Minggu, 31 Maret 2019

Orang-Orang Biasa by Andrea Hirata; Sebuah Kisah Luar Biasa dari Orang Biasa


Memangnya apa yang orang-orang biasa dapat lakukan?
Woii, bisa dahsyat boi!
Ketika sisi kemanusian mereka terus terhimpit. Dan ketika kemudian satu-satunya impian mereka terancam tak bisa terwujud. Maka kemudian mereka, para orang biasa yang bodoh dan miskin ini akan kembali solid bersatu. Mereka bisa melakukan apa saja, bahkan melakukan penyergapan yang dikenang sepanjang sejarah. Seperti kisah yang bisa kau dapati di buku ini.

About OOB

Ini adalah karya fiksi TERBARU dari Andrea Hirata. OOB adalah singkatan dari judul novel ini; Orang – Orang Biasa. Novel ke – 10 yang diterbitkan Andrea Hirata bersama Penerbit Bentang Pustaka.
Sungguh tak kecewa saya mengikuti PO buku ini. Kisahnya yang setebal 262 halaman langsung saya habiskan dalam waktu semalam saja. Lebih karena penasaran dan tak sabar menebak endingnya.

Yang lebih istimewa, buku saya ini ada tanda tangannya si penulis. Aww, ini bener lho tanda tangan bulpen bukan scan nan, Andrea Hirata gitu loh. Sensasinya jadi makin melankolis gitu. Penulis kesukaan saya menandatangani novel milik saya yang akan nangkring di rak buku rumah saya. Pokoknya something special deh.


Novel OOB ini memang awalnya dijual dengan sistem pre-order yang dibuka pada 28 Februari 2019 sampai 10 Maret 2019. Penerbitnya Bentang Pustaka, penerbit yang sama dengan karya – karya terdahulunya. Bentang Pustaka dan manajemen Andrea Hirata melibatkan 20 toko buku online dan 174 reseller di seluruh Indonesia. Kalau sekarang sih, anda bisa mendapatkan buku OOB ini di toko-toko buku terdekat, mulai 26 Maret 2019.

Covernya begitu tampak bold -  mecolok dengan dominan warna kuning. Menarik perhatian begitu saya membukanya dari sampul jasa pengiriman. Lebih menarik dengan kata-kata Jill Simmons, New York, yang menyatakan bahwa ‘ Ordinary People, destined to be the second international bestseller..’

Menurut dia, OOB ditakdirkan menjadi karya yang akan jadi best seller secara internasional kedua dari penulis Andrea Hirata, setelah Laskar Pelangi. Ya, Laskar Pelangi sampai saat ini telah sukses diterjemahkan dalam 25 bahasa asing. Wah pujian terhadap OOB ini sungguh mengandung harapan dan doa yang dahsyat!

Sekarang mari kita lihat sedahsyat apa jalan ceritanya.

Kisah dalam Novel OOB

Ini adalah kisah sekumpulan sepuluh orang-orang biasa, kelompok kaum marginal, yang sedemikian gigih untuk mengupayakan mimpi anak teman mereka. Apa saja mereka akan lakukan, termasuk melakukan tindak kriminal.

Ada pelaku kriminalitas, pasti ada tokoh polisinya. Dan itulah yang menjadi setting awal pembuka cerita di novel ini. Kisah ini dimulai dari kegelisahan seorang tokoh bernama Inspektur Abdul Rojali dan bawahannya yang selalu setia, Sersan P. Arbi. Seorang tokoh penegak hukum tua dengan motor bebek butut yang teguh pendirian untuk selalu menjadi polisi jujur, berada di jalur yang lurus meski tanpa kekayaan melimpah. Sebuah jalur dari penegak hukum yang menempatkan pengabdian dan kejujuran di atas segalanya.

Memangnya apa yang bisa dilakukan penegak hukum yang pikirannya sepolos itu?
Jangan salah kalian menilai. Kalian tahu hal apa yang paling ditakuti oleh penjahat - penjahat dimuka bumi ini?
Ketahuilah bahwa sesungguhnya :

"Tak ada yang lebih ditakuti penjahat selain penegak hukum yang jujur" (hal.15)

Dikisahkan Inspektur Abdul Rojali menatap sendu papan tulis lusuh di kantornya. Tertulis statistik kejahatan di kota Belantik yang semakin minim. Orang-orang nya tetap banyak yang bodoh dan miskin tapi naif. Warganya sepertinya sudah lupa bagaimana bertindak jahat.

Di kemudian hari ternyata sepuluh orang biasa lah yang menjungkirbalikkan data – data kriminalitas itu. Sepuluh orang-orang yang sangat biasa malah, yang saling bersahabat sejak SMA. Mereka sering bersama karena merekalah kelompok siswa terdungu yang ditempatkan di bangku-bangku paling belakang. Satu persatu mereka drop out dari SMA tersebut. Tingkat kemampuan akademik mereka yang tiarap makin mengenaskan dengan keadaan kemiskinan turun temurun dari keluarga-keluarga mereka. Bullying pun sudah jadi makanan sehari-hari. Sungguh kombinasi yang tragis.

Kesepuluh orang biasa ini saat dewasa kemudian bekerja seperti selayaknya orang-orang biasa putus sekolah dan miskin lainnya. Ada yang jadi tukang gali kubur, pengangguran, kerja serabutan, kuli panggul dan sopir mobil pembersih septik tank. Pimpinan mereka adalah Debut Awaludin, yang kemudian memiliki toko buku kecil di kota itu. Toko buku ‘Heroik’ namanya. Karena menurutnya:

Berjualan buku di negeri yang penduduknya tidak suka membaca adalah tindakan heroik. (hal.37)

Debut yang idealis ingin mencerdaskan kehidupan rakyat dan kehidupan pemerintah padahal kenyataannya kehidupannya sendiri selalu morat-marit. Toko buku tetap sepi.

Pemicunya adalah impian seorang gadis kecil bernama Aini. Anak salah satu anggota sepuluh orang-orang biasa tersebut. Ibunya, Dinah, adalah penjual mainan asongan yang dulu waktu SMA bebalnya bukan main dalam urusan hitung menghitung. Kemiskinan semakin mencekik ketika kemudian bapak Aini sakit parah. Tujuh bulan Aini tak sekolah merawat bapaknya saat  ibunya kerja banting tulang untuk biaya hidup dan pengobatan.

Penyakit ayah Aini makin parah dan hidupnya pun kemudian berakhir di ruang sebuah Puskesmas kecil. Semakin menyedihkan saat kemudian adiknya dinyatakan mulai mengidap sakit yang mirip ayahnya. Petugas Puskesmas mengatakan hanya dokter ahli yang dapat tahu dan menyembuhkan penyakit adikny dan almarhum ayahnya. Sejak saat itulah Aini bertekat ingin jadi dokter ahli.
Aini boleh saja sama bodohnya dengan ibunya, Dinah. Tapi bedanya Aini tak mau menyerah begitu saja. Ditengah kemiskinan dan kesulitan hidupnya, jumpalitan dia mengalahkan rasa mualnya saat menghadapi matematika yang menjadi momok pelajarannya. Pada akhirnya Aini berhasil meningkatkan nilainya dan bisa masuk universitas kedokteran sesuai impian yang begitu berat dia perjuangkan.  Tapi apa daya, biaya masuk universitas kedokteran sangat mahal. Dinah sudah berusaha pinjam kemana-mana tapi tak pernah berhasil.

Kesepuluh orang-orang biasa itu kemudian berkumpul kembali. Mereka bertekat membantu Dinah mendapatkan uang untuk kuliah. Apapun caranya. Impian Aini adalah impian mereka. Sesuatu yang kemudian memantik semangat karena selama ini, mimpi pun mereka tak pernah berani.

“ .. Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani.  Padahal kecerdasan mereka bisa diadu! Ilmu seharusnya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan! Para pemimpin, birokrat, politisi, sibuk dengan periuk belanga sendiri...” (Debut, hal 118)

Ya, apapun akan mereka tempuh, Aini harus masuk sekolah kedokteran. Apapun – termasuk melakukan kejahatan sekalipun.  Kemudian alur cerita berikutnya adalah bagaimana aksi-aksi kesepuluh orang biasa itu merencanakan dan mengeksekusi kejahatan demi mendapat jutaan uang biaya kuliah Aini.

Pendapat Saya akan Novel OOB

Ini dalah pertamakalinya, Andrea Hirata menulis novel dalam genre crime. Sebuah hal baru dalam karier kepenulisannya. Tapi tokoh-tokohnya tetap konsisten pada tokoh orang-orang marjinal, seperti apada karya-karya dia sebelumnya.  Tokoh-tokoh orang-orang biasa dengan mimpi besar yang tak berani diucapkan. Orang-orang yang kadang tersisihkan atau bahkan dipandang sebelah mata.
Getir memang.

Tapi jangan khawatir, Andrea Hirata tidak mencoba menuliskannya secara mengharu biru. Kata-kata dan dialog dalam novel ini tetap ringan dan penuh humor gaya lepau kopi budaya Belitong. Sebuah gaya sastra satire yang membalut berbagai kritik sosial dalam selera humor tingkat tinggi. Itulah mengapa saya selalu jatuh cinta dengan tiap karya Andrea Hirata.

Yang ada adalah saat membaca pahit getirnya kehidupan orang-orang biasa dalam novel ini, bisa saja mata setengah basah menahan ngilu, namun mulut tetap tak bisa menahan senyuman. Bahkan sesekali terkikik-kikik. Such beautiful mixed feelings.

Memang Andrea dalam acara jumpa press release novel ini menyatakan bahwa dia tidak mau menceritakan kisah orang susah yang pahit yang kemudian memaki-maki dalam keputusasaan. Lagipula orang susah tak punya banyak waktu untuk menangis tergugu. Tiap detiknya mereka harus berjibaku mendapat sesuap nasi untuk anak-anak mereka hari ini. Jelas meratap-ratap bukanlah pilihan. Maka menertawakan kegetiran adalah cara orang-orang biasa menyuarakan  ketidakadilan itu. Bahgia mereka bisa dari hal-hal sederhana saja. Dan itu sebenarnya sungguh jenius!

Kelebihan lain dari karya-karya Andra Hirata adalah pada unsur moral value yang diusung di tiap kisah. Termasuk pada novel Orang-Orang Biasa (OOB) ini. itulah mengapa setiap kali saya dan tim literasi sekolah mendapat tugas untuk mencari bahan bacaan siswa, buku-buku karya Andrea Hirata langsung  diborong. Itu karena karyanya termasuk kategori safe untuk anak sekolah, apalagi moral valuenya juga bagus.

OOB mengingatkan akan indahnya karakter intregitas. Sebuah karakter yang mendorong seseorang untuk selalu mengutamakan kejujuran dan menolak keculasan mulai dari hal-hal kecil. Kesulitan ekonomi  bukanlah alasan dari seseorang untuk tidak mampu menjaga integritas. Seperti kemudian bagaimana mereka akhirnya melunasi biaya masuk sekolah kedokteran Aini. Untuk prosesnya bagaimana, biarlah anda menikmatinya dengan membaca sendiri novel OOB ini. Termasuk pada alasan mengapa pada cover buku ini orang biasa itu memakai topeng kera di kepalanya. Tak akan asyik kalau saya ceritakan keseluruhannya disini.


Banyaknya code switching.. atau pemakaian beberapa kata atau kalimat berbahasa Inggris dalam novel ini bisa saja kurang nyaman bagi beberapa orang. Misalnya di kutipan halaman 62 ini:
 Apa pun yang terjadi dipantau di tempat rahasia secara wireless lewat sistem remote surveillance.
Bagi beberapa pembaca yang awam sekali mungkin kurang paham, apalagi memang tanpa memakai catatan kaki sama sekali.

Hanya saja memang hal yang bisa agak menganggu adalah pada banyaknya penokohan di cerita ini. Banyangkan sekumpulan orang-orang biasa! Belum lagi nama anak istrinya. Belum lagi lingkaran tokoh di sekitar Inspektur dan sersan polos itu. Ditambah nama-nama guru sekolahan vilain atau tokoh jahat yang sejak SMA suka membuli sekelompok orang biasa itu.

Kalau saya sih enjoy saja. Tipsnya : tidak usah mencoba menghafal nama-nama tokoh tersebut saat membaca. Baca rilex saja, banyangkan saja anda sedang ngobrol ngalor ngidul dengan tetangga sambil menunggui anak main sepedaan. Biarkan saja mengalir dan ajaibnya nanti dengan sendirinya kita akan mengahafal tokoh-tokoh tersebut. Bahkan saya aja bisa membayangkan siapa yang cocok memerankan tokoh tersebut jika difilmkan. Hehe.. Agus Ringgo akan cocok jadi si idealis miskin, Debut. Dan Panji jadi si Inspektur polos. Ah, serunya kalau difilmkan dengan adegan  drama suspense sekelas Holiwood.

Overall, saya bilang novel ini keren. Jalan ceritanya cukup unik dengan twist mengejutkan di bagian akhir. Tokoh-tokohnya juga hanya orang-orang biasa yang bisa saja tampak unik  dengan pikiran-pikiran menakjubkan dan mudah bahagia dengan hal-hal sederhana. Terlebih lagi pesan moralnya pun sungguh menakjubkan.

Dan satu lagi, kisah dibalik pembuatan novel ini pun akan semakin membuat anda mengharu biru.  OOB memang ditulis dalam waktu singkat, 9 hari saja, dengan dorongan kisah nyata tetangganya, yang gagal masuk ke  sekolah kedokteran di Universitas Bengkulu karena tidak punya biaya. Anak itu bernama Putri Belianti. Gadis yang mimpinya telah padam ini masih sering menangis setiap kali dia melihat pengumuman tertanggal tahun 2013, yang berbunyi bahwa dia diterima di fakultas kedokteran Universitas Bengkulu. Dia gagal masuk lewat program bidik misi, mungkinkarena tahun2013 itu program bidik misi belum sebanyak sekarang. Sementara untuk masuk lewat jalur reguler,  Ayah ibunya tak sanggup mencari pinjaman untuk biaya uang muka.

Untuk itulah di bagian awal novelnya, Andrea menuliskan:

Kupersembahkan untuk Putri BeliantiAnak miskin yang cerdas, dan kegagalan yang getir masuk Fakultas Kedokteran, Universitas Bengkulu.

Yah, memang sih OOB ini hanyalah sekedar karya fiksi. Ini memang sekedar novel dengan tokoh rekaan. Tapi tokoh Putri Belianti ini adalah tokoh yang riil. Yang bisa saja nasipnya sama dengan beberapa anak-anak miskin tetangga disekitar anda.

Saya sungguh menikmati dan memaknai kisah di novel Orang-Orang Biasa ini, karena memang saya bagian dari orang-orang biasa itu. Kalau anda merasa berderajat tinggi dan merasa bukan kaum orang biasa, tak usahlah mencoba membaca novel ini. Kalau anda orang yang apatis, tak pedulian , menutup mata dengan kehidupan biasa orang-orang disekitar anda, tak usahlah mencoba memahami bahasa novel ini.

Karena memang gaya bicara orang biasa hanya dapat dimengerti oleh orang biasa juga. Bukan begitu, Boi?

Jika anda ingin membaca novel lain yang temanya semacam ini cobalah membaca 'The Girl who Saved King of Sweden" yang ditulis oleh Jonas Jonasson. Sama konyolnya, tapi bermakna dalam, dengan ide bahwa orang biasa saja bisa menyelematkan dunia! 
Di novelnya Jonas ini, tokoh orang biasanya adalah seorang gadis berkulit hitam miskin yang profesinya adalah penguras jamban. 

Bisa anda baca - baca ringkasan ceritanya di tautan ini:



Senin, 18 Maret 2019

Cokelat Rondo Kuning ; Bukan Cokelat Biasa


Cokelat memang banyak jenisnya. Tapi yang ini saya bilang bukanlah sekedar cokelat biasa.
Cokelat yang bernama Rondo Kuning ini dibuat dengan sepenuh cinta oleh masyarakat di pedesaan di Wilayah Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Dibungkus dengan penuh pengharapan akan adanya penghidupan yang lebih baik dari butir - butir kakao yang ditanam di pekarangan mereka.

Bantu Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan

Dengan membeli produk ini, kita akan membantu sepenuh cinta usaha pemberdayaan masyarakat di Girimarto. Kecamatan Girimarto yang terletak 24 km di sebelah timur kota Wonogiri ini, terdiri dari 12 desa dan 2 kelurahan,. 
Tahu nggak sih, ternyata Wonogiri tidak sekedar punya tiwul dan mete. Ternyata beberapa wilayah di Wonogiri cocok untuk tanaman kakao. Salah satunya di Girimarto ini, selain Kecamatan lain seperti Jatipurno, Slogohimo, Manyaran dan Ngadirojo. Kualitas kakao dari Wonogiri pun  ternyata termasuk kualitas nomer satu di area Jawa Tengah. Jumlah hasil panenan pun bisa dikatakan sebagai produsen kakao terbesar kedua setelah Kecamatan Batang. Inilah yang disampaikan oleh Pak Sudaryanto, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan terpadu satu pintu Kabupaten Wonogiri dalam acara temu UKM bulan Maret 2018 lalu.

Seorang warga menunjukkan pohon kakao (gambar diambil dari http://tremes.desa.id)

Pada tahun 1980 an, pemerintah memang menjadikan beberapa desa di wilayah Girimarto untuk percontohan penanaman kakao. Pada waktu itu ribuan bibit kakao disebar di berbagai desa tersebut.  Memang tidak selalu dikembangkan dalam perkebunan skala besar. Banyak masyarakat yang menanamnya dalam skala kecil di pekarangan rumah masing masing. Keberadaan pohon kakao itu menjadi salah satu penopang kelangsungan membayar spp anak-anak warga yang masih sekolah atau sekedar membantu agar periuk tetap terus mengepul.

Hanya saja para warga saat itu belum cukup menyerap pengetahuan dan pengalaman untuk merawat tanaman kakao tersebut dengan sebaik-baiknya. Apalagi mengolahnya menjadi produk jadi. Mereka tahunya hanya mengambili hasilnya seadanya kemudian dijemur dan akhirnya dijual ke pengepul dengan harga rendah.

Pada tahun 2015, Pemerintah daerah kemudian mencoba merintis kembali pengembangan kakao. Beberapa pohon yang kurang produktif diganti dengan bibit baru. Kemudian diajari cara merawat dengan lebih baik, misalnya cara pemupukannya, pengobatan penyakit dan hama, cara pemangkasan agar dahan-dahan antar pohon tidak saling bersentuhan, dan ada pohon pelindung dalam jarak tiga meter. 

Dengan adanya Badan Usaha Milik Desa atau BUMDES, perkembangan budidaya kakao semakin meningkat. Nah dengan adanya BUMdes ini, warga kan lebih mudah menjual hasil tanaman kakao mereka,dengan harga yang jadi cukup baik. Hasil panenan kakao warga tidak lagi dijual lewat tengkulak atau pengepul. Bumdes telah bisa menampung hasil panenan warga dan membelinya dengan harga lebih baik.

Tahun 2017, mulailah diupayakan mengelola sebagian hasil panenan biji kakao menjadi produk olahan dengan nama produk, Rondo Kuning. Pengolahan kakao menjadi olahan produk cokelat ini pusatnya di desa Giriwarno, dibawah BUMdes Rondo Kuning, Kecamatan Girimarto. Dengan mengembangkan produk olahan ini, harapannya pendapatan masyarakat akan lebih meningkat. Harga kakao akan lebih meningkat daripada jika semua dijual dalam bentuk biji kering seperti biasanya.

Nah, sekarang tahu kan, bahwa saat kita membeli produk olahan cokelat Rondo Kuning ini berarti kita telah membantu upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Memajukan kehidupan para petani di desa-desa. Untuk pendidikan anak-anak mereka yang lebih maju, untuk penghidupan yang lebih baik.

Legenda Rondo Kuning

Produk olahan cokelat ini diberinama Rondo Kuning berdasarkan cerita legenda yang beredar di desa Giriwarno itu. Namanya juga lebih mudah dikenali dan mudah diingat. Rondo adalah sebuah kata bahasa Jawa yang berarti Janda. Rondo Kuning berarti seorang Janda berkulit kuning. Ini seperti yang terdapat logo BUMdes Rondo Kuning.
Logo Bumdes diambil dari deskgram.net/bumdes_rondokuning
Begini nih kisah legendanya.
Pada jaman dahulu kalaaaa.... ada sebuah lahan yang merupakan tanah bengkok Demang Giriwarno. Waktu itu padi sudah nampak mulai menguning. Bulir-bulirnya merunduk sarat dengan biji padi yang penuh berisi. Seperti biasanya, warga desa mulai berkumpul untuk membantu memanen padi. Mereka akan mendapat upah berupa sebagian padi hasil kerjanya. 'Derepan' begitu istilah jawanya untuk kegiatan menuai padi. Dan upah menuai padi itu disebut 'bawon' dalam bahasa Jawa.

Warga dari luar desa Giriwarno pun banyak yang berdatangan untuk derepan di lahan persawahan yang cukup luas tersebut. Mereka yang datang kebanyakan dari warga yang ekonominya kurang mampu. Kebanyakan dari mereka berkulit hitam kusut dengan pakaian yang alakadarnya. Tapi  hari itu ada yang nampak berbeda, diantara para penderep itu. Seorang wanita cantik berkulit kuning berdiri ditengah sawah dengan luwesnya membantu menuai padi. 

"Hei, siapa itu?" bisik-bisik diantara penderep mulai terdengar. Yang dirasani hanya tersenyum manis dengan tetap menuai padi dengan ani-ani ditangannya. 
Seorang perempuan tua diantara mereka kemudian memberanikan bertanya,"Kamu asalnya darimana nduk, cah ayu?"

Perempuan cantik itu menghentikan sejenak gerakan ani-aninya yang selalu cekatan namun nampak luwes," Oh, mbok kulo niki namung rondo saking tebih."
Saya hanyalah seorang janda dari desa yang jauh dari sini, begitulah jawaban singkat dari perempuan cantik berkulit kuning itu.Rambut panjangnya tergerai rapi tersembul dibawah capilnya, sesekali mengombak saat angin menerpa.

Penderep lain yang mendengarkan mengangguk-angguk sebentar, merasa cukup mendapat penjelasan mengapa mereka belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Tak banyak percakapan hari itu. Semua harus bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan 'bawon' sebanyak-banyaknya, karena banyak sedikitnya upah mereka tergantung dari hasil yang mereka dapat masing-masing. 

Sore menjelang, setelah semua dipanen, semua pekerja mendapatkan 'bawon' mereka masing-masing. Tetapi ternyata wanita cantik yang mengaku janda tadi tidak ikut meminta upah. Wanita itu seperti menghilang begitu saja. Semua orang mencari disekitar sawah, tetapi rondo cantik berkulit kuning itu tak juga ditemukan.

Akhirnya warga tersebut menduga bahwa wanita cantik yang tadi ikut menuai padi bersama mereka, bukanlah orang sembarangan. Tidak mungkin orang biasa yang secantik itu ikut memanen padi dengan luwesnya dan kemudian menghilang secara misterius .Tanpa ada yang mengetahui entah kemana. Di sepanjang perjalanan pulang, mereka menceritakan kisah aneh tersebut kepada siapa saja yang mereka temui, kepada para tetangga di sekitar rumah mereka. Bahwa ada Rondo Kuning misterius membantu mereka panen dan menghilang di sawah tempat mereka bekerja tadi.

Warga semakin percaya bahwa Rondo Kuning itu bukan orang sembarangan saat hari demi hari area persawahan tersebut semakin bertambah subur dan tak kurang hasilnya. Sejak saat itu wilayah persawahan di desa GiriWarno tersebut disebut dengan 'Rondo Kuning.'

Varian Produk Cokelat Rondo Kuning 

Produk olahan BUMdes Rondo Kuning ada yang berupa cokelat batangan, cokelat bubuk dan kue. Kedepannya akan digali lagi kemungkinan produk olahan dari kakao ini. Tujuannya agar konsumen tidak bosan dan makin diminati. Hmmm... bisa diolah jadi apa lagi ya bubuk kakao ini?? 


 Saya sudah coba cokelatnya, enak lho. Rasanya memang cenderung ada bitter pahitnya gitu, karena memang bahan campurannya tak begitu banyak. Cokelat ini dipasarkan dengan harga Rp. 7.500 an per batang.Yuummmyy.. lumer dimulut. Kemasannya pun sudah dibuat menjadi semakin kece dengan kata kata menarik di tiap bungkusnya. Jadi sambil menikmati lumer cokelatnya, kita bisa cengar-cengir bahagiahmembaca kata-kata di bungkusnya.


Cokelat bubuknya juga syedaaap. Cocok untuk teman camilan saat cuaca sedang dingin gini. Ada kemasan sachetan dengan berat 60 gram dengan harga dibandrol Rp. 6.000 untuk yang mix dan Rp 7.000 untuk yang ori. Tersedia juga dalam kemasan bag 250 gram, dengan harga Rp. 34.000 untuk yang mix dan Rp.40.000 untuk yang ori. Saya nyobanya yang mix karena saya kurang suka yang agak pahit seperti yang ori. Untuk yang ori mungkin cocok untuk dijadikan campuran membuat cake atau cookies.



Untuk membuat minuman coklat dari bubuk cokelat ini, campur dengan air panas trus diaduk-aduk dan tadaa... hot chocolate is ready. Mau dijadikan es cokelat juga bisa, tapi aduk dulu dengan air hangat sedikit sampai larut baru kemudian ditambah air dingin dan es batu secukupnya.Pokoknya meskipun produk lokal, rasanya gak kalah bersaing deh. Hanya memang varian cokelat batangannya mungkin perlu ditambah dengan dikasih mede atau variasi lain biar lebih menarik.

Brownies Rondo Kuning yang Menggoda, harga Rp. 32 K

Browniesnya juga manteep.Brownisnya ini ada taburan keju, ceri dan kismis yang bikin tambah yummy. Cakenya juga moist, seperti brownis kukus merek yang terkenal itu. Kemaren sih langsung diserbu teman sekantor sih. hehe.. enak apa doyaan
Untuk yang pengen lihat lihat bisa ke fb nya Giriwarno Indah , atau https://deskgram.net/bumdes_rondokuning.  Kalau saya sih pesennya ke Mbaksay Endah Aryuningsih Tri Rahajeng .Diterne langsuuung ke SMA 2, free onkir deh. Thanks jeng. Bisa juga anda yang jauh mau order lewat https://shopee.co.id/rondo_kuning . Dan nikmati kelezatannya.
Cobain yuk...

"Chokelat itu layaknya kehidupan. rasanya manis dan sedikit pahit."
eaaa...
'Manis seperti saat disampingmu dan pahit saat jauh darimu'.


Minggu, 24 Februari 2019

LASKAR AKSARA; Upaya Menguatkan Karakter Gemar Membaca


Berita baiknya adalah : Semua sekolah di setiap jenjang pendidikan harus mengupayakan program untuk menguatkan karakter muridnya! 

Kurikulum pendidikan kita tidak sejelek yang diberitakan, kok. Belum sempurna, mungkin iya. Tetapi sebenarnya selalu ada itikat baik dari Pemerintah, sekolah dan guru untuk meningkatkan pendidikan anak-anak Indonesia. Dan itu perlu dukungan dan tauladan dari orang dewasa di sekitar anak juga lho, kakak atau orang tua dirumah , misalnya.

Salah satunya adalah gencarnya upaya mendorong sekolah untuk melakukan PPK ; Penguatan Pendidikan Karakter. Diharapkan nanti anak-anak kita tidak hanya cerdas - tapi juga berkarakter kuat dan baik. Mari kita dukung PPK ini yuk. Semua harus ikut terlibat demi masa depan anak -anak kita itu. Kalau meminjam istilah pakar Parenting Ayah Edi sih, Indonesian Strong from Home. Anak-anak kita itu kuat dari rumah. Dan sekolah akan membantunya.

Berikut ini sekedar sharing , contoh action plan program PPK di sekolah kami. Tentu saja tiap sekolah mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Program yang dilaksanakan juga bisa berbeda- beda dan fleksibel. 
Kebetulan berkat terlibat dan menuliskan program ini, tahun 2017 yang lalu , saya berkesempatan menjadi finalis lomba nasional di Jakarta. Lombanya diadakan oleh Kesharlindung Dikmen, sebuah instansi resmi pemerintah di bidang Kesejahteraan, Penghargaan, dan Perlindungan Guru. Nama lombanya; Lomba Inovasi Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa 2017. Alhamdulillah, guru ndeso seperti saya jadi bisa terbang gratis ke Jakarta. belum menang sih. Tetapi Alhamdulillah, pulangnya disangoni uang jajan yang cukup untuk beli laptop baru. hehe..Semoga bermanfaat


ACTION PLAN 

PROGRAM PPK di SEKOLAH


I. JUDUL : ‘LASKAR AKSARA: Ayo Baca – Ayo Berkarya!’ 

Sebuah upaya pengembangan dan pengoptimalan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di SMA
Buku terdiri dari aksara – aksara yang bermakna, dengan gemar membaca akan semakin banyak karakter baik siswa terbentuk. Program ini siswa akan dibentuk menjadi berjiwa laskar atau prajurit yang melakukan kegiatan ini dengan sepenuh hati dan penuh komitmen. Dengan tujuan akhir siswa akan meraih banyak manfaat dari program ini dan karakter baik mereka akan semakin berkembang. Kami menamai inovasi program ini dengan judul: LASKAR AKSARA. Dengan tag line sub-judul: Ayo Baca-Ayo Berkarya! 

II. LATAR BELAKANG MASALAH

Sejak tahun ajaran 2015/2016, SMA di Wonogiri telah melaksanakan program rintisan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sekolah kami memandang GLS sebagai sebuah upaya yang sangat positif untuk mengembangkan karakter positif siswa, terutama adalah karakter gemar membaca dan disiplin. Jika kedua karakter utama tersebut terbentuk dengan maksimal diharapkan beberapa karakter baik akan berkembang.

Membentuk karakter positif kepada peserta didik memang bukan hal yang mudah. Dengan kata lain, pendidikan karakter harus dilakukan secara kontinu, berkesinambungan, konsisten, dan melalui proses pembiasaan agar menjadi pemahaman yang menyatu dalam perasaan dan terefleksi dalam tindakan/ perilaku.

Beberapa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan panduan tahapan GLS. Kegiatan-kegiatan tersebut di lakukan oleh siswa dengan didukung kepala sekolah, guru –guru, orang tua dan seluruh stake-holder sekolah kami.

Sebagai contoh, sekolah kami telah menerapkan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum pelajaran, pengadaan lomba-lomba yang mendukung peningkatan gemar membaca, misalnya lomba menulis cerpen dan puisi, lomba membaca puisi, serta lomba perpustakaan kelas. Salah satu kegiatan yang terpenting lainnya adalah pengadaan pojok baca secara mandiri oleh siswa di setiap kelas.

Kami memandang semangat siswa untuk terlibat program GLS masih naik turun, belum konsisten merasuk menjadi bagian hidup essensial siswa. Masalah yang kami temukan di lapangan adalah: kegiatannya kurang menarik bagi siswa dan koleksi buku di pojok baca kelas banyak yang kurang berkualitas karena siswa banyak yang tidak mampu menyumbangkan buku yang baik di pojok baca tersebut.
Akibat dari masalah tersebut adalah program GLS tidak menjadi sarana yang optimal sebagai sarana unggulan di sekolah kami untuk pendidikan karakter. Maka kami ingin menyusun program GLS dengan branding yang diperbaharui : GLS menjadi program yang penuh dengan kegiatan yang menyenangkan dan menarik untuk selalu dilaksanakan.

III. INOVASI YANG DITAWARKAN

Kami menawarkan pembaharuan dan pengoptimalan program GLS dengan menamainya menjadi : LASKAR AKSARA: Ayo membaca-Ayo Berkarya!
Kegiatan – kegiatan baru dalam program tersebut meliputi:

1. ‘Tukar Sampahmu Jadi Buku’

Kegiatan ini terinspirasi dari kesuksesan beberapa komunitas yang telah berhasil mengumpulkan dana dari penerapan sistem bank sampah. Salah satu contoh terdekat adalah dari Bank Sampah Giri Tri Habsari yang terletak di lingkungan Wonokarto, satu kelurahan dengan area sekolah kami. 

Kami melihat sistem bank sampah dapat juga kami terapkan di sekolah kami. Hanya saja dana yang dikumpulkan nanti diperuntukkan untuk membeli buku yang ditempatkan di pojok baca kelas. Selama ini siswa menyumbang buku alakadarnya karena masalah kekurangan dana, dengan sistem ini mereka tidak perlu menyisihkan uang saku mereka yang pas-pasan untuk membeli buku untuk pojok baca. Mereka juga tidak perlu meminta kepada orang tua. Siswa dapat mengusahakan dana itu secara mandiri dengan mengumpulkan dan memilah sampah di sekitar mereka. 

Dalam hal ini kami batasi pada sampah kering non-organik semisal bungkus makanan ringan, botol dan kaleng minuman kemasan atau kertas bekas. Kami melihat sampah-sampah semacam itu cukup banyak dihasilkan oleh siswa itu sendiri di keseharian mereka. Dampak lain yang akan diperoleh adalah siswa akan menjadi peduli dengan sampah di sekitar mereka, dan tidak akan membuang sampah sembarangan lagi. 

Siswa juga boleh membawa sampah-sampah yang telah dipilah dari rumah. Dengan cara ini akan menghasilkan dana lebih besar dan lebih cepat. Selain itu yang lebih penting adalah bahwa siswa akan menjadi ‘agent of change’ , menjadi pelopor perubahan di rumah masing masing. Mereka akan menjadi pelopor untuk mengajak anggota rumah mereka untuk peduli sampah dan peduli untuk membeli buku agar lebih gemar membaca. 

Nasabah bank sampah ini adalah kelas-kelas di sekolah kami, bukan perorangan. Sebagai mana layaknya sebuah bank, setiap kelas sebagai nasabah akan memiliki sebuah buku rekening. Setiap hari Sabtu mereka menyetor sampah kemudian ditimbang dan dicatat sesuai nominalnya di buku rekening mereka. Dari uang yang terkumpul mereka dapat menukarkan dengan buku untuk pojok baca kelas. Pengelolaan Bank Sampah ini sekaligus menjadi media pembelajaran yang baik bagi mata pelajaran KWU (Kewirausahaan).

Buku-buku yang ingin mereka beli sebelumnya dibuat daftar dahulu, kami akan menamai daftar tersebut sebagai ‘Wish List’.  Daftar tersebut merupakan hasil diskusi siswa-siswa sekelas tersebut. Sebelumnya ‘Wish List’ ditunjukkan kepada guru wali kelas atau guru bahasa Indonesia untuk menentukan buku mana yang bermutu untuk ditempatkan di pojok baca kelas. Penukaran buku-buku tersebut dapat dilakukan lewat koperasi sekolah.

2. Kegiatan ‘HOLY FRIDAY’

Kegiatan hafalan ayat sesuai kitap suci yang dianut siswa. Misalnya: Hafalan ayat di Injil untuk siswa Nasrani, kegiatan hafalan surah Qur’an bagi siswa muslim, kegiatan membaca kitap suci agama masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Jum’at pagi pukul 07.00 – 07.15 WIB. Hafalan dan bacaan siswa dapat disetorkan atau dipantau guru – guru Agama saat pelajaran.

3. Kegiatan ‘CERITAKAN BUKUMU’

Kegiatan ini dilaksanakan setiap Senin, setelah upacara di lapangan. Siswa bisa sambil duduk-duduk istrahat di bawah pohon di area lapangan upacara. Pada setiap kegiatan, akan ditunjuksecara acak sejumlah 3 – 5 siswa untuk maju ke mimbar upacara, menyampaikan ringkasan singkat sebuah buku yang mereka baca minggu ini. 

Pada kegiatan ini sekaligus menyampaikan kelas yang sudah mampu menukar sampahnya jadi buku. Siswa yang tampil menceritakan buku dan kelas yang mampu menukar banyak buku akan mendapat apresiasi berupa hadiah

Siswa Menceritakan Buku yang dibacanya
4. Kegiatan ‘BOOK CARNIVAL’
Kegiatan ini dilaksanakan setiap akhir semester pada masa jeda setelah PAS (Penilaian Akhir Semester). Pada acara ini diadakan lomba-lomba yang menarik misalnya: 
  • Lomba Tahfidz Qur’an – lomba Hafalan ayat kitap suci lain
  • lomba pojok buku terbaik – terbanyak dan terbaik koleksinya dari hasil menukarkan sampah mereka.
  • lomba menulis puisi atau cerpen, lomba membaca puisi.
  • Bedah buku oleh pengarang populer
  • Bazaar Buku 
IV. TUJUAN

Dengan menata ulang pelaksanaan program literasi sekolah agar lebih baik dengan komunikasi efektif kepada semua warga sekolah, diharapkan gerakan literasi ini sekaligus sebagai sarana dalam implementasi pendidikan karakter di SMA.
Karakter yang ingin dikembangkan melalui program LASKAR AKSARA: Ayo membaca-Ayo Berkarya! adalah :

a. Karakter Gemar Membaca dan Disiplin sebagai karakter utama
Dua karakter utama tersebut merupakan modal penting bagi siswa bagi hidupnya. Saat kedua karakter itu menjadi bagian hidup siswa, maka otomatis karakter-karakter baik lainnya akan terbentuk sebagaimana dijelaskan berikut ini.

b. Karakter disiplin dan bertanggungjawab
Melalui kegiatan pembiasaan setiap pagi sebelum belajar, siswa akan jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Mereka akan bertanggungjawab pula saat mereka mengelola pojok baca kelas.

c. Karakter religius dengan kegiatan ‘HOLY FRIDAY’.

d. Karakter komunikatif , berani tampil dan menghargai prestasi.
Saat siswa terlibat dalam kegiatan ‘CERITAKAN BUKUMU’ dan ‘BOOK CARNIVAL’ siswa akan mengembangkan karakter komunikatif dan berani tampil dalam diri mereka. Saat berkompetisi, karakter menghargai prestasi juga akan terbentuk.

e. Karakter cinta lingkungan
Melalui kegiatan ‘Tukar Sampahmu Jadi Buku’ siswa akan mengembangkan karakter cinta lingkungan karena mereka peduli untuk memilah dan memberdayagunakan sampah untuk menjadi barang bermakna.

f. Karakter kreatif dan bertanggungjawab
Saat siswa sudah berhasil menambah banyak buku bermutu dengan menukarkan sampah mereka jadi buku, mereka akan lebih terdorong untuk mengaktifkan pojok baca. Mereka akan lebih kreatif mendesain pojok baca dan bertanggungjawab mengurus buku di pojok baca tiap kelas itu.

V. MANFAAT
  • Manfaat jangka pendek : siswa dan seluruh warga sekolah akan lebih tertarik mengikuti program pembaharuan GLS  : LASKAR AKSARA: Ayo membaca-Ayo Berkarya!
  • Manfaat jangka menengah: siswa dan seluruh warga sekolah sudah semakin terlibat dengan antusias mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan di program ini. Karakter-karakter baik siswa semakin terbentuk.
  • Manfaat jangka panjang : karakter –karakter baik tersebut sudah meresap menjadi bagian hidup siswa dan seluruh warga sekolah.
VI. SUMBERDAYA PENDUKUNG
SMA N 2 Wonogiri mempunyai sumberdaya pendukung yang baik untuk kesuksesan pelaksanaan program ini, antara lain:
  • SDM (Sumber Daya Manusia) dengan jumlah banyak dan mempunyai cukup komitmen untuk mencapai karakter-karakter yang baik melalui pengoptimalan GLS 
  • Sarana –prasarana yang cukup baik di tiap kelas, misalnya : sekolah sudah menyediakan rak untuk pojok baca kelas sebagai wadah buku sumbangan siswa.
  • Sekolah kami mempunyai lahan yang luas sekitar 4,3 Ha. Lahan yang sangat luas tersebut mendukung berbagai kegiatan yang akan dilakukan.
VII. ALUR BERFIKIR
before
after
VIII. SIMPULAN

Dengan pelaksanaan program: LASKAR AKSARA: Ayo membaca-Ayo Berkarya! siswa dan warga sekolah akan lebih tertarik untuk mengoptimalkan GLS sebagai sarana pendidikan karakter. Dengan program karakter –karakter yang akan berkembang antara lain: gemar membaca, disiplin, bertanggungjawab, religius, kreatif, komunikatif –berani tampil, menghargai prestasi dan cinta lingkungan.

Ayo susun action plan mu sendiri. Kita kuatkan akar pekerti anak-anak Indonesia bersama-sama. Menuju Generasi Emas yang bukan sekedar impian semata.


Senin, 18 Februari 2019

Mewarnai Akal Mengakarkan Pekerti


Apa warna akal mereka? 
Sepertinya hijau. Tampak menyeruak diantara rapinya barisan mereka di upacara bendera pagi ini. Terus bertumbuh. Menjulang. Ingin menjadi yang tertinggi.

Lalu apa yang salah ketika siswa-siswa di negara ini diklaim memiliki tingkat pencapaian pendidikan tidak terlalu tinggi?  Dengan tempat peringkat 62 dari 72 negara di dunia. Benar adanya, itu bukanlah peringkat yang mengagumkan untuk sebuah negara dengan sumber daya melimpah ini. Bahkan kalah tertinggal dengan negara kecil  tetangga. Singapura duduk takzim di antara urutan teratas. Penelitian itu sungguh tidak seindah hijau yang kulihat di pendar akal mereka hari ini.

Kemudian mulailah saling menyalahkan

Berapa harga akal mereka? Apakah setara dengan harga 20 persen anggaran pemerintah yang dialokasikan di bidang pendidikan itu? Wah jangan main-main. Itu harga peringkat keempat tertinggi dari negara didunia pada alokasi anggaran pendidikan. Pemerintah berkilah telah menginvetasikan banyak sumber daya di bidang pendidikan. Tidak semua negara melakukannya.

Sebagian mulai mempertanyakan kredibilitas PISA sebagai program penguji kualitas pendidikan itu. Asal tahu saja ya. PISA (Programme for International Student Assessment) itu  adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains untuk siswa sekolah berusia 15 tahun di berbagi belahan dunia.  PISA merupakan studi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada tahun 2000, 2003, 2006 dan seterusnya.  Dan hasil diatas adalah hasil PISA 2015 yang dirilis Desember 2016 lalu.

Sehebat apa sih si PISA itu sampai berani memberi warna coklat selayu daun kering untuk akal anak-anak kita ini? Membuat geram. Meradang. Walau kemudian takluk pada kenyataan bahwa PISA memang menyajikan bukti ilmiah yang sangat kuat. Diakui secara internasional.

Beberapa mulai menggerutu pada kurikulum. Yang lainnya meruntuki guru yang tidak kunjung cakap menyampaikan materi. Sisanya duduk jongkok tak peduli di pinggir sungai sambil ngupil. Tak peduli. Bodo amat dengan segala yang katanya carut marut di dunia pendidikan. Selama nasi masih mengebul cukup untuk sekedar makan tiga kali; buat apa memikirkannya.

Dan lihatlah saat kita mulai sibuk saling menyalahkan, anak-anak kita itu akan semakin kehilangan pendar warna kehijauan itu. Dan pada akhirnya kenyataannya adalah : Blaming others will get you nowhere!

Waktunya Berkaca dan Peduli

Sungguh tak ada yang salah dengan dasar pendidikan kita. Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai hari pendidikan, sebenarnya telah meletakkan pondasi yang sangat kuat untuk pendidikan di negara kita ini. Ki Hajar berpuluh tahun  yang lalu telah dengan tegus menyatakan bahwa Pendidikan itu ya harus meliputi tiga hal secara menyeluruh-tidak boleh dipisahkan- tidak boleh saling mengenyampingkan: Olah Akal – Olah Rasa – Olah Raga.

Jangan- jangan saat ini kita hanya sibuk mengolah akal anak – anak kita ini. Sedikit memberi ruang untuk mengolah raga dan pekerti mereka. Sibuk mengajari mengeja membaca per kalimat di  buku , tapi lupa mengenalkan indahnya karakter gemar membaca.

Berjibaku membuat mereka tangkas berhitung , tapi mengenyampingkan dahsyatnya karakter ingin tahu – mematikan berpikiran kritis mereka dengan sekedar hafal rumus bangu ruang dan perkalian.
Menyempatkan ribuan jam untuk menghafal ratusan teori rumus tapi menempatkan sedikit waktu untuk mengembangkan karakter peduli mereka. tahu  teori tapi tak paham cara menerapkannya.

Hey, Character Matters !

Charater matters - mewarnai akal itu memang penting - tetapi mengakarkan pekerti pun tak kalah pentingnya. Membangun akhlak dan karakter sangatlah penting. Bukan sesuatu yang layak dikesampingkan atas nama nilai pengetahuan semata.

Anak-anak kita  itu hanya seperti pepohonan di atara rimbunan hutan . Warnai hijaunya agar selalu bersinar. Tapi jangan lupa menjaga akar pekertinya untuk tetap mencengkeram erat. Hingga nanti saat badaipun-kelak mereka akan tetap menjulang. Diukur dengan metode pengukuran apapun mereka akan tetap jadi diantara yang tertinggi.

Tapi maaf saya beri tahu sedikit rahasia ya. Guru tidak bisa melakukan itu sendirian. Pemerintah tak akan jalan kebijakannya. Tanpa dukungan anda semua- ayah bunda hebat di luar sana.

Sehebat apapun guru dan kurikulum yang dibuat pemerintah, semua itu tak akan bisa menghebatkan anak-anak kita – jika tanpa dekapan yang kuat dari ayah bundanya di rumah. Jika tanpa dasar warna hijau yang kuat dari rumah. Jika tanpa pondasi akar pekerti yang kokoh dari rumah.

Selamat  mendidik. Sejenak luangkan waktu hari ini – menghargai warna akal mereka. Mengakarkan pribadi mereka.Dan lihatlah kelak mereka akan terus bertumbuh .Lebih tinggi dari pohon manapun. 

Minggu, 17 Februari 2019

Racing to The Sunrise at Merapi


Do you dare to challenge your self for a jeep riding up to Merapi Volcanic Mountain? Early at dawn?

About Merapi Jeep Lava Tour

Jeep Lava Tour has become one of the favourite tourist attractions in Merapi  recently. We can find it at Kaliurang, about 23 km from Jogjakarta. It is called Jeep Lava Tour because by riding an off-road jeep , we’re going  to explore the paths where the lava flowed at the big eruptions in 2010.  While riding the jeep, we can enjoy the fresh natural scenery of Mount Merapi and the remnants of the previous eruption. Well, it won’t be such a smooth journey, but it surely brings so much fun!

There are various offers that you can choose, depends on the length of the routes. They are: Short Trip, Medium Trip and Long Trip. Some agency even add Sunrise Trip, Sunset Trip or Night Trip. You can check it online before deciding which one to choose. There are many tour agencies which give complete description of each package. We can find it or book a trip by clicking www.traveloka.com , tripadvisor,  www.tourmerapi.com , www.lavatourmerapi.online  or  www.yogya-backpacker.com    
Sunrise picture taken from www.yogya-backpacker.com

Each agency may offer different route for each package. They may also have different rates of cost for each package.

Off We Go! The Sunrise Trip

The Sunrise package that we chose that day visited Bunker Kaliadem, Alien Stone, Remnants Treasure Museum (Museum Sisa Hartaku) and had some water splashes at Kali Kuning. I and my colleagues ordered the trip the night before at the hotel we stayed, Villa Eden 1. The Manager of the hotel kindly ordered three jeeps for us. Each Jeep carried four passengers. We paid Rp.400.000 per jeep. The trip lasted for about 1,5 – 2 hours.


We woke up early that day. After having Subuh pray at 04.15 WIB, we rushed to the lobby of the hotel. Can’t wait for the journey! Brrr.. it was so cold outside and oh my! I forgot my jacket. But the jeeps had been ready in front of the hotel. No time to go back to room. The sunrise couldn’t wait. “So off we go! Don’t mind about the jacket.”

Hmm..the first lesson for me is : Next time prepare well for a trip, instead of chatting too much in excitement. For the sunrise trip, it’s better for you to wrap yourself with a warm sweater, a jacket ,with a muffler or shawl. It was at the beginning of rainy season so the dawn was even colder. Even though it wasn’t the best season to enjoy Merapi, we’re lucky because it wasn’t raining hard that morning.

The roads were not crowded that early morning. That’s the plus point of having the sunrise trip. At the midday the numbers of the jeeps might be too many. The number of the trips increased a lot during the weekend, the driver explained. Another plus is: we didn’t get too much dust as the roads‘re not dry yet. And the best part is:  Having the very fresh air of the new  day! It feels like refuelling our lungs with fresh clean air at dawn.

Bunker Kali Adem and Batu Alien

The First stop was Bunker Kaliadem. We were told by our friendly jeep driver that we would watch the sunrise there. The sun rises from the eastern side of Merapi and Bunker Kaliadem is the best place to enjoy it. But we didn’t bring to much expectation for an overwhelming sunrise that morning. Well, it was a dawn at a rainy season. Thick clouds  and fogs were everywhere. We didn’t meet the sunrise actually. However, we felt- we were lucky enough as the fogs were not really thick and the clouds opened a little while; allowing us to enjoy the awesome scenery of Merapi Mountain.

The paths were slippery as the result of the rains last night. Wearing good sneakers were good choices . At Bunker Kaliadem, we would walk up to the spot.


There are many beautiful instagramable spots where we can take pictures or have thousands selfies at Bunker Kaliadem and Alien Stone. Our jeep driver kindly offered himself as photographer during the journey.

At Alien Stone, or Batu Alien as local people said, we can see big stone which was thrown away from the peak of the mountain during the big explosion at 2010. According to the villagers, the stone wasn’t there before the eruption. I found a food stall at the Alien Stone area. I enjoyed a glass of hot tea and a small portion of breakfast with hot dishes called ‘Jangan Lombok’ and fried tempe. There were some small shops selling merchandise, too.

Enjoying Splash of Water at Kali Kuning                     

The next destination of this package was a small river namely Kali Kuning. Yuhuuu.. we would be wet here! It was full of fun and screaming.

The driver will add some speed as the jeep racing across the river to create more splash. “More! More!” we spoke out excitedly. And Brrummm..brummm.. the driver turned twice or three for another splash of water.
Here is the video :