikuti level ketiga. Daan surprise dan bersyukur sekali ketika saya kemudian dinyatakan lolos level 3.

PembaTIK Level 3


Sebenarnya banyak yang lolos ke Level 3 ini, tetapi hanya 30 besar terbaik yang bisa mengikuti Bimtek Level 3 di Propinsi. Wow! Makin terkejut saya ketika yang terpilih masuk tiga puluh besar itu. Alhamdulillah. 

Deg – degan amat sangat ketika hari itu saya berangkat Bimtek Level 3 di Hotel C3 Ungaran. Bis yang saya tumpangi rasanya lambaaaat sekali. Eh, saking groginya pakai acara kebablasan pula. Untung tidak terlalu jauh dan ada taxi online pula. Selamaat.

Gimana saya tidak deg-degan coba. Latar belakang hubungan saya kan memang agak suram dengan yang namanya kemajuan teknologi. Hehe.. trus ini di bimtek bersama tiga puluh guru lain yang pinter-pinter TIK. Hanya tiga puluh lho! Dari hampir dua ribuan peserta. 

Beruntung saya sekamar dengan Mbak Asih, yang juga guru Bahasa Inggris dari SMP N 1 Selomerto Wonosobo. Saya panggilnya mba’ saja lah, soalnya dia itu lebih muda dari inyong. Orangnya yang ramah dan siap membantu, membuat si emak katrok ini jadi agak tenang. Kalau kata anak jaman sekarang, tidak begitu melempem bagai remahan rempeyek di dasar kaleng : )

Bimtek diselenggarakan selama tiga hari, mulai dari tanggal 19 sampai 21 September 2019. Acara ini dibuka dengan sambutan dan pengarahan dari Kepala LPMP Provinsi Jateng, Drs. Harmanto, M.Si, Kepala BPTK Dikbud Provinsi Jateng, Drs. Surjanto, M.Pd, serta Kasubid PPBPTP Pustekom Kemdikbud yaitu Bapak Agus Triarso, S.Kom , M.Pd.

Selain materi , pada bimtek ini kita juga diajak untuk langsung praktek membuat storyline video bahan ajar di hari pertama, dan membuat video nya pada hari kedua. Belajar membuat video jadi lebih seru karena ada temannya. Kita dibagi menjadi delapan kelompok. Saling membantu saat mengambil gambar dengan Handphone di depan layar Green Screen dan kemudian mengeditnya di gawai kita masing-masing. 


Satu hal yang paling salut dalam proses pembuatan video ini adalah kemauan keras dari Bapak Budi, guru SD dari Demak yang sudah cukup berumur, untuk menyelesaikan proyek video ini. Tidak menyerah, bahkan saat harus di ulang ulang take picture, malah sampai ada insiden patah tangkai kacamatanya. Ini bukti , bahwa siapa saja , tidak guru muda – tidak guru tua, siapa saja bisa belajar mengikuti perkembangan jaman saat mengajar. Temasuk memanfaatkan TIK di proses belajar mengajar.

Dari mengikuti kegiatan ini saya jadi merasa beruntung dan sangat bersyukur karena saya belajar satu hal penting: Siapa saja bisa menjadi guru pembelajar, tanpa pandang usia dan latar belakang. Dan menjadi guru yang tidak sekedar Oemar Bakri. Seorang guru yang mencintai dan berdedikasi dengan profesinya sebagai guru, dan di lain sisi, juga jadi guru yang tidak pernah berhenti belajar. 

Keep Learning because Life never stops teaching.

#bukansekedaroemarbakri

Sabtu, 12 Oktober 2019

Ajari Anak Untuk Peka Konflik Budaya dengan Portal Gartis Rumah Belajar

Orang-orang dewasa seperti kita bisa saja terpengaruh dengan konflik budaya saat bergaul di masyarakat. Lalu bagaimana dengan anak-anak?
Akhir-akhir ini kita dibuat miris dengan masih adanya pemberitaan tentang konflik di masyarakat yang melibatkan unsur beda budaya. Indonesia memang negara yang sangat kaya budaya. Saat masyarakat yang berbeda-beda budaya itu bergaul, bisa saja terjadi gesekan-gesekan yang jika dibiarkan bisa saja menyebabkan konflik.



Tahun Baru itu ya selalu 1 Januari. Kok kamu bilang besok. Besok kan baru bulan September!” Suatu sore sayup sayup terdengar pembicaraan si kecil kami dengan temannya. Sang teman yang pindahan dari Pulau Batam protes mengenai tahun baru yang dikemukakan anak kami. 
Si kecil kami tidak terima, bersuara lebih tinggi menyanggah, separuh bahkan menggunakan bahasa Jawanya, “ Sesuk kiy siji Suro. Tahun baru ya satu Suro itu!”.

Pembicaraan semakin memanas saat keduanya makin merasa benar sendiri. Waduuh, si kecil kami rupanya belum peka dengan konflik budaya saat berinteraksi dengan teman barunya.  Harus segera bertindak, nih.

Saya teringat dulu waktu kuliah di jurusan pendidikan bahasa inggris UNNES, ada mata kuliah yang namanya ‘cross culture understanding’ . Budaya yang berbeda beda itu memang rentan menyebabkan adanya pergesekan. Salah satu caranya adalah dengan saling mengerti (understanding) budaya satu sama lain. Kalau kita sudah cukup mengerti maka diharapkan nanti kita akan bisa menyikapi dengan lebih bijaksana saat terjadi konflik yang dipicu keberagaman budaya .
Keberagaman budaya itu berkah, tetapi disisi lain juga dapat memicu konflik bila tidak dijembatani dengan baik. 
Anak-anak sejak dini sebaiknya dikenalkan dengan keberagaman budaya (culture diversity). untuk kemudian dijak saling menghargai perbedaan itu. Bukannya terus hanyut ikut-ikutan lho ya. bisa - bisa kita malah jadi krisis identitas budaya. Jangan sampai pula terus anak tidak mengenal budayanya sendiri. Kenalkan budaya sendiri dan budaya lain secara berimbang, dan tentu saja sebaiknya dengan cara yang menyenangkan. namanya juga anak-anak, mereka akan lebih suka jika dengan gambar atau permainan.

Peta Budaya di Portal Rumah Belajar

Setelah bertekad untuk mengajari anak kami untuk peka konflik budaya, saya jadi lebih rajin mencari-cari materi untuk mengajari si kecil kami itu.
Untung saja, kami sudah mengenal portal Rumah Belajar. Itu lho, situs belajar online gratis yang dikelola oleh Pustekom Kemdikbud. Resmi milik pemerintah, untuk dimanfaatkan secara gratis oleh seluruh pelajar dan masyarakat Indonesia secara gratis. Klik saja di https://belajar.kemdikbud.go.id


Di salah satu fitur utamanya, ada yang disebut fitur Peta Budaya. Setelah di klik bagian itu, muncullah berbagai materi tentang budaya di berbagai wilayah Indonesia.  Terdapat beberapa konten terbaru  seperti misalnya:
  • Komunitas Adat Samin
  • Malam Satu Suro
  • Ondel-Ondel
  • Homo Erectus
  • situs Gunung Padang
  • Rumah Seribu Kaki Papua
  • Komunitas Adat Batur
  • AR-Rumah Belajar
  • Next Door Land
  • dan lainnya

Nah , ada pembahasan tentang malam satu Suro nih. Materi ini akhirnya kita kenalkan ke si kecil kami dan temannya itu, di tengah kegiatan bermain mereka. Ooo, ternyata satu suro itu tahun baru bagi masyarakat Jawa, dan bahkan dirayakan secara khusus di beberapa wilayah, misalnya di Surakarta dan Jogjakarta. Si kecil kami juga jadi tahu, bahwa Indonesia itu mempunyai banyak budaya yang berbeda-beda. Tidak perlu langsung ngegas, jika ada teman yang tidak sependapat, karena ya memang budaya mereka mungkin berbeda.

Materinya cukup lengkap , selain tulisan, di fitur Peta Budaya ini dilengkapi dengan gambar – gambar dan beberapa ada tayangan videonya. Dan semua itu bisa diakses secara gratis. Keuntungan lainnya, isinya cenderung aman bahkan jika diakses oleh anak sendiri, karena isi konten di fitur ini dikembangkan oleh orang-orang yang memang berada di dunia pendidikan.  

Dengan memanfaatkan fitur Peta Budaya ini , kita bisa mengajari anak untuk peka dengan adanya konflik budaya untuk kemudian bisa ada ‘understanding’ atau pemahaman antar budaya yang berbeda.


Mengenal Budaya Secara Kekinian Di Peta Budaya

Untuk mengenal budaya kekinian, di fitur Peta Budaya ini juga dilengkapi AR Edukasi; augemented reality edukasi. Guru atau orang tua dapat mengajak anak untuk berkenalan dengan augmented reality, contohnya mengenal tentang keanekaragaman budaya bali, atau mengenal sel hewan dan tumbuhan.

Salah satu yang menarik lainnya adalah Game edukasi Next Door Land. Game ini dikembangkan untuk memudahkan anak untuk mengenal kebudayaan  Indonesia dan Australia. Game ini diprakarsai oleh Australian Government - Department of Forein Affairs and Trade, bekerjasama dengan Kemdikbud Indonesia melalui Rumah Belajar dan pengembang game AGATE. Next Door Land sudah tersedia dalam aplikasi android.

Indonesia dan Australia merupakan negara yang hidup bertetangga atau dalam bahasa Inggris  bisa dikatakan dengan istilah : neighbour, atau lives next door. Itulah mengapa game ini diberi nama Next Door Land. Indonesia dan negara tetangganya ini masing-masing memiliki keunikan yang perlu dilestarikan dan tidak punah.  

Dengan game ini, anak akan belajar dengan cara bermain. Terdapat 20 mini games di dalamnya. Misalnya game memukul kendang, sesuai irama yang ditentukan , untuk mengenal budaya gamelan di Jawa. Sebelumnya bermain, ada semacam comic strips menjelaskan tentang budaya gamelan dan alat musik kendang.



Untuk membuat rasa kompetitif muncul, beberapa tempat akan terkunci, dan baru bisa dibuka saat kita sudah menyelesaikan tugas di mini game sebelumnya. Terdapat pula collectible artefacts, beberapa benda menarik dari wilayah Indonesia maupun Australia. Ini juga ada penjelasannya lho dan bisa dikoleksi saat nilai perolehan dari bermain game bisa mencukupi. Bisa menambah wawasan anak kan tentang artefak peninggalan budaya.



Kita bisa ajak anak menjelajahi beberapa kota besar di Indonesia dan Australia , kemudian menjajal games untuk mengenal budayanya. Misalnya kita bisa ajak anak untuk klik tempat gamenya di kota Adelaide, Australia. Sebelum bermain akan dijelaskan mengenai sebuah bangunan ikonik di kota Adelaide yaitu Stadium Adelaide Oval. Sebuah stadium megah dengan arsitektur cantik yang telah berdiri sejak tahun 1871. 


Keuntungan lainnya adalah, kita bisa juga mengganti-ganti setting bahasanya. Kita bisa memilih menggunakan Bahasa Indonesi a atau Bahasa Inggris. Nah, kalau memilih yang bahasa Inggris, anak bisa sekalian kita ajari banyak kosakata Bahasa Inggris. Dobel-dobel bukan untungnya.

Tentu saja, peran orang tua untuk mengarahkan buah hati adalah yang terpenting dalam mengajari si kecil untuk memiliki pemahaman yang baik antar budaya. Rumah Belajar dengan Fitur Budaya nya adalah salah satu sarana yang dapat orang tua atau pengajar manfaatkan. Ajari anak untuk peka menghindari konflik budaya.  Ola Joseph, seorang pengarang dan pembicara terkenal dari Nigeria,  menyampaikan sebuah pendapat menarik tentang hal ini. Keberagaman itu bukan tentang bagaimana kita berbeda, keberagaman itu adalah tentang merangkul masing-masing keunikan yang dimiliki satu sama lain.

“Diversity is not about how we differ. Diversity is about embracing one another’s uniqueness.” 

 - Ola Joseph.


Salam,




#bukansekedaroemarbakri


Rabu, 21 Agustus 2019

Menulis Cerpen Tema Hijrah : BUKAN TAMU BIASA

Ini cerita tentang tamu istimewa yang bukan sekedar tamu biasa.


BUKAN TAMU BIASA

“Pak , cepet ada tamu.” Pagi itu bersemangat kami, berempat dengan anak-anak menyambut tamu. Bersegera memberesi beberapa mainan yang tercecer di ruang tamu. Menata bantal kursi yang agak menceng. Merapikan bunga plastik hiasan diatas meja. Senyum-senyum, kami semua refleks berjajar di sekitar pintu. Kalau dipikir pikir posisi kami saat itu mungkin kurang lebih seperti para petugas among tamu di hajatan manten.

“Monggo pak, silakan masuk.” Ternyata, tamu itu adalah seorang bapak-bapak petugas TV kabel menanyakan mengenai pemasangan sambungan baru. 

Lebay! Memang... tapi njenengan tak tahu sih betapa kami menantikan momen ini. Kedatangan seorang tamu di rumah kami sendiri. Yang mencari KAMI, bukan orang tua kami atau mertua kami. Bagi kami itu impian. Bagi kami itu sepenting pengucapan Proklamasi kemerdekaan di tanggal tujuhbelas Agutus.

Asal tahu saja - tidak sedikit waktu yang kami habiskan untuk memimpikan tamu yang mendatangi rumah milik kami sendiri seperti itu.

Resah. Terkadang hopeless. Akui saja perasaan itu bisa saja sering muncul saat kita terlalu lama mendekam di Pondok Mertua Indah. Tidak , bukannya saya mengeluh. Tapi saya rasa memang kodrat manusia, kalau sudah menikah inginnya segera mandiri. Punya rumah sendiri. Terpisah dari orang tua atau mertua. Terus kalau memang belum bisa bagaimana?  Lha ya itu, resah gelisah melanda.

Tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu bisa dikatakan keluarga kecil kami nomaden. Berpindah pindah antara rumah mertua dan rumah orang tua saya yang hanya berjarak setengan jam perjalanan. Kartu KK masih beralamat di orang tua saya, tetapi sehari-hari lebih banyak tinggal di desa mertua.

Bukannya kami tidak berusaha, tapi maaf perumahan yang instan bukan impian kami. Keluarga kami memimpikan rumah dengan halaman luas dan empang ikan di kebun belakang rumah. O, ya.. kalau bisa lokasinya juga cukup sepuluhan langkah masjid.

“ Pantesan tidak segera dapat rumah sendiri, aneh – aneh kemauannya.” Beberapa suara mengingatkan. “Beli tanah, apalagi yang agak luas, mbangun rumah sendiri itu biayanya mahal, - banget!” 

Terpengaruh? Jujur , iya! Kadang maunya realistis dengan kondisi keuangan kami yang tidak berlebih. Tidak miskin sih, pendapatan kami masih cukuplah untuk sekedar nyicil sepeda motor, makan cukup enak sehari tiga kali, dengan sesekali jalan – jalan ke tempat wisata.

Tapi yang membuat keder, harga tanah memang makin melejit, apalagi harga semen, pasir dan besi waktu itu sedang meroket tinggi. Menabung sulit, berhutang banyak – takut tak mampu mengangsur. Hopeless..rasanya mau putus harapan saja.

“Kenapa harus berhenti bermimpi, lha wong Gusti Alloh saja membolehkan kita meminta surganya. Apalagi kalau CUMA meminta rumah dengan halaman luas, ada empang di kebun belakang dan dekat dengan masjid.” Jleb! Inbox seorang teman, dulu sekelas saat SMA,  membuat saya terbangun.

Terlalu galau, resah, dan merasa tak berdaya telah membuat kami lupa meminta. Menafikan bahwa ada Allah yang siap memberi. Sembari menata keuangan, kami merasa lebih bersungguh-sungguh meminta. ‘Lahaula walaquata illa billah’ memangnya apa daya manusia – dan benarlah tidak ada daya upaya selain dari Allah. 

Impian dimulai

Kemudian impian itu mulai menjadi perjuangan. Setelahnya, setiap ada berlebih pendapatan, kami upayakan mencicil beli satu dua pohon hidup yang dijual tetangga atau saudara. Setelah menunggu beberapa bulan ada sedikit tabungan, tertebanglah pohon itu.

Jangan dibayangkan langsung jadi inep pintu, kusen atau usuk reng untuk atap. Kami harus menunggu setahun dua tahun kedepan untuk menyewa tukang kayu dan mengolahnya.

“Tak apa, buk. Kayunya bisa direndam dulu. Kata orang tua jaman dulu. Kayu tebangan yang direndam nanti akan jadi bahan bangunan yang lebih kuat,” bapaknya anak-anak mencoba menghapus aura negatif dari mulutku yang masih sering mecucu, cemberut, tak sabar menunggu rumah baru. 
Impian berproses

Sungguh, saya kadang berharap dongeng itu nyata ada. Tiba-tiba menemukan lampu ajaib di balik kolong tempat tidur tua milik ibuk mertua, yang saat saya terbangun tidur nanti, paman Jin sudah selesai membangunkan sebuah rumah baru yang megah lengkap dengan isinya. Plus mobil, yaa paling tidak avansyah atau agiah lah, tertata di garasi. Tanpa mikir hutang!

Ah, sudahlah. Mana ada yang seperti itu di dunia nyata. Lagipula saya tidak yakin apa bisa untuk TIDAK lari terbirit-birit ketakutan bila memang benar ada Jin super ganteng wuzzz.. keluar dari sebuah lampu. Tepat di depan mata kepala saya. Sedangkan melihat bayangan pohon kelapa di kegelapan saja saya langsung menjerit, mengira itu gendruwo sedang mengintip.

Realitisnya adalah kami harus merelakan THR tahun depannya untuk membeli sekedar beberapa truk batu hitam. Memberi DP pembuatan bata dan genteng saat beberapa bulan kemudian  mendapat uang berlebih dari arisan RT.

Lamaaa dan ada perjalanan berliku seperti itulah untuk kami kemudian bisa berhasil mendapatkan rumah baru. Yang ajaibnya, tiba-tiba saja kami mendapat penawaran yang cukup memudahkan kami untuk mendapatkan tanah yang leluasa dengan lokasi yang cukup strategis. Dan hanya berjarak tiga rumah dari masjid!

Sungguh, saya kemudian dibuat percaya akan kekuatan impian, doa permintaan tulus , mencicil berusaha sebisa kita, - dan biarlah Allah yang mengurus sisanya!

Pindah jangan sekedar fisik

Begitulah.Sekarang panjenengan semua bisa mengerti kan mengapa kedatangan tamu pagi itu bisa membuat kami jadi setengah alay dan begitu excited. Pindah ke rumah baru adalah impian kami bertahun-tahun. Dan setelah beberapa hari menempati rumah baru, kedatangan tamu adalah seperti pengakuan legitimasi akan keberadaan kami di rumah istimewa milik kami sendiri ini.

Menjelang matahari memanjat ke puncak, datanglah tamu berikutnya. Kali ini ibuk-ibuk tua penjaja bantal dan guling.

“Ini bantal dan gulingnya dari kapuk randu asli lho bu.  Bu Jayus dari desa sebelah itu, sudah sering beli dari saya. Kasurnya yang lama juga belum lama ini saya rombak biar tidak kempes lebih mentul-mentul, ” katanya nyerocos, sesaat setelah menurunkan dagangannya di dalam rumah.

Begitu menyebut referensi nama seorang saudara, saya segera nyambung kalau beliau ini pasti dari desa sekitaran kami saja. Sekitar seperempat jam perjalanan sepeda motor dari rumah saya yang baru.

Wau, nitih nopo buk?” tanya saya basa-basi, sambil mengkode si genduk mengambilkan sekedar air putih buat si ibuk.

Sambil menyeruput air, beliau kemudian menjelaskan kalau tadi bareng ponakannya naik sepeda motor sampai gang depan. Katanya mengantar pesanan seseorang di sekitaran sini. Karena mendengar bahwa kami baru saja menempati rumah baru di dekat arah yang dia tuju maka dia memutuskan mampir.

“Rumah baru tentu saja memerlukan banyak bantal dan guling yang baru. Apasekalian kasur juga ?”

Dan benar saja ujung – ujungnya si ibu mengeluarkan jurus terakhirnya, “Dilarisi njih bu guru , ini masih ada beberapa bantal dan guling sisa pesanan ibu tadi. Dibeli semua saja, ini dua bantal, dua guling, pas sepasang-sepasang buat si genduk dan thole yang ngganteng ini”

Baru saja saya mau beralasan tak membeli, kami sudah mempunyai bantal dan guling dikasih orang tua kami, lagipula si bapak sedang keluar. Sang tamu ini memotong tangkas, “Saya kasih murah saja. Daripada jauh-jauh saya bawa pulang balik. Nanti saya mau naik minibis, repot kalau masih bawa sisa dagangan.”

Manalah tega tak membayarnya. Anak-anak pun sudah begitu gembira memeluk bantal dan guling mereka masing-masing, bawaan tamu kita hari ini. Si tamu pun pulang dengan sumringah, menjanjikan akan mampir lagi untuk membenahi barangkali kasur saya ada yang rusak, jika kelak pas berdagang di sekitar sini. Sambil menjalin silaturahmi katanya -  membuatku tak jadi berucap,”Sini pakai kasur busa semua buk.”

Begitu bapaknya anak-anak pulang, saya ingin segera menceritakan tentang tamu penjual bantal guling tadi. Tapi si bapak malah sudah perintah duluan, “Buk, cepakne teh panas segelas. Ini tadi saya di perempatan depan jalan raya sana ketemu simbah tua bawa dipan dari bambu. Kasihan ndak ada yang beli. Itu mbahe rumahe sebenanrnya tetangga desa kita yang dulu, jauh-jauh jalan sampai sekitar sini. Tadi sudah takancer anceri rumah sini.”

Dan itulah tamu kita selanjutnya. Aiihh.. apa tidak ada tamu yang muda, ganteng – ganteng gitu, yang macam oppa di drama korea gitu, membawa oleh-oleh spesial datang sebagai tamu rumahku? Baiklah, mungkin besok ya.

Yess, tidak perlu menunggu besok. Malamnya, kami mendapat tamu membawakan pisang, oleh – oleh spesial panenan hasil kebun mereka. Sebentar, jangan dikira ini oppa Korea yaa... tamu kali ini malah lebih tua dari yang sebelumnya. Sepasang mbah kakung dan mbah uti pulang dari magripan di mesjid. Mengenalkan diri sebagai tetangga baru. Rumahnya dekat. Hanya berjarak dua rumah, di ujung jalan. Malu juga sebenarnya, harusnya kami yang sowan lebih dulu. Maafkan kami, mbah.

Tapi diantara para tetamu itu, yang paling unik adalah kedatangan tamu kami di kemudian hari. Tidak hanya sekali, tamu spesial kita kali ini kemudian mendatangi rumah kami berkali-kali. Kadang sebulan dua kali kadang sebulan sekali. Adalah dia, seorang lelaki tua, mungkin sekitar tujuhpuluh tahunan. Si Embah ini berperawakan jangkung, berkulit hitam dan berbaju lumayan rapi meski agak lusuh. Dengan rokok yang tak berhenti mengepul barang sedetikpun!

Kali pertama datang saya sudah langsung mendelik begitu suami mempersilahkan masuk dan ngobrol di dalam rumah. Asap rokoknya itu lebih ngeri dari cerobong pabrik yang baru dibangun di ujung kota. Bergulung – gulung tak henti dari tembakau rokok yang jelas murahan memenuhi rumah. Tetap dibuatkan teh. Tapi tidak sepenuh hati membuatnya, bening, manget-manget, tak begitu manis. Tidak ginastel sama sekali.

Tapi kalau jujur, sepertinya tamu ini kemudian jadi lebih tidak saya inginkan bukan hanya karena asap rokoknya. Itu karena pada hampir di setiap kunjungannya dia ada maunya.

Pada akhirnya setelah lebih dari sejam ngomong ngalor ngidul, si embah ini sekalu di ujung-ujungnya minta pinjam uang. Dia selalu menceritakan kesulitannya perdagangannya dan perlu uang untuk pulang. Perlu pemasukan agar tidak terlalu merugi. Tak terlalu banyak sih mintanya, tidak sampai berjuta-juta, paling sekitar limaratusan ribu kebawah.

Fiktif? Entahlah. Yang jelas setelah dikonfirmasi dengan seorang anaknya yang tinggal di desa tak jauh dari kami, si embah itu sebenarnya sudah tidak diperbolehkan berdagang oleh anak-anaknya.

Memang si embah kadang keluyuran begitu, tanpa pamit, berlagak berdagang keliling. Dagangannya apa , saya tidak begitu yakin. Karena setelah mendengarkan ceritanya berkali-kali, sepertinya itu cerita jaman kehidupannya dulu. Setting dan alur ceritanya membuat kami yakin kalau beliau ini sepertinya terperangkap di memori bertahun lalu. Dan ceritanya sebenarnya itu-itu saja.

Kedatangannya yang kedua, saya sudah males keluar. Bapaknya anak-anak sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih uang kalau bilang pinjam. Paling juga tidak dikembalikan kayak dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si bapak tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung.

Kedatangannya yang berikutnya, saya sudah males keluar. Si kangmas sudah saya ultimatum, “Awas kalo dibawa masuk! Awas jangan dikasih. Paling juga tidak dikembalikan seperti dulu.” Teh tetap keluar dengan mengandalkan si genduk untuk menyajikan. Semakin jengkel karena pada akhirnya si kangmas tetap mengulurkan uang kepada si embah. Kasihan katanya.

Kedatangan ketiga kami segera tutupan pintu begitu si embah terlihat di ujung gang. Kami berdiam didalam rumah dengan korden tertutup rapat seolah-olah rumah kami suwung. Beberapa kali mengintip dari balik tirai jendela, si embah masih duduk di emperan rumah.

 Kami meruntuki pelan“Aisshh.. mbok ya cepet pergi ini si tamu tua tak diundang. Apa tidak bisa tamu itu yang ganteng-ganteng saja macam oppa di drama Korea, dengan membawa bunga dan oleh-oleh. Ini tamu kok dapatnya yang tua-tua macam gini.”

Anehnya beberapa tamu perdana yang datang ke rumah kami setelah si embah itu, memang rata-rata berusia lanjut. Saya ingat ada ibuk-ibuk tua penjual bantal dan guling, ada  Pak Min tua tetangga belakang rumah menjelaskan soal kambing peliharaannya yang mungkin akan membuat kadang bau jadi tidak sedap, dan yang terakhir si penjual balai bambu sepuh yang belum juga laku dagangannya. Mana tega tak membelinya.

Si embah antik itu tetap datang lagi. Kedatangan berikutnya saya sudah berniat menemuinya. Saya berniat untuk keras terhadap tamu satu ini. Si kangmas juga sudah mulai jengah dan memilih ngumpet di teras belakang saja sambil mengecat sebuah lemari tua.

Begitu si embah mulai cerita, saya menyerobotnya dengan menceritakan keuangan kami yang cukup sulit karena biaya sekolah anak-anak sekarang makin mahal. Berharap dia tidak lagi minta uang. Berkali kemudian si embah menanyakan bapaknya anak-anak. Dan duuhh..saya mulai berbohong.

Anehnya si embah kemudian berulang minta izin ke kamar mandi di belakang rumah. Haduuh semakin seru. Bersusah payah melarangnya dan mengulur waktu. Mengkode si kangmas dengan lihai agar bisa pindah bersembunyi ke dalam kamar tanpa si embah melihat. Rusuh. Deg – deg an. Seperti sedang main film detektif.

Segera setelah kode ‘clear’ – aman, saya persilakan si bukan tamu biasa ini menuju ke kamar mandi belakang. Harusnya saya puas ya ketika akhirnya kemudian si embah pulang - tanpa bisa bertemu suami, tanpa uang sepeserpun dberikan. Tetapi mengapa perasaan saya malah menjadi ada rasa tidak nyaman. Seperti ada yang salah.
Tamu istimewa berlalu pergi


Beberapa hari kemudian ada saudara  saya bertamu. “Eh, mbak,aku kemarin ada pengajian di sekolahan. Ustadnya seru,” katanya menceritakan pengalamannya di tempat dia mengajar.

“ Kata ustadnya, kalau ada tamu minta hutang itu ya seharusnya dikasih. Ya sebisanya lah. Karena tamu yang meminta pinjaman itu kan berarti hatinya sudah memilih rumah kita untuk dituju. Padahal yang berkuasa membolak-balikkan hati kan Gusti Allah. Ya termasuk hatinya si yang datang ke rumah kita itu. kedatangan dan kepergian seseorang itu bukannya tanpa ijin dariNya. Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak,*2” ceriwisnya sambil bercanda. Dia tidak sedang pinjam uang ke saya kok.

“ Awas lho, jangan-jangan tamu kita itu diikuti malaikat,” imbuhnya setengah berdalil.

Saya tidak tahu apakah dalil yang disampaikan saudara saya hari itu shahih atau tidak. Yang jelas cerita dia tiba-tiba mengena di hati saya. Membuat saya flash back perlakuan saya akan si embah, tamu antik yang berkali-kali datang. Ini mengherankan karena saat itu kami sedang tidakm enceritakan masalah tamu dirumah saya.

Yang jelas saya jadi ngeri membayangkan. Jangan – jangan saat si embah tertolak masuk waktu itu, malaikat pun jadi enggan masuk rumah kami. Jangan – jangan saat si embah berlalu pulang dengan wajah kecewa itu, malaikat pun  ikut pergi tak jadi membawa berkah ke rumah kami. Astaghfirullohaladzim....

Dari kamar sayup-sayup terdengar si genduk sulung kami sedang mengulang hafalan mengajinya dari kamar. ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma*3... aihh semakin malu tertampar hati ini.

Bahkan Rosullulloh yang agung tanpa cela pun sampai ditegur langsung oleh Allah saat sekedar bermuka masam pada tamunya yang buta. Padahal Rosul punya alasan yang penting saat itu. Dan saya ini apa! Sampai berani-beraninya membohongi dan mengirim pulang tamu seolah mengusirnya.

Saya coba berkaca. Hijrah – pindah rumah harusnya bukan hanya pada lahirnya. Saat Sang Pengabul Doa sudah begitu bermurah hati mengabulkan impian dan memampukan untuk memiliki sebuah  rumah, harusnya hijrahkan hati ini juga. Hijrahkan menuju syukur sepenuh hati.

Hijrahkan hati menuju rasa cukup dan ridha dengan pemberian-Nya. Termasuk bersyukur atas tamu yang diberikan untuk mendatangi rumah kita. Kita tidak bisa memilih tamu yang datang rumah kita, tapi kita bisa memilih untuk melayaninya dengan sebaik-baiknya semampu kita. Tanpa nggrundel,” Entuk tamu kok tuwek!”*4

Lain kali si embah datang, kami , terutama saya, mencoba melayani lebih baik. membuatkannya teh ginastel *5 lengkap dengan camilan. Soal asap mengepul, setelah kedua anak kami cium tangan beliau, kami bilang terus terang dengan nada sopan, bahwa anak-anak kami mudah batuk kalau kena asap rokok. Si embah pun berkenan bercerita panjang di teras saja. Dia bilang sambil mengawasi anak kami yang sedang bermain. Seolah cucunya.

Saya kemudian mencoba menikmati ceritanya.Anggap saja sedang naik mesin waktu yang mundur ke tahun tujuh puluhan.

Dan kalau beliau tampak sudah mau pulang, dengan seikhlas mungkin kami selipi beberapa lembar puluhan ribu semampu kami, bahkan sebelum beliau minta. Sambil membungkuskan sekedar pisang godhog atau singkong goreng kesukaannya untuk bekal di jalan.

Saya mulai meyakini, bahwa, kita tidak bisa memilih siapa tamu kita. Tapi, kita selalu bisa memilih untuk melayani mereka sebaik baiknta yang kita mampu.

Sungguh yang kemudian datang adalah perasaan yang begitu nyaman. Serasa hati berhijrah ke sebuah rumah indah diantara padang luas penuh bunga dandellion putih yang anggun tertiup angin. Lapang dan tenang.



Keterangan :
*1 manget-manget : hangat (bahasa Jawa)
*2 Mulane nek aku pinjam duit rene kiy ojo ditolak : Makanya kalau aku pinjam uang kesini itu jangan ditolak (bahasa Jawa)
*3  ‘Abasa watawalla.. an jaaa ahul a’ma : Qur’an Surah ‘Abasa (Ia Bermuka Masam), surah ke- 80, 42 ayat. 
*4  ” Entuk tamu kok tuwek! : Dapat tamu kok tua umurnya. (Bahasa Jawa)
*5   ginastel : Singkatan dari kata; legi, panas, dan kenthel, untuk mendeskripsikan sajian teh yang lezat menurut versi orang Jawa Tengah. Tehnya harus manis, panas dan kental.



      Salam,












Sabtu, 20 Juli 2019

LANGKAH MUDAH MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK LDA

Sahabat Saung Belajar, pernahkah sahabat disuruh guru menulis puisi? Pusing? Ribet? Huftt...
Sini duduk tenang dulu di Saung Belajar. Ambil nafas dalam-dalam. Kita belajar bareng yuk.


Apa itu Puisi dan Manfaat menulis Puisi

Pelajaran bahasa melibatkan ketrampilan menulis puisi tentu bukan tanpa manfaat.  Salah satunya adalah membuat kita menjadi lebih kreatif dalam mengeksplore penggunaan bahasa yang kita pelajari.  Baik Bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Selain itu menulis puisi juga dapat menjadi sarana untuk pengungkapan diri.  Membuat perasaan menjadi lebih lega. Menulis puisi itu harusnya menyenangkan dan menenangkan. 

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra berwujud tulisan yang didalamnya bisa terdapat irama, rima, ritme dan lirik. Dalam bahasa Inggris puisi dapat disebut dengan poem  atau poetry.
 Sedangkan pengertian puisi secara etimologis, kata ‘puisi’ berasal dari bahasa Yunani ‘pocima’ yang berarti membuat atau ‘poeisis’ yang berarti pembuatan. Yah, dikatakan begitu karena melalui menulis puisi berarti seseorang itu kan sudah membuat dunia tersendiri. Dunia kata-kata dalam rangkaian bait – bait yang berisi pesan atau gambaran suasana tertentu.

Langkah – Langkah Menulis Puisi

Setelah Sahabat Belajar  tahu apa itu puisi dan manfaatnya, Sahabat tentu akan lebih termotivasi untuk menulis puisi tanpa beban.  Sekarang siapkan pena dan kertas. Ayo kita mulai menulis!
1. Tentukan ide puisi
Tidak usah panik. Ide yang bisa disebut juga gagasan itu betebaran dimana saja lho. Menulis puisi dimulai dari setitik ide. Cukup setitik saja sudah bisa untuk membuka sumbat keran kata-kata untuk dimuat dalam beberapa bait. Jadi tidak usah langsung bingung membayangkan ribuan kata. Sahabat belajar cukup mengingat memori kenangan atau pengalaman. Atau mengamati lingkungan di sekitar Sahabat. Trus tiba-tiba TINGG ! Ahaa aku punya ide!
Misalnya begini, dari melihat menu takjil , Sahabat tiba – tiba punya ide untuk menulis puisi. Berbukalah dengan yang manis adalah slogan yang sering muncul mengiringi gambar takjil.

2. Tentukan tema  dan gaya puisis
Saat setitik ide sudah mulai berpijar di pikiran Sabahat, jangan dibiarkan padam begitu saja yaa. Ikatlah dengan menentukan tema dan gaya puisimu. Tema dapat dikatakan ide pokok permasalahan yang akan Sabahat angkat nantinya di puisi. Bisa tergambarkan dalam bidang ekonomi, politik, sosial, cinta, nasionalisme, atau komedi.
Kemudian pikirkan puisi Sahabat itu mau dibuat dengan gaya yang sendu mengharu biru atau malah ringan seakan bercakap, atau  jenaka menggugah tawa.
Sebagai contoh, tadi kan sudah ada menulis puisi dengan ide takjil. Nah sebagai tema saya memilih tema sosial tentang budaya mudik, dengan gaya santai, ringan saja.



3. Menggunakan gaya bahasa
Saat menulis puisi, sahabat belajar dapat menggunakan gaya bahasa agar pilihan kata yang dipakai tidak membosankan. Misalnya saja, Sahabat dapat menggunakan majas simile, metafora ,atau personifikasi.  Majas merupakan gambaran sebuah estetika dalam puisi. Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan makna dan maksud tertentu yang terkandung di dalamnya. 

4. Membayangkan Suasana dengan Berimajinasi
Setelah itu biarkan Sahabat membayangkan suasana dengan berimajinasi sebebasnya. Kembangkan puisi Sabahat dengan kata-kata indah yang terlintas di pikiran. Yang penting tulis saja dulu. Bisa menulis di selembar kertas, atau dengan mengetiknya di laptop, atau menulisnya di catatan handphone. Tulis saja dulu tanpa ada beban untuk mengeditnya.  Editing bisa nanti-nanti saja setelah jadi draft. Baca ulang sambil diedit sana sini sesuai kata hati.
Beimajinasilah menggunakan kata-kata sebebasnya . Kata-kata itu ibaratnya kan menjadi nyawa dalam puisi. Pilihlah kata-kata yang ringkas, lebih baik jika khas dan bermakna. Karena puisi tidak seperti prosa yang royal menggunakan banyak kata dalam puluhan paragraf.
Utak utik juga kata-kata yang sudah tertulis itu dengan menggunakan permainan bunyi atau pengulangan bunyi untuk mendapatkan rima yang menarik. Tapi jika Sabahat menginginkan puisi Sahabat tanpa rima tertentu pun juga boleh saja. Hanya saja dengan adanya ritmik dan rima yang menarik, puisi  Sahabat akan dapat menciptakan nada tertentu dengan suasana tertentu sehingga puisi yang dibaca akan terasa indah atau menyentuh hati.

Manfaatkan Teknik LDA 

Dalam mempraktekkan langkah-langkah diatas, Sahabat Belajar akan terbantu dengan memanfaatkan teknik LDA. Apa itu LDA? 
Sahabat, yang dimaksud dengan LDA adalah L-ekat, D-ekat, A-krab. Tujuannya sederhana saja, yaitu agar kita tidak merasa takut dulu dengan kegiatan menulis. Menulis itu mudah kok. Cukup pikirkan dan  olah kata-kata dari sesuatu yang familiar dengan kita.

Dalam menentukan ide misalnya,  Sahabat dapat memulainya dengan mengamati sekitar Sahabat. Bisa saja bagaian tubuh kita sendiri. Bisa saja dari orang atau suasana di sekitar kita atau bisa saja dari benda di sekitar kita. Yang sederhana bisa saja menjadi ide menulis puisi. Sesuatu yang lekat, dekat dan akrab dengan diri Sahabat.

Misalnya saat mati lampu di rumah beberapa waktu lalu, saya bisa dapat ide menulis dari benda yang dekat dan akrab ada saat mati lampu yaitu lilin. Suasana lilin saat menyala membuat saya memilih tema tentang kerelaan saat memberi atau membantu orang lain dengan gaya puisi yang tenang. Bukan santai penuh candaan.

The Art of Giving
by: Misis Dewi_April

Be like a candle in the dark
Which gives light
Without even asking why

As life sometimes shows
that giving
is not only about expecting
something in returns

Demikian juga saat memilih kata-kata untuk puisi Sahabat. Saat kita masih merasa pemula dalam berlatih menulis puisi, LDA akan dapat membantu kita untuk tidak mudah panik karena merasa kebingungan memilih kata. Tenang saja, Sahabat dapat memulai puisi sahabat dengan kata-kata yang memang sudah akrab dengan keseharian. Sahabat dapat pula memilih kata-kata sederhana untuk mendeskripsikan kuatnya suasana atau gambaran yang ada didepan kita.

Contohnya, suatu hari saya jalan-jalan di desa sebelah saja dengan keluarga. Saat capai, kami memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah pos kamling bambu sederhana. Dari tempat saya duduk terlihat sebuah rumah tua. Pemiliknya duduk tenang penuh kepasrahan di serambi. Dari suasana gambaran itu terbersitlah untuk menulis puisi. Corat-coret di catatan HP, sambil menunggu suami yang sedang memperbaiki sesuatu milik kenalannya yang rumahnya dekat situ. Menggunakan kata-kata sederhana saja, tertulislah puisi Rumah Tua di Ujung Desa.



Rumah Tua di Ujung Desa
By: Misis Dewi_April

Jalanan bertata batu itu hampir berujung
Disambut jalan tanah setapak

Bersemak rerumputan
Berhias tinggi pepohonan,
dedaunan singkong yang berkerubung, 
dan gerumbulan kacang tanah
Mengapit lambaian pucuk jagung
Di sisi kuburan tua

Matahari belum lama meninggi
Perempuan tua duduk memangku caping
Di bangku kecil kayu mahoni
Depan beranda berlantai tanah kering 
sepi sendiri

Harum bunga kacapiring
Menguarkan kerinduannya
Akankah rumah ini kembali penuh tawa
Saat lebaran nanti tiba
Memecah sepanjang tahun yang hening

Perempuan tua tetap menunggu
Duduk besenandung kidung lama
Tentang penerimaan, bukan air mata
Di depan rumah kecil berdinding kayu 
Tepat ujung jalan sebuah desa

sederhana dalam sunyi 
penuh kepasrahan

Perasaan juga salah satu sumber yang LDA. Isi hati kita sendiri bisa jadi ide, sesuatu yang paling lekat dengan diri kita, bukan?

Misalnya, pernah suatu saat saya merasa kesal sekali pada sekelompok orang. Dalam perasaan saya, mereka itu kok seringnya mencoba membuat saya tampak buruk. Apa yang saya lakukan mereka benci. Nah daripada saya marah - marah meluap ke mereka, saya tuangkan saja persaan yang saat itu lekat dekat pada saya.

Ada selembar kertas, saya corat coret saja semau kata yang keluar. Tanpa edit. Tak apa jika bentuknya pun tak serupa bentuk bait-bait puisi. Setelah merasa lega, beberapa waktu kemudian tulisan itu saya tulis ulang di catatan hp. Sret sret edit sana sini. Plus dipermanis dengan Canva. daan ini hasilnya :



Bahkan kemudian puisi itu saya tulis ulang ke bahasa Inggris. Hehehe biar legaa persaannya. Bagi saya, menulis itu menenangkan. Lengkapnya dapat dibaca di sini:
Belajar-menulis-puisi-dan mempercantiknya dengan Canva

Nah, Sahabat Belajar, tidak sulit bukan menulis puisi? Ayo cobalah menulis sebuah puisi dari sesuatu yang sudah begitu akrab dan dekat dengan keseharian Sahabat. Tuangkan emosi dengan pemikiran yang penuh imajinasi. Langsung tulis kata-katamu. Karena penulis puisi favorit saya, Robert Frost, mengatakan bahwa puisi itu adalah ketika emosi menemukan pemikirannya, dan ketika pemikiran itu kemudian menemukan kata-kata yang pas untuk menuangkannya.
So, just write your own words!


Salam Saung Belajar,

blogger tamplate

 thema gratis blogger terbaru blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template blogger template b...